Sahur On The Road, Sunnah Atau Bid'ah?

Sahur On The Road, Sunnah Atau Bid'ah? - Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA - Kajian Sunnah Tarakan
Sahur On The Road, Sunnah Atau Bid'ah?
Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA
 
Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mohon bertanyan ustadz.

Apa pandangan ustadz tentang fenoma yang marak di malam-malam bulan Ramadhan, yaitu aksi Sahur On The Road (SOTR). Apakah kegiatan ini bernilai syar'i dan merupakan bagian dari syiar Ramadhan? Ataukah justru sebaliknya? Mohon penjelasan dari ustadz.

Sebelumnya syukran atas jawabannya.

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Entah siapa yang mengawali trend ini, yang pasti belakangan ini Sahur on The road (SOTR) sudah menjadi suatu kebiasaan sebagian masyarakat baik di Jakarta bahkan daerah lainya.

Ribuan siswa, mahasiswa, komunitas, club, instansi dan lainnya berkeliling kota menyusuri jalan-jalan di tengah malam dengan membawa bungkusan yang berisi makanan dan membagi-bagikannya kepada gelandangan, pengemis, tunawisma dan lainnya.

Yang diberikan umumnya nasi bungkus dengan menu yang berbeda-beda tentunya. Niatnya mulia, yaitu sebagai bentuk kepedulian sosial, berbagi nikmat kepada orang-orang yang tidak mampu agar bisa bersahur.

Memang benar bahwa awalnya sahur on the road itu ingin berbagi kepada fakir miskin, agar bisa ikut menjalankan salah satu sunnah nabi, yaitu makan sahur. Makanya, dalam prakteknya sahur on the road itu intinya berkeliling membagikan makanan kepada orang-orang yang membutuhkan.

A. Masalah Syariah

Meskipun pakai istilah sahur, namun kalau sahurnya di jalan alias sahur on the road, sebenarnya sama sekali tidak ada perintahnya dari Rasulullah SAW. Sahurnya memang sunnah nabi, tetapi on the road-nya itu abal-abal alias tambahan yang tidak jelas dasar masyru'iyahnya.

1. Kenapa Sahur Harus di Jalan?

Yang jadi masalah, kenapa sahur itu harus di jalanan?

Mungkin jawabnya karena yang mau diberi nasi bungkus itu adanya di jalan, maka kita turun ke jalan untuk langsung memberikan nasi bungkus kepada mereka. Sebuah jawaban yang masih logis dan masuk akal.

Tapi pertanyaan berikutnya muncul, yaitu kenapa orang-orang itu malam-malam harus ada di jalan? Apa mereka tidak tidur? Sedang apa mereka malam-malam di jalan? Apa mereka tidak punya rumah tempat tinggal? Ataukah memang sengaja malam-malam keluar rumah dan turun ke jalan?

Mungkin jawabnya bahwa mereka itu gelandangan yang memang tidak punya rumah, jadi malam-malam mereka keluyuran di jalan. Jadinya, peserta SOR pun harus turun ke jalan.

Kalau memang mereka gelandangan betulan, tentunya mereka tidak perlu turun ke jalan. Sebab mereka pasti akan tidur di emper toko atau di kolong jembatan, setidaknya mencari tempat bernaung apa saja. Intinya, bukan berada di jalan.

Maka kalau pun mau memberi mereka nasi bungkus, tentu memberikannya bukan di jalan, tetapi di pusat konsentrasi mereka berkumpul. Lalu apa hubungannya para gelandangan itu dengan para mereka yang malah konvoi keliling kota dalam jumlah besar dan bikin macet jalanan?

Disini sebenarnya sudah ketemu titik penyimpangannya, bahwa memberi nasi bungkus itu ternyata hanya alibi dan alasan yang dibuat-buat. Sebab yang terjadi malah arak-arakan arogan di jalan ketimbang membagikan nasi bungkus.

2. Benarkah Gelandangan Itu Dijamin Semuanya Berpuasa?

Ini pertanyaan kedua, yaitu para gelandangan dan mereka yang kita usahakan untuk dibagikan nasi bungkus di tengah malam itu, apa benar mereka puasa di siang hari? Dan apa benar seusai sahur mereka shalat subuh?

Memang kita tidak boleh su'udzdzan dan harus berbaik sangka kepada setiap orang. Cuma fakta di lapangan seringkali menunjukkan bahwa di siang hari, mereka yang malamnya kita kasih nasi bungkus itu ternyata tidak puasa juga.

Kalau ternyata mereka tidak puasa bahkan tidak shalat shubuh, sebenarnya apa perlunya kita sebut kegiatan itu sebagai sahur? Bukankah sahur itu adalah makan sebelum shubuh karena setelah itu mau berpuasa?

Kalau mereka tidak puasa, namanya harus diganti menjadi makan malam on the road, atau nasi bungkus on the road, jangan pakai istilah sahur.

B. Masalah Teknis

Di luar masalah syariah di atas, dalam prakteknya, ternyata aksi kepedulian yang gandrung dilakukan anak muda ini justru sering menjadi salah kaprah. Misalnya mereka malah merusak lingkungan dengan aksi corat-coret tembok, sebagaiannya justru bawa senjata tajam, melakukan penyerangan dan tindak anarki, bahkan hingga tawuran masal.

1. Aksi Corat Coret

Salah satu contohnya yang terjadi di Kota Bogor, banyak sekelompok anak muda melakukan aksi vandalisme atau corat-coret di tempat umum saat SOTR. Di underpass Baranangsiang, ada coretan cat semprot berwarna hijau bertuliskan kata "SOTR" dan identitas salah satu sekolah swasta di Bogor.

Bahkan, tembok Istana Bogor pun menjadi "korban" kejahilan anak muda yang melakukan SOTR. Pagar putih yang menjadi benteng Istana Bogor dirusak dengan adanya coretan cat semprot bertiuliskan "PDN SOTR".

2. Bawa Senjata Tajam

LIMA pelajar ditahan petugas Polsek Tanah Abang karena kedapatan membawa senjata tajam berupa celurit pada saat sahur on the road (SOTR), kemarin. “Sekitar pukul 01.30 WIB pelaku yang berinisial ILH, 18, dan sekelompok temannya diperiksa petugas yang berpatroli di Jalan Asia Afrika.

Saat diperiksa, ternyata di balik bajunya kami temukan celurit dengan gagang biru sehingga pelaku akhirnya kami bawa ke polsek,“ ungkap Kapolsek Metro Tanah Abang AKB Anom Setyadji. Akibat perbuatannya, ILH, warga Jalan Swadarma Raya Kampung Baru II, Kelurahan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, akan dikenai undang-undang darurat.

Empat rekannya sudah dibebaskan setelah dijemput pihak keluarga.
“Diduga kegiatan SOTR mereka ini hanya bersifat konvoi, tidak ada kegiatan sosialnya. Supaya aksi kejahatan jalanan tidak terjadi lagi, kami akan terus lakukan pencegahan dengan mengedepankan patroli wilayah,“ tutur Anom

3. Keroyokan

Kalau sudah bawa senjata tajam, maka ujung-ujungnya bisa ditebak, yaitu aksi kekerasan yang terjadi.

Contohnya adalah Karisma Kemal (19) yang harus masuk ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) akibat menderita luka tusuk di bagian punggung, tangan, perut serta luka memar di wajahnya. Luka tersebut diperolehnya lantaran dikeroyok dan dibacok oleh puluhan orang yang berkonvoi melakukan Saur On The Road di Jalan S. Parman, Palmerah, Jakarta Barat.
Menurut saksi mata Ashadi Basri (40), korban dikeroyok saat dirinya sedang melintas di lokasi kejadian dengan menggunakan sepeda motor. Tiba-tiba korban yang tercatat warga Kemanggisan itu langsung di keroyok oleh puluhan orang.

"Dia lagi naik motor, tau-tau langsung di keroyok dan dibacok," ujar Ashadi, Senin (21/7/2014) dini hari.

Kata dia, pelaku yang berjumlah puluhan itu melakukan konvoi dengan sepeda motor dan membawa senjata tajam. Usai menyerang korban, puluhan orang tersebut langsung meninggalkan korban yang sudah tergeletak di jalan dengan bersimbah darah.

4. Konvoi Yang Mengganggu

Inti kesalahan SOTR adalah konvoi kendaraan bermotor yang mengganggu pengguna jalan. Sebab konvoi ini selain bikin macet jalanan, juga sering tidak mengindahkan keselamatan berkendara dan berlalu lintas. Jarang sekali pengendara sepeda motor yang memakai helm. Malah sepeda motor pun sering dinaiki bertiga melebihi kapasitas. Dan tidak sedikit mereka yang naik ke atas kap mobil sambil berjoget-joget, tanpa mengindahkan faktor keamanan.

Yang paling bikin kacau adalah kebiasaan mereka yang dengan arogan menutup perlintasan dan mengabaikan lampu lalu lintas, untuk mendahulukan konvoi yang amat panjang itu. Akibatnya, perjalanan lalu lintas menjadi terganggu, karena yang harusnya mereka berhenti di lampu merah, justru mereka jalan terus. Menyetop kendaraan lain yang mau lewat di persimpangan jalan tentu merupakan pelanggaran serius dalam berlalu lintas.

Jangan coba-coba menerobos atau mendahului konvoi itu. Kalau sampai ada kendaraan lain yang ingin menerobos, tentu akan habis diserang dan dipukul-pukul oleh massa yang brutal sambil berteriak-teriak.

Lucunya, konvoi liar dan sangat mengganggu ini malah didiamkan saja oleh polisik. Malah bak pejabat mau lewat, konvoi ini seringkali malah dikawal oleh polisi. Tidak sedikit iring-iringannya dikawal oleh vorrider, baik itu dari TNI maupun Polri untuk menjaga agar kegiatan tersebut berjalan secara lancar dan tertib.

Bukannya membubarkan tetapi malah mengawal, cukup aneh bukan?
5. Melanggar Perda

Peraturan Daerah (Perda) Provinsi DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum, pada pasal 40 huruf c disebutkan setiap orang atau badan dilarang memberikan sejumlah uang atau barang kepada pengemis, pengamen, dan pengelap mobil. Bagi yang melanggar pasal tersebut dikenai ancaman pidana kurungan paling singkat 10 hari dan paling lama 60 hari atau denda paling sedikit Rp 100 ribu dan paling banyak Rp 20 juta.

Kalau memperhatikan isi Perda ini, maka sebenarnya aksi SOTR memang termasuk pelanggaran yang tidak boleh dibiarkan.

Kesimpulan

Dengan kenyataan seperti di atas, maka sebenarnya aksi SOTR ini sudah terlalu jauh menyimpang dari syariat Islam sendiri. Untuk kegiatan macam ini seharusnya dilarang dan diganti dengan kegiatan lain yang lebih tepat. Misalnya, dari pada keluyuran malam-malam mengganggu warga, kenapa tidak i'tikaf saja di masjid, biar banyak pahalanya?

Bukankah yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW itu memang i'tikaf?

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Sumber : https://rumahfiqih.com/x.php?id=1357524594&sahur-on-the-road-sunnah-atau-bid%27ah.htm (Fri 25 July 2014 03:00)

Menggerakkan Jari Saat Tahiyat, Mana yang Sunnah?

Menggerakkan Jari Saat Tahiyat, Mana yang Sunnah? - Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA - Kajian Sunnah Tarakan
Menggerakkan Jari Saat Tahiyat, Mana yang Sunnah?
Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA
 
Pertanyaan :
Assalamu'alaikum wr. Wb.

Ustadz yang dirahmati Allah swt, saya ingin menanyakan hal yang sederhana tetapi mengusik juga karena berkaitan dengan ibadah yang paling penting bagi seorang muslim, yaitu shalat.

Saya ingin menanyakan soal menggerakkan jari telunjuk saat tahiyat dalam shalat. Dalil-dalilnya apa saja? Digerakkan saat membaca syahadat saja atau dari awal sampai akhir? Dan bagaimana cara menggerakkannya, dinaik-turunkan atau diputar?

Selama ini saya hanya menaikkan telunjuk sejenak saat membaca syahadat. Kemudian saya menonton vcd shalat nabi, dan melihat bahwa harus menggerakkan telunjuk. Saya coba membaca buku Sifat Shalat Nabi, tetapi tidak ada penjelasan yang rinci soal kapan dan bagaimana menggerakkan telunjuk ini.

Atas jawaban dari ustadz saya ucapkan terima kasih. Semoga saya bisa menyempurnakan shalat saya.

Wassalamu;alaikum wr. Wb.

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Masalah menggerakkan jari telunjuk saat tahiyat di dalam shalat adalah masalah khilafiyah yang termasuk paling klasik. Kami katakan klasik, karena sejak zaman dahulu, para ulama sudah berbeda pendapat. Perbedaan pendapat di antara mereka tidak kunjung selesai sampai ribuan tahun lamanya, bahkan sampai hari ini.

Masalahnya bukan karena para ulama itu hobi berbeda pendapat, juga bukan karena yang satu lebih shahih dan yang lain kurang shahih. Juga bukan karena yang satu lebih mendekat kepada sunnah dan yang lain kurang dekat. Masalahnya sangat jauh dan tidak ada kaitannya dengan semua itu.

Titik masalahnya hanya kembali kepada cara memahami naskah hadits, di mana ada dalil yang shahih yang disepakati bersama tentang keshahihannya, namun dipahami dengan cara yang berbeda oleh masing-masing ulama.

Sayangnya, teks hadits itu sendiri memang sangat dimungkinkan untuk dipahami dengan cara yang berbeda-beda. Alias tidak secara spesifik menyebutkannya dengan detail dan rinci.

Yang disebutkan hanyalah bahwa Rasulullah SAW menggerakkan jarinya, tetapi apakah dengan teknis terus-terusan dari awal tahiyat hingga selesai, ataukah hanya pada saat mengucapkan 'illallah' saja, tidak ada dalil yang secara tegas menyebutkan hal-hal itu.

Dalil-dalil tentang Menggerakkan Jari

Dari Wail bin Hujr berkata tentang sifat shalat Rasulullah SAW, "Kemudian beliau mengengga dua jarinya dan membentuk lingkaran, kemudian mengangkat tangannya. Aku melihat beliau menggerakkan jarinya itu dan berdoa". (HR Ahmad, An-Nasai, Abu Daud dan lainnya dengan sanad yang shahih)

Dari Abdullah bin Umar ra berkata, "Rasulullah SAW bila duduk dalam shalat meletakkan kedua tangannya pada lututnya, mengangkat jari kanannya (telunjuk) dan berdoa". (HR Muslim)

Dengan adanya kedua dalil ini, para ulama sepakat bahwa menggerakkan jari di dalam shalat saat tasyahhud adalah sunnah. Para ulama yang mengatakan hal itu antara lain adalah Al-Imam Malik, Al-Imam Ahmad bin Hanbal serta satu pendapat di dalam mazhab Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahumullah.

Tinggal yang jadi titik perbedaan adalah cara mengambil pengertian dari kata 'menggerakkan'.

Sebagian ulama seperti kalangan mazhab As-Syafi'i mengatakan bahwa yang dimaksud dengan menggerakan hanyalah sekali saja, yaitu pada kata 'illallah'. Setelah gerakan sekali itu, jari itu tetap dijulurkan dan tidak dilipat lagi. Demikian sampai usai shalat.
Sebagian lainnya malah sebaliknya. Seperti kalangan mazhab Al-Hanafiyah yang mengatakan bahwa gerakan menjulurkan jari itudilakukan saat mengucapkan kalimat nafi (Laa illaha), begitu masuk ke kalimat isbat (illallaah) maka jari itu dilipat kembali. Jadi menjulurkan jari adalah isyarat dari nafi dan melipatnya kembali adalah isyarat kalimat itsbat.
Sebagian lainnya mengerakkan jarinya hanya pada setiap menyebut lafadz Allah di dalam tasyahhud. Seperti yang menjadi pendapat kalangan mazhab Al-Imam Ahmad bin Hanbal.
Dan sebagian lainnya mengatakan bahwa tidak ada ketentuannya, sehingga dilakukan gerakan jari itu sepanjang membaca tasyahhud. Yang terakhir itu juga merupakan pendapat Syeikh Al-Albani. (Lihat kitab Sifat Shalat Nabi halaman 140). Sehingga beliau cenderung mengambil pendapat bahwa menggerakkan jari dilakukan sepanjang membaca lafadz tasyahhud.
Akan tetapi, sekali lagi kami katakan itu adalah ijtihad karena tidak adanya dalil yang secara tegas menyebutkan hal itu. Sehingga antara satu ulama dengan ulama lainnya sangat mungkin berbeda pandangan. Selama dalil yang sangat teknis tidak atau belum secara spesifik menegaskannya, maka pintu ijtihad lengkap dengan perbedaannya masih sangat terbuka luas.

Dan tidak ada orang yang berhak menyalahkan pendapat orang lain, selama masih di dalam wilayah ijtihad. Pendeknya, yang mana saja yang ingin kita ikuti dari ijtihad itu, semua boleh hukumnya. Dan semuanya sesuai dengan sunnah nabi Muhammad SAW.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Sumber : https://rumahfiqih.com/x.php?id=1176093027&menggerakkan-jari-saat-tahiyat-mana-yang-sunnah.htm (Fri 1 July 2016 04:35)

Kajian Bidayah Al Hidayah di Rumah Tahfidzh Bunda At Taqwa Sebengkok Tarakan 20200115

Kajian Bidayah Al Hidayah di Rumah Tahfidzh Bunda At Taqwa Sebengkok Tarakan bersama Ustadz Arman Aryadi, S.HI

Arman Ar Ryadhy menayangkan siaran langsung.
15 Januari 2020 (21 jam ·)

Sumber FB : Arman Ar Ryadhy (https://www.facebook.com/armand.elryadhy)

di upload ulang oleh channel Youtube : Tarakan Info (https://www.youtube.com/channel/UCryFul7HqIHLGV4gTmJSMHA)

playlists : Kajian Tarakan (https://www.youtube.com/playlist?list=PLQkBcfA8bVriHYJe_ZsH8sQc_Z7hLNpoC)

Website Tarakan Info : https://www.tarakan.info
Web Sejuk Tarakan : https://sejuk.tarakan.info
Web Kajian Tarakan : https://kajian.tarakan.info

#KajianIslam #kajiantarakan #kajianfiqih #kajian #tarakan #tarakaninfo #infotarakan #kotatarakan #tarakankota #kajianustadz #kajiankitab #masjidtarakan #tarakanmengaji #pengajianumum #tarakanmengaji #masjidattaqwasebengkok

Kajian Islam, kajian tarakan, kajian fiqih, kajian, tarakan, tarakan info, info tarakan, kota tarakan, tarakan kota, kajian ustadz, kajian kitab, masjid tarakan, kajian sunnah tarakan

Kajian Islam Fiqih Kitab Riyadhus Shalihin di Masjid Darun Najah Karang Anyar Tarakan 20200115

Kajian Islam Fiqih Kitab Riyadhus Shalihin di Masjid Darun Najah Karang Anyar Tarakan Bersama Ustadz Abdul Wachid, S.PdI

Masjid Darun Najah menayangkan siaran langsung.
15 Januari 2020 (21 jam ·)

Sumber utama FB: Masjid Darun Najah
(https://www.facebook.com/darunnajahtrk/)

di upload ulang oleh channel Youtube : Tarakan Info (https://www.youtube.com/channel/UCryFul7HqIHLGV4gTmJSMHA)

playlists : Kajian Tarakan (https://www.youtube.com/playlist?list=PLQkBcfA8bVriHYJe_ZsH8sQc_Z7hLNpoC)

Website Tarakan Info : https://www.tarakan.info
Web Sejuk  Tarakan : https://sejuk.tarakan.info
Web Kajian Tarakan : https://kajian.tarakan.info

#KajianIslam #kajiantarakan #kajianfiqih #kajian #tarakan #tarakaninfo #infotarakan #kotatarakan #tarakankota #kajianustadz #kajiankitab #masjidtarakan #islam #Syiarislam #kaltara #tarakanhits #paguntaka #beritaislam #ayokemasjid #dakwahislam #tausyiah #hijrah #ceramahislam #fiqih #masjiddarunnajah #ustadzabdulwachid #tarakanngaji #tarakanmengaji

kajian islam, kajian tarakan, kajian fiqih, kajian, tarakan, tarakan info, info tarakan, kota tarakan, tarakan kota, kajian ustadz, kajian kitab, masjid tarakan, kit, kajian islam tarakan, masjid darun najah, tarakan mengaji, tarakan ngaji, kajian sunnah tarakan

Wajibkah Kita Tahu Hadits Wajib dan Sunnah Dalam Shalat?

Wajibkah Kita Tahu Hadits Wajib dan Sunah Dalam Shalat? - Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA - Kajian Sunnah Tarakan
Wajibkah Kita Tahu Hadits Wajib dan Sunnah Dalam Shalat?
Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Maaf ustadz, jika kita shalat, tapitidak tau hadistyg merujuk semua gerakan dan bacaan shalat, apakah akan diterima? Misalkan kita tidak tau: kenapa takbiratul ikhram harus mengangkat tangan ke atas; salam kekanan wajib, kekiri sunnah;dll. trus kalau mau tau harus cari dari buku apa?

Makasih ustadz. Maaf jika ada salah kata!

Wassalam.

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Seseorang tetap dianggap sah ketika melakukan shalat, selama dia mengerjakan semua yang termasuk rukun shalat. Meski dia tidak tahu apakah gerakan shalat yang dilakukannya atau bacaan shalat yang diucapkannya termasuk rukun atau bukan.

Apalagi kalau tidak tidak tahu dasar haditsnya, tentu saja tidak mengapa. Insya Allah SWT shalatnya sah, yang penting dia telah belajar tata cara shalat dari ulama yang ahli. Dia tidak diwajibkan untuk tahu apakah dasarnya yang berupa hadits itu shahih atau tidak shahih. Tidak ada yang mewajibkan kita sebagai orang awam untuk menguasai ilmu hadits, yang wajib menguasainya adalah orang yang berijtihad.

Tata Cara Shalat Tidak Tersedia di Hadits Secara Langsung

Satu hal yang perlu kita ketahui bersama dan harus kita maklumi adalah bahwa ilmu tentang shalat, baik rukun, wajib, syarat dan yang membatalkan tidak akan kita temukan di dalam hadits secara langsung atau secara begitu saja. Bahkan hadits nabi sama sekali tidak bicara apakah suatu gerakan shalat itu termasuk rukun atau bukan.

Sebab pada hakikatnya, hadits nabi barulah merupakan sumber atau bahan baku dari tata cara shalat dan hukum-hukum ibadah. Tetapi hukum itu sendiri baru bisa kita simpulkan manakala telah dilakukan proses istimbath. Tempat untuk mengetahui hukum adalah ilmu fiqih, bukan ilmu hadits.

Sebagai orang awam, kita pasti akan kebingungan kalau mencari tata cara shalat di dalam hadits nabawi. Sebab hadits-hadits itu baru merupakan bahan mentah, atau umpama potongan-potongan keterangan yang masih tidak beraturan, bahkan boleh dibilang seperti serpihan-serpihan yang berceceran di sana sini.

Semua masih harus dikumpulkan jadi satu, lalu dilakukan pemeriksaan kekuatan periwayatannya, kemudian dirangkai sesuai dengan keperluannya, baru hasil akhirnya menjadi sebuah tata cara ibadah shalat. Nah, semua itu bisa kita nikmati saat kita belajar ilmu fiqih.

Ilmu fiqih dikerjakan oleh para ahli fiqih, di mana mereka menguasai metodologi istimbat hukum secara profesional. Meski pun kita juga tahu bahwa hasil tiap ijtihad tidak selalu sama. Akan tetapi manakala sebuah ijtihad dilakukan oleh ahlinya, meski hasilnya tidak selalu sama, namun sudah berhak untuk diikuti.

Kita adalah orang-orang yang berada pada level pengikut, atau disebut juga muttabi'. Bahkan sering juga disebut muqallid, atau orang yang bertaqlid. Hukum wajib bagi kita apabila kita memang bukan seorang ahli fiqih. Dan haram bila melakukan ijtihad sendiri secara independen bila memang bukan ahli di bidang itu.

Suka atau tidak suka, semua orang yang ada hari ini adalah muttabi' atau muqallid, bahkan para ustadz yang 'jenggotan' sekalipun, tidak lebih dari seorang muttabi' atau muqallid. Hari ini tidak ada orang yang punya level mujtahiddalam arti yang sesungguhnya.Apalagi mujtahid mutlak.

Bahkan di kalangan ustadz-ustadz yang orang arab sekalipun, setiap kali bicara hukum, pasti tidak jauh-jauh dari pendapat Ibnu Taimiyah atau Ibnul Qayyim dan ulama lainnya.

Saudara-saudara kita yang ada di Persis atau Muhammadiyah, ketika bicara tentang hukum shalat, biasanya juga tidak akan jauh-jauh dari pendapat A. Hasan atau ulama lainnya. Sedangkan saudara kita di NU biasanya tidak akan jauh-jauh dari pendapat Al-Imam Asy-Syafi'i, Al-Muzani, Ar-Rafi'i, Imam An-Nawawi bahkan Syeikh Nawawi Al-Bantani.

Jadi sebenarnya kita semua ini hanya pengikut dari para ahli fiqih, kita tidak pernah langsung mengambil kesimpulan dari hadits nabawi. Sebab kita memang tidak punya kapasitas untuk itu. Walau selalu bilang bahwa kita hanya merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunnah, tapi dalam tataran implementasinya, ketika menyimpulkan kedua sumber hukum itu, kita ujung-ujungnya tetap bertaqlid. Suka atau tidak suka, mengaku atau tidak mengaku.

Begitu juga para aktifis dakwah yang masih muda-muda, setidaknya mereka juga selalu taklid kepada ustadznya atau murabbinya. Sebab memang ke sanalah mereka biasanya merujuk.

Maka menjadi muttabi' atau muqallid itu bukan pekerjaan hina, bahkan malah bisa menjadi wajib. Hanya tinggal masalahnya, kepada siapakah layaknya kita mengikuti fatwa dan ijtihad?

Tentunya kepada orang ahli di bidang ijtihad itu. Sebagaimana perintah Allah SWT:

Maka tanyakanlah kepada ahlu dzikri (orang yang berilmu) apabila kamu tidak mengetahui. (QS. An-Nahl: 43)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Sumber : https://www.rumahfiqih.com/konsultasi-1199851641-wajibkah-kita-tahu-hadits-wajib-dan-sunah-dalam-shalat.html (Sat 12 January 2008 10:50)

kajian sunnah tarakan