Kajian Islam Tarakan

Kajian Islam, Sunnah, Kitab, Fiqih, Tafsir Qur'an oleh Ustadz Ahlu Sunnah Wal Jama'ah di Taman Taman Surga Kota Tarakan. Informasi dan Dokumentasi Kajian, Jadwal, Video, Foto, Artikel, Do'a, Pengajian Islam di Masjid Tarakan. #kajiantarakan #kajianislamtarakan #kajiansunnahtarakan #kajiankitabtarakan #kajianfiqihtarakan #kajiantafsirtarakan #kajianhadisttarakan #tarakanngaji #tarakanmengaji #masjidtarakan

Bidah di Tengah Kita

Bidah di Tengah Kita - Kajian Islam Tarakan
Bid'ah di Tengah Kita
by Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA


Pertanyaan :Assalamualaikum Ustadz
Saya mau bertanya tentang bid'ah pak ustadz. Sehari-hari saya selalu menjalankan sholat di masjid dekat kost-an saya. Dalam pelaksanaan ibadah di masjid tersebut kadang-kadang terasa janggal bagi saya. Seperti membaca sholawat nabi sebelum adzan, membaca surat yasin beramai-ramai pada hari jumat dan masih banyak lagi. Yang sepengetahuan saya hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW.
Bukankah ibadah yang tidak menurut ke Rasulullah itu hukumnya bid"ah dan sia-sia pak ustadz???
Yang membuat saya risau dan selalu menimbulkan pertanyaan di dalam hati saya sampai saat ini adalah apakah amalan saya akan diterima oleh Allah ketika saya melakukan sholat di masjid tersebut?(catatan:saya tidak mengikuti kebiasaan mereka).
Sedangkan saya tahu apa yang mereka lakukan itu bid'ah dan saya sendiri tidak mampu untuk mengubahnya.
Mohon jawabannya pak ustadz
Assalamualaikum wr. Wb.

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang benar bahwa ibadah yang bertentangan atau tidak diajarkan oleh Rasulullah SAW merupakan ibadah yang tertolak. Atau biasa disebut dengan istilah bid'ah.

Dan kita harus selalu menjaga diri dari perbuatan bid'ah, karena setiap bid'ah sesat. Dan sesat itu tempatnya di neraka.

Namun perlu juga kita pahami bahwa urusan menjatuhkan vonis bid'ah itu bukan hal yang selalu disepakati hukumnya. Sama dengan hukum fiqih umumnya, ada sebagian ulama yang menghalalkan sesuatu, namun pada saat yang sama, seringkali sebagian ulama lainnya malah menghalalkannya. Inilah yang kita sebut dengan istilah khilafiyah.

Jadi khilafiyah tidak terbatas pada masalah fiqih saja, tetapi dalam menetapkan apakah suatu perbuatan itu bid'ah atau bukan, ternyata juga ada wilayah khilafiyahnya.

Misalnya, Al-Imam Malik yang ahli hadits, fiqih dan ushul fiqih berkesimpulan bahwa qunut pada shalat shubuh itu hukumnya bid'ah. Namun Al-Imam Asy-syafi'i rahimahullah justru mengatakan sebaliknya. Berdasarkan ilmu hadits yang sangat beliau kuasai serta kebegawanan beliau dalam ilmu fiqih dan ushul fiqih, akhirnya beliau berkesimpulan bahwa qunut pada shalat shubuh itu sunnah muakkadah. Sebagai ahli hadits sekaligus ahli fiqih dan ushul fiqih, beliau berkesimpulan bahwa dalil-dalilnya kuat dan bisa diterima.

Lalu apakah kita layak untuk menyebut bahwa Al-Imam Asy-Syafi'i itu pelaku bid'ah dan beliau pasti masuk neraka? Dan apakah dalam hal ini hanya Al-Imam Malik yang 100% pasti benar?

Jawabnya tentu tidak. Bid'ah itu tidak ditetapkan hanya berdasarkan ijtihad satu dua orang, meski levelnya setingkat Al-Imam Malik sekalipun.

Paling tidak, hukum bid'ahnya qunut shalat shubuh itu memang bid'ah menurut versi beliau. Namun bukan bid'ah menurut versi ulama lain.

Maka demikian juga dengan apa-apa yang anda tanyakan, seperti sholawat nabi sebelum adzan, membaca surat yasin beramai-ramai pada hari jumat dan lainnya. Sebab semua itu ada dasarnya, bukan asal mengerjakan saja. Meski pun nanti tetap terbuka peluang untuk mengkritis pendapat tersebut.

Dan kalau pun kita cenderung mengatakan bahwa semua itu bid'ah, tentu hak kita. Namun kita juga harus hormati pendapat ulama lain yang sekiranya tidak sependapat dengan pikiran kita. Sebab dalam pandangan mereka, boleh jadi ada dalil-dalil teretntu yang mendasari hujjah mereka.

Kami tidak akan mengutip pendapat mereka di sini, namun prinsipnya kita tetap harus menerima kenyataan bahwa masalah bid'ah itu tetap mempunyai ruang untuk adanya khilaf. Dan kita perlu melapangkan dada atas realitas itu.

Kecuali bila seluruh ulama sepakat bahwa suatu perbuatan itu bid'ah, mungkar dan bahkan zhalim. Tentu kita bahu membahu untuk memberantasnya. Tetapi selama masih ada khilaf, maka kita perlu 'merendahkan sayap' dengan sesama muslim.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Sumber Website : https://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1172033998 (Thu 22 February 2007 03:58)

Ikuti dan Bagikan Ruqyah Massal Online Bersama Ustadz Huzaifah 20200408

Ikuti dan Bagikan Ruqyah Massal Online Bersama Ustadz Huzaifah 20200408 - Kajian Islam Tarakan
Ikuti dan Bagikan Ruqyah Massal Online Bersama Ustadz Huzaifah

Ayok Ikuti dan Bagikan Keseluruh Keluarga, Sahabat Serta Kawan Terdekat. Live Streaming di Akun ig @pelukishatiofficial FB @majelisalmuhaajir Channel YouTube: Muhibbin Kaltara.

Ruqyah Massal Online
Bersama : Al Ustadz Huzaifah

Hari Rabu Malam Kamis ini
Bertepatan tanggal 14, Malam 15 Sya'ban
Ba'da Sholat Isya' s/d selesai

Selain Ruqyah Kita Juga Melakukan Pembacaan Yasun, Manzil & Doa Untuk Keselamatan Kita Semua, Terkhusus Masyarakat Kaltara.

Catatan : 
Adab-adabnya memiliki wudhu, fokus selama pembacaan, menghadap kiblat, memakai wangi-wangian, menutup aurat, dan menyiapkan ai diwadah, boleh dibotol, teko, dll.

Semoga Allah SWT senantiasa Melindungi Kita Sekalian dalam rahmat-Nya dan Sehat walafiat dalam Keberkhan. Aamiin Aamiin Allahuma Aamiin 😇🙏🙇

Sumber FB : AL Muhaajir
6 April 2020 (1 jam ·)

Perbedaan Tentang Batasan Bidah

Perbedaan Tentang Batasan Bidah - Kajian Islam Tarakan
Perbedaan Tentang Batasan Bid'ah
by Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA
Pertanyaan :Assalamu'alaikum
Ustadz, saya mau tanya batasan amalan bid'ah.
Mohon penjelasan, karena saya banyak mendengar ada ustadz yang menyatakan semua bid'ah itu sesat di dalam urusan ibadah dan ada yang mengatakan bid'ah ada yang hasan, dan semuanya mengemukakan alasan atau dasarnya.
Yang masih menjadi pertanyaan saya bid'ah dalam ibadah, bukankah apabila kita bekerja kalau diniatkan karena mendapatkan ridho dari Allah juga d catat sebagai amal ibadah, atau dalam berkhutbah Rasullulah selalu menggunakan bahasa Arab, bagaimana dengan di luar Arab? Mohon penjelasan.
Syukron
Jawaban :
Assalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Para ulama memang berbeda pendapat ketika mendefinisikan bid'ah. Definisi yang disodorkan oleh para ulama tentang isitlah ini ada sekian banyak versi.

Hal itu lantaran persepsi mereka atas bid'ah itu memang berbeda-beda. Sebagian mereka ada yang meluaskan pengertiannya hingga mencakup apapun jenis perbuatan yang baru atau diada-adakan, sedangkan yang lainnya menyempitkan batasannya.

Dalam kitab Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah (Ensiklopedi Fiqih) jilid 8 keluaran Kementrian Wakaf dan Urusan Ke-Islaman Kuwait halaman 21 disebutkan bahwa secara umum ada dua kecenderungan orang dalam mendefinisikan bid'ah.

Pertama, kecenderungan yang menganggap bahwa ibadah yang tidak terdapat di masa Rasulullah SAW sebagai bid'ah, namun hukumnya tidak selalu sesat atau haram.

Kedua adalah kecenderungan untuk mengatakan bahwa semua bid'ah adalah sesat.

Tapi kalau kita tarik garis umum, paling tidak ada dua kecenderungan ulama dalam masalah ini.

Kelompok Pertama

Mereka yang meluaskan batasan bid'ah itu mengatakan bahwa bid'ah adalah segala yang baru diada-adakan yang tidak ada dalam kitab dan sunnah. Baik dalam perkara ibadah ataupun adat. Baik pada masalah yang baik atau yang buruk.

a. Tokoh

Di antara para ulama yang mewakili kalangan ini antara lain adalah Al-Imam Asy-Syafi'i dan pengikutnya seperti Al-'Izz ibn Abdis Salam, An-Nawawi, Abu Syaamah.

Sedangkan dari kalangan Al-Malikiyah ada Al-Qarafi dan Az-Zarqani.

Dari kalangan Hanafiyah seperti Ibnul Abidin dan dari kalangan Al-Hanabilah adalah Al-Jauzi serta Ibnu Hazm dari kalangan Dzahiri.

Bisa kita nukil pendapat Al-Izz bin Abdis Salam yang mengatakan bahwa bid`ah perbuatan yang tidak terjadi pada masa Rasulullah SAW, yang terbagi menjadi lima hukum. Yaitu bid'ah wajib, bid'ah haram, bid'ah mandub (sunnah), bid'ah makruh dan bid'ah mubah.

b. Contoh

Ada beberapa contoh yang bisa ditampilkan dalam masalah ini, antara lain:

  • Contoh bid'ah wajib misalnya belajar ilmu nahwu yang sangat vital untuk memahami kitabullah dan sunnah rasulnya.
  • Contoh bid'ah haram misalnya pemikiran dan fikrah yang sesat seperti Qadariyah, Jabariyah, Murjiah dan Khawarij.
  • Contoh bid'ah mandub (sunnah) misalnya mendirikan madrasah, membangun jembatan dan juga shalat tarawih berjamaah di satu masjid.
  • Contoh bid'ah makruh misalnya menghias masjid atau mushaf Al-Quran. Sedangkan contoh bid'ah mubah misalnya bersalaman setelah shalat.

c. Dalil

Pendapat bahwa bid'ah terbagi menjadi lima kategori hukum didasarkan kepada dalil-dalil berikut:

Perkataan Umar bin Al-Khattab radhiyallahu anhu tentang shalat tarawih berjamaah di masjid bulan Ramadhan yaitu:

Sebaik-baik bid'ah adalah hal ini.

Ibnu Umar juga menyebut shalat dhuha' berjamaah di masjid sebagai bid'ah yaitu jenis bid'ah hasanah atau bid'ah yang baik.

Hadits-hadits yang membagi bid'ah menjadi bid'ah hasanah dan bid'ah dhalalah seperti hadits berikut:

Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat. Siapa yang mensunnahkan sunnah sayyi'ah (kejelekan), maka dia mendapatkan ganjaran dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat.

Kelompok Kedua

Kalangan lain dari ulama mendefinisikan bahwa yang disebut bid'ah itu semuanya adalah sesat, baik yang dalam ibadah maupun adat.

Di antara mereka ada yang mendifiniskan bid'ah itu sebagai sebuah jalan (thariqah) dalam agama yang baru atau tidak ada sebelumnya yang bersifat syar`i dan diniatkan sebagai thariqah syar'iyah.

a. Tokoh

Di antara mereka yang berpendapat demikian antara lain adalah At-Thurthusy, Asy-Syathibi, Imam Asy-Syumunni dan Al-Aini dari kalangan Al-Hanafiyah. Juga ada Al-Baihaqi, Ibnu Hajar Al-`Asqallany serta Ibnu Hajar Al-Haitami dari kalangan Asy-Syafi'iyah. Dan kalangan Al-Hanabilah diwakili oleh Ibnu Rajab dan Ibnu Taymiyah.

b. Contoh

Contohnya adalah orang yang bernazar untuk puasa sambil berdiri di bawah sinar matahari atau tidak memakan jenis makanan tertentu yang halal tanpa sebab yang jelas (seperti vegetarian dan sebangsanya).

Perbuatan seperti itu bid'ah, karena pada hakikatnya menciptakan sebuah ritual agama yang baru, yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW.

c. Dalil

Dalil yang mereka gunakan adalah:

Bahwa Allah SWT telah menurunkan syariat dengan lengkap di antaranya adalah fiman Allah SWT:

... Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu...(QS. Al-Maidah: 3)

Juga ayat berikut:

dan bahwa adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (QS. Al-An`am: 153)

Setiap ada hadits Rasulullah SAW yang berbicara tentang bid'ah, maka selalu konotasinya adalah keburukan. Misalnya hadits berikut:

Klasifikasi Lain

Selain pembagian di atas maka sebagian ulama juga ada yang membuat klasifikasi yang sedikit berbeda, oleh para ulama bid’ah terbagi dua:

a. Bidah dalam adat kebiasaan (di luar masalah agama) seperti banyaknya penemuan-penemuan baru di bidang tekhnologi, hal tersebut dibolehkan karena asal dalam adat adalah kebolehan (al-ibahah)

b. Bid’ah dalam agama, mengada-ada hal yang baru dalam agama. Hukumnya haram, karena asal dalam beragama adalah at-tauqief (menunggu dalil).

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut akan tertolak” (HR Muslim 1817)

Namun dalam kaitannya dengan bid’ah dalam agama, para ulama ternyata juga masih memilah lagi menjadi dua bagian:

Pertama: Bid’ah Perkataan

Bid'ah ini berkaitan dengan masalah I’tiqod, seperti perkataan Jahmiyah, Mu’tazilah, Rafidhah dan sekte-sekte sesat lainnya. Misalnya pendapat Mu’tazilah yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk Alloh dan bukan firman-Nya.

Kedua: Bid’ah dalam beribadah

  • Bid'ah ini misalnya melaksanakan suatu ritual ibadah yang tidak ada dalil syar’inya. Bid’ah dalam ibadah ini terbagai beberapa macam:
  • Bid’ah yang terjadi pada asal ibadah, dengan cara mengadakan suatu ritual ibadah baru yang tidak pernah disyariatkan sebelumnya, contohnya adalah melaksanakan shaum seperti yang anaa sebutkan, dengan tujuan agar dapat menguasai ilmu-ilmu tertentu
  • Bid’ah dalam hal menambah Ibadah yang disyariatkan, seperti menambah rakaat sholat shubuh menjadi tiga.
  • Bid’ah dalam bentuk pelaksanaan ibadah yang diwujudkan dengan melaksanakannya di luar aturan yang disyariatkan, contohnya melaksanakan dzikir sambil melakukan gerakan-gerakan tertentu.
  • Bid’ah dengan mengkhususkan waktu tertentu untuk melaksanakan ibadah masyru’. Seperti mengkhususkan pertengahan bulan Sya’ban dengan shaum dan sholat. Karena shaum dan sholat pada asalnya disyari’atkan akan tetapi pengkhususan pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut di waktu-waktu tertentu haruslah berdararkan nash (dalil-dali) dari Allah dan rasul-Nya.


Kesimpulannya, kalau kita lihat banyak kalangan saling menuduh bid'ah kepada saudaranya sendiri, ketahuilah bahwa salah satu penyebabnya adalah kekurang-pahaman terhadap definisi bid'ah yang beragama.

Dan urusan vonis memvonis sebagai pelaku bid'ah ini akan sedikit berkurang seandainya di dalam diri tiap kita muncul kearifan serta keluasan wawasan. Setidaknya, kalau pun tetap diyakini sebagai bid'ah, maka cara yang digunakan untuk memberantas 'bid'ah' itu tidak boleh dengan cara yang bid'ah juga.

Saling mencaci dan memaki, apalagi sampai melakukan pemboikotan kepada saudara sendiri, tentu sangat bertentangan dengan apa yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Mana pernah beliau SAW memaki orang lantaran dianggap sebagai pelaku bid'ah? Mana pernah beliau memboikot seseorang lantaran dituduh-tuduh sebagai pelaku bid'ah? Dan mana pernah Rasulullah SAW mengharamkan diri untuk menshalati jenazah seseorang karena dianggap pelaku bid'ah?

Yang haram dishalati di masa nabi SAW adalah orang yang kafir dan murtad. Bukan orang yang dituduh-tuduh sebagai pelaku bid'ah, dengan tolok ukur yang subjektif dan seenak selera sendiri.

Semoga Allah SWT menurukan ilmu, kearifan dan kesantunan pada diri kita semua dalam memperjuangkan syariatnya. Amien

Wallahu a`lam bishshawab, wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Sumber Website : https://rumahfiqih.com/x.php?id=1152530383 (Mon 26 May 2008 23:49)

Tujuan Sehat

Tujuan Sehat - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Tujuan Sehat

Sehat itu untuk mengabdi kepada Alloh, untuk melaksanakan amal sholeh, untuk bisa berdakwah, mengajak berbuat baik, dan sehat untuk menjaga kualitas kesabaran kita.

Aa Gym

Sumber FB : KH. Abdullah Gymnastiar
19 November 2018 pukul 11.22 ·

Kumpulan Doa :

Kata-Kata Bijak :