Januari 2020 - Kajian Islam Tarakan - Kajian Tarakan

Kajian Islam Tarakan

Kajian Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja) Tarakan. Kajian Islam, Kajian Sunnah, Kitab, Fiqih, Tafsir Qur'an oleh Ustadz Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Taman-Taman Surga Kota Tarakan. Informasi dan Dokumentasi Kajian, Pengajian, Ceramah, Tabligh Akbar, Jadwal, Video, Foto, Artikel, Do'a, Buku, Info Pengajian Islam di Masjid Tarakan. Semuanya hanya ada di https://kajian.tarakan.info
@kajiantarakan @tarakandotinfo #kajiantarakan #kajianislamtarakan #kajiansunnahtarakan #kajiankitabtarakan #kajianfiqihtarakan #kajiantafsirtarakan #kajianhadisttarakan #tarakanngaji #tarakanmengaji #masjidtarakan

Prinsip-Prinsip Ahlus Sunnah Dalam Masalah Kufur dan Takfir

Prinsip-Prinsip Ahlus Sunnah Dalam Masalah Kufur dan Takfir - Kajian Sunnah Tarakan
PRINSIP-PRINSIP AHLUS SUNNAH DALAM MASALAH KUFUR DAN TAKFIR

اْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً -أَوْ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ شُعْبَةً- أَفْضَلُهَا قَوْلَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ اْلإِيْمَانِ

“Iman mempunyai 63 atau 73 cabang, paling utamanya adalah kalimat tauhid La ilaha illallah dan paling rendahnya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan.” (HR. Muslim, An-Nasa`i, dan lainnya)

Masalah takfir (kafir-mengkafirkan) adalah masalah yang sangat berbahaya. Karena itu, para ulama sangat berhati-hati dalam masalah ini, sebagaimana penjelasan Abu Hamid Al-Ghazali : “Termasuk perkara yang harus diwaspadai oleh kaum muslimin adalah masalah pengkafiran, karena menumpahkan darah serta merampas harta seorang muslim adalah suatu kesalahan besar. Kesalahan dalam membiarkan seribu orang kafir hidup lebih ringan daripada kesalahan dalam menumpahkan darah seorang muslim.”1

Di bawah ini kami akan sebutkan diantara kaidah-kaidah Ahlus Sunnah dalam masalah kufur dan takfir.

1. Masalah pengkafiran adalah hukum syar’i dan tempat kembalinya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya SAW.

2. Barangsiapa yang tetap keislamannya secara meyakinkan, maka keislaman itu tidak bisa lenyap darinya, kecuali dengan sebab yang meyakinkan pula.2

3. Tidak setiap ucapan dan perbuatan -yang disifatkan nash sebagai kekufuran- merupakan kekafiran yang besar (kufur akbar) yang mengeluarkan seseorang dari agama, karena sesungguhnya kekafiran itu ada dua macam, yaitu: kekafiran kecil (asghar) dan kekafiran besar (akbar). Maka, hukum atas ucapan-ucapan maupun perbuatan-perbuatan ini, sesungguhnya berlaku menurut ketentuan metode para ulama Ahlus Sunnah dan hukum-hukum yang mereka keluarkan.

4. Tidak boleh menjatuhkan hukum kafir kepada seorang muslim, kecuali telah ada petunjuk yang jelas, terang dan mantap dari al-Qur‘an dan as-Sunnah atas kekufurannya. Maka, dalam permasalahan ini, tidak cukup hanya dengan syubhat dan zhan (persangkaan) saja.

5. Ahlus Sunnah tidak menghukumi atas pelaku dosa besar tersebut dengan kekafiran. Namun menghukuminya sebagai bentuk kefasikan dan kurangnya iman, apabila bukan dosa syirik dan dia tidak menganggap halal perbuatan dosanya. Hal ini karena Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An-Nisa‘:48)

Rasulullah SAW memperingatkan dengan keras tentang tidak bolehnya seseorang menuduh orang lain dengan “kafir” atau “musuh Allah”. Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang mengatakan kepada saudaranya “wahai kafir”, maka dengan ucapan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya, apabila seperti yang ia katakan; namun apabila tidak, maka akan kembali kepada yang menuduh.”3

Beliau bersabda: “Dan barangsiapa yang menuduh kafir kepada seseorang atau mengatakan ia musuh Allah, sedangkan orang tersebut tidaklah demikian, maka tuduhan tersebut berbalik kepada dirinya sendiri”.4

Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan ataupun kekufuran, karena tuduhannya akan kembali kepada dirinya, jika orang yang dituduh tidak seperti yang ia tuduhkan.”5

6. Terkadang ada keterangan dalam al-Qur‘an dan as-Sunnah yang mendefinisikan bahwa suatu ucapan, perbuatan atau keyakinan merupakan kekufuran (bisa disebut kufur). Namun, tidak boleh seseorang dihukumi kafir, kecuali telah ditegakkan hujjah atasnya dengan kepastian syarat-syaratnya, yakni mengetahui, dilakukan dengan sengaja dan bebas dari paksaan, serta tidak ada penghalang-penghalang (yang berupa kebalikan dari syarat-syarat tersebut).6

Dan yang berhak menentukan seseorang telah kafir atau tidak adalah Ahlul ‘Ilmi yang dalam ilmunya, dan para ulama Rabbani 7 dengan ketentuan-ketentuan syari’at yang sudah disepakati.

7. Ahlus Sunnah tidak mengkafirkan orang yang dipaksa (dalam keadaan diancam), selama hatinya tetap dalam keadaan beriman. Allah SWT  berfirman :

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar.” (An-Nahl:106)

8. Sebab-sebab yang dapat membawa kepada kekafiran besar ada tiga macam, yaitu:
perkataan, perbuatan, dan i’tiqad (keyakinan). Di antara kufur ‘amali (perbuatan) dan qauli (ucapan), ada yang bisa mengeluarkan pelakunya dari agama dengan sendirinya dan tidak mensyaratkan penghalalan hati. Yaitu sesuatu perbuatan atau perkataan yang jelas bertentangan dengan iman dari segala seginya, misalnya menghujat Allah Ta’ala, mencaci-maki Rasul SAW, bersujud kepada berhala, membuang mushaf al Qur`an di tempat sampah, dan perbuatan-perbuatan lain yang semakna dengan itu.

Dijatuhkannya hukum kufur ini kepada orang-orang tertentu tidak boleh, melainkan setelah memenuhi syarat-syarat (kufur) yang bisa diterima, sebagaimana perbuatan-perbuatan lain yang menyebabkan kafir pelakunya.

9. Sebagaimana ketaatan merupakan sebagian dari cabang-cabang iman, demikian juga maksiat merupakan sebagian dari cabang kekafiran. Masing-masing sesuai dengan kadarnya.

10. Ahlus Sunnah tidak mengkafirkan seorang pun dari ahlul kiblat (kaum Muslimin), yang dikarenakan dosa-dosa besarnya. Mereka mengkhawatirkan terjadinya nash-nash ancaman kepada pelaku dosa-dosa besar, walaupun mereka tidak kekal di dalam neraka. Bahkan mereka akan bisa keluar dengan syafa’at para pemberi syafa’at, dan karena rahmat Allah Ta’ala disebabkan pada mereka masih ada tauhid. Pengkafiran karena dosa besar adalah madzhab Khawarij yang keji.

11. Ahlu Sunnah membagi kekafiran menjadi dua, adapun perbedaan Antara Kufur Akbar (Besar) dan Kufur Asghar (Kecil) adalah sebagai berikut :

a. Kufur besar mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menghapuskan (pahala) amalnya, sedangkan kufur kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, juga tidak menghapuskan (pahala) amalnya, tetapi bisa mengurangi (pahala)nya sesuai dengan kadar kekufurannya, dan pelakunya tetap dihadapkan dengan ancaman.

b. Kufur besar menjadikan pelakunya kekal di dalam neraka, sedangkan kufur kecil, jika pelakunya masuk neraka, maka ia tidak kekal di dalamnya, dan bisa saja Allah Ta’ala memberi ampunan kepada pelakunya sehingga ia tidak masuk neraka sama sekali.

c. Kufur besar menjadikan halal darah dan harta pelakunya, sedangkan kufur kecil tidak demikian.

d. Kufur besar mengharuskan adanya permusuhan yang sesungguhnya, antara pelakunya dengan orang-orang mukmin. Dan orang-orang mukmin tidak boleh mencintai dan setia kepadanya, betapa pun ia adalah keluarga terdekat. Adapun kufur kecil, maka ia tidak melarang secara mutlak adanya kesetiaan, tetapi pelakunya dicintai dan diberi kesetiaan sesuai dengan kadar keimanannya, dan dibenci serta dimusuhi sesuai dengan kadar kemaksiatannya.
Wallahu a’lam.

Referrer :

  1. Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 11 Th. II 1425H/2004M, Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya, Alamat Perpustakaan Bahasa Arab Ma’had Ali-Al-Irsyad, Jl Sultan Iskandar Muda Surabaya.
  2. Majmu’ Fatawa’:XII/466.
  3. Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim:60, Abu ‘Awanah:I/23, Ibnu Hibban:250 at-Ta’liqatul-Hisan ‘ala Shahih Ibni Hibban), dan Ahmad:II/44; dari Sahabat ‘Abdullah Ibnu ‘Umar Radhiyallahu 'anhuma .
  4. Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim:61; dari Sahabat Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu
  5. Hadits shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari:6045, dan Ahmad:V/181; dari Sahabat Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu
  6. Syarat-syarat seseorang bisa dihukumi kafir: [1] mengetahui (dengan jelas), [2] dilakukan dengan sengaja, dan [3] tidak ada paksaan. Sedangkan Intifa’ul-Mawani’ (tidak ada penghalang yang menjadikan seseorang dihukumi kafir), yaitu kebalikan dari syarat tersebut di atas: [1] Tidak mengetahui, [2]. Tidak disengaja, dan [3] Karena dipaksa.
  7. Rabbani, adalah orang yang bijaksana, ‘alim, dan penyantun, serta banyak ibadah dan ketakwaannya. Lihat Tafsir Ibnu Katsir:I/405.


KONSULTASI ISLAM
Forum Tanya Jawab Masalah Keislaman
Media konsultasi masalah keislaman yang dibina oleh Ust. Ahmad Syahrin Thoriq, Pimpinan Ma'had Subulana Bontang Kaltim.
Mengupas dan mengulas permasalahan syariah dengan Rujukan kitab-kitab ulama Empat Madzhab.

Sumber  Web : http://www.konsultasislam.com/2010/06/prinsip-prinsip-ahlus-sunnah-dalam.html (Juni 2010)

kajian sunnah tarakan

Kajian Islam Fiqih Kitab Riyadhus Shalihin di Masjid Darun Najah Karang Anyar Tarakan 20200129

Kajian Islam Fiqih Kitab Riyadhus Shalihin di Masjid Darun Najah Karang Anyar Tarakan Bersama Ustadz Abdul Wachid, S.Pd.I

Masjid Darun Najah menayangkan siaran langsung.
29 Januari 2020 (17 jam ·)

Sumber utama FB: Masjid Darun Najah
(https://www.facebook.com/darunnajahtrk/)

di upload ulang oleh channel Youtube : Tarakan Info (https://www.youtube.com/channel/UCryFul7HqIHLGV4gTmJSMHA)

playlists : Kajian Tarakan (https://www.youtube.com/playlist?list=PLQkBcfA8bVriHYJe_ZsH8sQc_Z7hLNpoC)

Website Tarakan Info : https://www.tarakan.info
Web Sejuk  Tarakan : https://sejuk.tarakan.info
Web Kajian Tarakan : https://kajian.tarakan.info

#KajianIslam #kajiantarakan #kajianfiqih #kajian #tarakan #tarakaninfo #infotarakan #kotatarakan #tarakankota #kajianustadz #kajiankitab #masjidtarakan #islam #Syiarislam #kaltara #tarakanhits #paguntaka #beritaislam #ayokemasjid #dakwahislam #tausyiah #hijrah #ceramahislam #fiqih #masjiddarunnajah #ustadzabdulwachid #tarakanngaji #tarakanmengaji

kajian islam, kajian tarakan, kajian fiqih, kajian, tarakan, tarakan info, info tarakan, kota tarakan, tarakan kota, kajian ustadz, kajian kitab, masjid tarakan, kit, kajian islam tarakan, masjid darun najah, tarakan mengaji, tarakan ngaji, kajian sunnah tarakan

Kajian Bidayah Al Hidayah di Rumah Tahfidzh Bunda At Taqwa Sebengkok Tarakan Bersama Ustadz Arman Aryadi 20200129

Kajian Bidayah Al Hidayah di Rumah Tahfidzh Bunda At Taqwa Sebengkok Tarakan Bersama Ustadz Arman Aryadi, S.HI

Arman Ar Ryadhy menayangkan siaran langsung.
13 jam ·
PENGAJIAN BIDAYAH AL HIDAYAH IBU2 RUMAH TAHFIDZH BUNDA AT TAQWA SEBENGKOK

Sumber FB : Arman Ar Ryadhy (https://www.facebook.com/armand.elryadhy)

di upload ulang oleh channel Youtube : Tarakan Info (https://www.youtube.com/channel/UCryFul7HqIHLGV4gTmJSMHA)

playlists : Kajian Tarakan (https://www.youtube.com/playlist?list=PLQkBcfA8bVriHYJe_ZsH8sQc_Z7hLNpoC)

Website Tarakan Info : https://www.tarakan.info
Web Sejuk Tarakan : https://sejuk.tarakan.info
Web Kajian Tarakan : https://kajian.tarakan.info

#KajianIslam #kajiantarakan #kajianfiqih #kajian #tarakan #tarakaninfo #infotarakan #kotatarakan #tarakankota #kajianustadz #kajiankitab #masjidtarakan #tarakanmengaji #pengajianumum #tarakanmengaji #masjidattaqwasebengkok #ustadzarmanaryadi

Kajian Islam, kajian tarakan, kajian fiqih, kajian, tarakan, tarakan info, info tarakan, kota tarakan, tarakan kota, kajian ustadz, kajian kitab, masjid tarakan, kajian sunnah tarakan, ustadz arman aryadi

Adakah Amalan Sunnah Yang Lebih Utama dari Amalan Wajib ?

Adakah Amalan Sunnah Yang Lebih Utama dari Amalan Wajib? - Kajian Sunnah Tarakan
Adakah amalan sunnah yang lebih utama dari amalan wajib ?

Adakah suatu amalan sunah yang pahalanya lebih besar pahalanya dari amalan wajib? Wiwid - Bontang
 Tentu kita tidak lupa dengan pengertian wajib dan sunnah menurut fiqih. Amalan wajib adalah sesuatu yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan maka mendapat dosa. Sedangkan amalan sunnah adalah sesuatu yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak apa - apa. Dengan demikianlah nyata bahwa perkara wajib lebih utama dari perkara sunnah. Wajib adalah perkara yang merupakan kewajiban, sedangkan sunnah lebih bersifat ‘suka rela’.

Telah disebutkan secara jelas dalam sebuah hadits, Berkata Ibnu Abbas : “Allah menjadikan pahala sedekah tathowu’ ( yang tidak wajib ) yang diberikan secara sembunyi-sembunyi sebanyak 70 kali lipat , dan menjadikan pahala sedekah wajib yang diberikan secara terang-terangan sebanyak 25 kali lipat dibanding yang diberikan secara sembunyi-sembunyi tadi (berarti 70 lipat x 25 lipat). Begitu juga halnya dengan seluruh ibadat wajib dan yang tidak wajib."


Umar bin 'Abdul "Aziz berkata : "Orang yang disibukkan dengan amalan fardlu (wajib) sehingga tidak sempat mengamalkan yang sunnah maka ia dimaafkan, dan orang yang disibukkan dengan amalan sunnah dan mengabaikan amalan fardhu maka ia tertipu."

Sesuai keterangan diatas, maka muncul pernyataan :

االفَرْضُ اَفْضَلُ مِنَ النِّفْلِ

Amal wajib itu lebih baik daripada amal sunnah.

Pernyataan tersebut sudah tidak asing bagi kita. Contohnya: puasa ramadlan lebih utama daripada puasa sunnah. Kita jadi tidak boleh meninggalkan amalan wajib demi mengejar amalan sunnah.

Namun ternyata  tidak semua perkara wajib itu lebih utama daripada sunnah. Nah tahukah anda bahwa ternyata ada beberapa amalan sunnah yg kedudukannya lebih utama daripada amalan wajib, diantaranya contoh berikut ini :

  • Mengucap salam, menjawab sapaan salam dari seseorang hukumnya wajib sdangkan memulai memberi salam hukumnya hanya sunnah. Akan tetapi memulai memberi salam lebih utama kedudukannya daripada menjawab salam.
  • Menolong tetangga miskin yang sedang sangat kesusahan. Anda mungkin pernah membaca sebuah riwayat yang sohih berkenaan seorang yang batal naik haji karena mengalihkan hartanya untuk menolong tetangganya yang sedang kesusahan. Lalu ada orang lain yang bermimpi bahwa para muslimin yang naik haji di tahun tersebut ternyata hampir tak seorangpun yg mendapat derajat mabrur kecuali satu orang, Yakni si orang -yang tidak jadi naik haji karena menolong tetangganya tersebut. Org tersebut secara syariat memang telah dikenakan wajib haji karena telah memiliki kemampuan. Tapi pada kondisi ada tetangga yang sangat butuh pertolongan maka menolong mskipun hukumnya sunnah adalah lebih didahulukan.
  • Memberi hadiah : kita mengetahui bahwa zakat itu hukumnya wajib sedangkan hadiah itu hukumnya sunnah. Akan tetapi penerima hadiah itu lebih utama daripada penerima zakat. Karena itulah Rasulullah SAW menolak zakat tapi menerima pemberian hadiah.

Keterangan : secara istilah syar’i, keutamaan itu bisa dimaksudkan pada fi’il (pekerjaannya), fa’il (pelakunya), dan maf’ul (objek yg dikenai tindakan). Jika kita perhatikan, mengucap salam keutamaan berada pada fa’ilnya yakni yg mendahului salam lebih utama daripada yang menjawab salam meskipun fi’il (pekerjaannya) sama persis yakni “salam”. Untuk contoh kasus menolong tetangga, yang utama adalah fi’ilnya meskipun fail/pelakunya sama yakni menolong orang yang dalam keadaan sangat membutuhkan sangat diutamakan dibandingkan bila kita naik haji dalam keadaan masih menanggung kewajiban menolong tetangga. Sedangkan pada point ketiga terletak pada maf’ulnya karena yang menerima hadiah lebih utama dari yang menerima zakat

Jadi, jangan sekali – kali menganggap remeh amalah sunnah! Jika kita mau merenung sejenak,  seandainya amal yang kita perbuat didunia ini tidak diterima Allah bagaimana ? Apalagi kita hanya menjalankan amalan wajib saja. Paling tidak, dengan mengerjakan amalan sunnah dapat mengurangi resiko ringannya mizan di Yaumil Akhir. Tapi jangan pula dibalik, mengerjakan amalan sunnah, sedangkan kewajiban dilupakan. Wallahu a'alam.

KONSULTASI ISLAM
Forum Tanya Jawab Masalah Keislaman
Media konsultasi masalah keislaman yang dibina oleh Ust. Ahmad Syahrin Thoriq, Pimpinan Ma'had Subulana Bontang Kaltim.
Mengupas dan mengulas permasalahan syariah dengan Rujukan kitab-kitab ulama Empat Madzhab.

Sumber  Web : http://www.konsultasislam.com/2010/07/adakah-amalan-sunnah-yang-lebih-utama.html (Juli 2010)

kajian sunnah tarakan

Hadirilah Kajian Islam Fiqih Kitab Riyadhus Shalihin di Masjid Darun Najah Karang Anyar Tarakan 20200129

Hadirilah Kajian Islam Fiqih Kitab Riyadhus Shalihin di Masjid Darun Najah Karang Anyar Tarakan 20200129 - Kajian Islam Tarakan
Hadirilah 
Kajian Islam 
Fiqih Kitab Riyadhus Shalihin 
"Syarat Rukum Menguburkan Jenazah"
Rabu, 29 Januari 2020
Ba'da Sholat Magrib s/d masuk waktu Isya
di Masjid Jami' Darun Najah Karang Anyar Tarakan 
Penceramah : Ustadz Abdul Wachi, S.PdI

Sumber Instagram : @masjiddarunnajahtarakan

Hadirilah Khataman Quran dan Kajian Dhuha di Pesantren Tahfizh Daarul Quran Kaltara 20200202

Hadirilah Khataman Quran dan Kajian Dhuha di Pesantren Tahfizh Daarul Qur'an Kaltara 20200202 - Kajian Islam Tarakan
Hadirilah Khataman Quran dan Kajian Dhuha di Pesantren Tahfizh Daarul Qur'an Kaltara

[KHATAMAN QUR'AN & KAJIAN DHUHA]

Assalamu'alaikum wr wb.
Semangat pagi sahabat daqu 😀
Udah pertengahan pekan aja nih sahabat.
Sudah berapa banyak kita beramal kebaikan?
Sudah punya kenalan sholeh baru?
Atau, sudah wujudkan mimpi apa sampai hari ini?
Apapun capaian kita, amal kita, dan mimpi kita, semoga Allah menilainya sebagai bekal akhirat yang akan membawa kebahagiaan hakiki untuk kita ya sahabat 😊

Kembali hadir di bulan kedua 2020, Khataman dan Kajian Dhuha. In sya Allah akan dilaksanakan,
📅 Ahad, 02/02/20
🕘 08.30 wita
🏠 Pesantren Tahfizh Daarul Qur'an Kaltara (Jl. Sei Bengawan, Juata Permai, Tarakan Utara)
👳🏻 H.M. Shaberah, S.Ag, M.M (Kepala Kantor Kemenag kota Tarakan)

Yuk niatkan hadir dan ajak keluarga, sahabat, kenalan untuk ramaikan agenda kebaikan ini.
Jangan ragu buat sebarkan info ini ya 😉

Salam ukhuwah 🙏🏻
-----------------------------------------------------------------
Rekening Sedekah Pesantren
Bank Muamalat 606 0013 570
A.n. Pesantren Tahfizh Daarul Quran Kaltara

PPPA Daarul Qur'an Kaltara Office Branch
Jalan Seroja RT. 2 No. 49, Karang Anyar
Tarakan, Kalimantan Utara
📱0811 5375 222
Email : pppadaqu.tarakan@gmail.com
Follow us
IG : @pesantrendaqu_kaltara
FP : PPPA Daqu Kalimantan Utara

Sumber FB : PPPA Daarul Qur'an Kalimantan Utara (https://www.facebook.com/PesantrenDaqukalimantanutara)
29 Januari 2020 (5 jam) ·

Kajian Fiqih 4 Mazhab di Masjid Al Barokah Skip Tarakan bersama Ustadz Arman Aryadi 20200128

Kajian Fiqih 4 Mazhab di Masjid Al Barokah Skip Tarakan bersama Ustadz Arman Aryadi, S.HI

Nanang Kurniawan menayangkan siaran langsung — bersama Juliansyah dan 49 lainnya di Mesjid Al Barokah, Skip Tarakan.
28 Januari 2020 (14 jam) · Tarakan, Kalimantan Utara ·
Ngaji rutin FiQih bersama
Ust. Arman Ar Ryadhy

Sumber FB : Nanang Kurniawan (https://www.facebook.com/nanang.kurniawan.503)

di upload ulang oleh channel Youtube : Tarakan Info (https://www.youtube.com/channel/UCryFul7HqIHLGV4gTmJSMHA)

playlists : Kajian Tarakan (https://www.youtube.com/playlist?list=PLQkBcfA8bVriHYJe_ZsH8sQc_Z7hLNpoC)

Website Tarakan Info : https://www.tarakan.info
Web Sejuk  Tarakan : https://sejuk.tarakan.info
Web Kajian Tarakan : https://kajian.tarakan.info

#KajianIslam #kajiantarakan #kajianfiqih #kajian #tarakan #tarakaninfo #infotarakan #kotatarakan #tarakankota #kajianustadz #kajiankitab #masjidtarakan #ustadzarmanaryadi #ngajifiqih

Kajian Islam, kajian tarakan, kajian fiqih, kajian, tarakan, tarakan info, info tarakan, kota tarakan, tarakan kota, kajian ustadz, kajian kitab, masjid tarakan, kajian sunnah tarakan

Kajian Aqidah Kitab Sullam Taufiq di Masjid Al Muharram Ladang Tarakan 20200128

Kajian Aqidah Kitab Sullam Taufiq di Masjid Al Muharram Ladang Tarakan Bersama Ustadz Abdul Wachid, S.PdI

Achmad Zaky Al Fuady menayangkan siaran langsung — bersama AL Muhaajir dan 21 lainnya di Masjid Al Muharram.
14 jam · Tarakan, Kalimantan Utara ·
#Pengajian_Umum
Setiap Selasa Malam Ba'da Sholat Magrib
Bersama Ustadz Abdul Wahid S.Pd.i
Kitab Mukhtashor sirotunnabi

Sumber Facebook : Achmad Zaky Al Fuady (https://www.facebook.com/bang.zaki.9047)

di upload ulang oleh channel Youtube : Tarakan Info (https://www.youtube.com/channel/UCryFul7HqIHLGV4gTmJSMHA)

playlists : Kajian Tarakan (https://www.youtube.com/playlist?list=PLQkBcfA8bVriHYJe_ZsH8sQc_Z7hLNpoC)

Website Tarakan Info : https://www.tarakan.info
Web Sejuk  Tarakan : https://sejuk.tarakan.info
Web Kajian Tarakan : https://kajian.tarakan.info

#KajianIslam #kajiantarakan #kajianfiqih #kajian #tarakan #tarakaninfo #infotarakan #kotatarakan #tarakankota #kajianustadz #kajiankitab #masjidtarakan #tarakanayongaji

Kajian Islam, kajian tarakan, kajian fiqih, kajian, tarakan, tarakan info, info tarakan, kota tarakan, tarakan kota, kajian ustadz, kajian kitab, masjid tarakan, kajian sunnah tarakan

Shalat Sunnah Berjamaah

Shalat Sunnah Berjamaah - Kajian Sunnah Tarakan
Shalat Sunnah Berjama'ah
بسم الله الرحمن الرحيم
Shalat sunnah dalam istilah lain juga disebut dengan nawafil, mandub dan mustahab. Secara lughat kata-kata tersebut mempunyai makna tambah (ziyadah), sedangkan secara istilah mempunyai makna: shalat-shalat selain shalat fardlu.

Shalat sunnah dibagi menjadi dua macam:

1. Shalat sunnah yang disunnahkan untuk dikerjakan secara berjamaah, meliputi shalat 'idain (Idul Fithri dan Idul Adlha), shalat tarawih, shalat gerhana matahari dan bulan dan shalat istisqa'.

2. Shalat sunnah yang disunnahkan untuk dikerjakan secara sendiri (munfarid/tidak berjamaah). Terbagi menjadi dua macam:
a. Shalat-shalat sunnah yang mengikuti terhadap shalat fardlu atau yang disebut dengan shalat rawatib.
b. Shalat-shalat sunnah yang tidak mengikuti shalat fardlu, seperti shalat tahiyatul masjid, witir, tahajjud, dluha, isyraq, istikharah, isti'adzah, tasbih dan lain-lain.

Yang menjadi pertanyaan adalah; apakah shalat-shalat sunnah yang tidak disunnahkan untuk dikerjakan secara berjamaah ini boleh dikerjakan secara berjamaah? Seperti halnya shalat dhuha, tasbih dan shalat-shalat sunnah yang lain apakah boleh dikerjakan secara berjamaah? Dan pernahkah Rasulullah melakukan hal itu?

Dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya yang bersumber dari sahabat Anas bin Malik mengisahkan:

أَنَّ جَدَّتَهُ مُلَيْكَةَ دَعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِطَعَامٍ صَنَعَتْهُ فَأَكَلَ مِنْهُ ثُمَّ قَالَ قُومُوا فَأُصَلِّيَ لَكُمْ قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ فَقُمْتُ إِلَى حَصِيرٍ لَنَا قَدْ اسْوَدَّ مِنْ طُولِ مَا لُبِسَ فَنَضَحْتُهُ بِمَاءٍ فَقَامَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَفَفْتُ أَنَا وَالْيَتِيمُ وَرَاءَهُ وَالْعَجُوزُ مِنْ وَرَائِنَا فَصَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ انْصَرَفَ. (رواه مسلم)

"Bahwa neneknya yang bernama Mulaikah mangundang Rasulullah SAW untuk menikmati makanan yang telah dihidangkannya, maka Rasulullah SAW memakan makanan itu, kemudian beliau bersabda: "Bangunlah kalian semua, aku akan shalat untuk kalian (shalat bersama kalian). Sahabat Anas berkata: "Maka aku berdiri di atas tikar yang warnanya telah menghitam karena sudah lama tidak digunakan. Lalu aku menyipratkan air ke tikar tersebut, kemudian Rasulullah SAW berdiri di atas tikar itu, aku dan al-Yatim (Dlumairah) berdiri membentuk barisan di belakang Rasulullah SAW dan para wanita-wanita tua berdiri di belakang kami. Kemudian setelah itu Rasulullah SAW shalat dua rakaat bersama kami, kemudian beliau pergi." [H.R. Muslim].

Pada hadits di atas Rasulullah mengerjakan shalat dua rakaat bersama sahabat Anas, Dlumairah dan para wanita tua. Shalat yang dikerjakan oleh Rasulullah ini adalah shalat sunnah. Hal itu berdasarkan keterangan dari beberapa hadits di antaranya:

1. Riwayat Imam Muslim, dari sahabat Anas RA:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْنَا وَمَا هُوَ إِلَّا أَنَا وَأُمِّي وَأُمُّ حَرَامٍ خَالَتِي فَقَالَ قُومُوا فَلِأُصَلِّيَ بِكُمْ فِي غَيْرِ وَقْتِ صَلَاةٍ فَصَلَّى بِنَا. (رواه مسلم)

"Dari sahabat Anas RA, beliau berkata: "Nabi SAW masuk ke (rumah) kami, sedangkan di situ hanya ada aku, ibuku dan Umi Haram bibiku, lalu Nabi SAW bersabda: "Bangunlah kalian semua, aku akan shalat bersama kalian." pada selain waktu shalat, lalu beliau shalat bersama kami." [H.R. Muslim].

2. Riwayat Imam Abu Dawud, dari sahabat Anas RA yang mengatakan:

ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ تَطَوُّعًا. (رواه ابو داود)

"Kemudian Rasulullah SAW melakukan shalat sunnah dua rakaat bersama kami." [H.R. Abu Dawud].

3. Dari Ibnu Abbas ra. berkata,"Aku shalat bersama Rasulullah SAW pada suatu malam, aku duduk di sebelah kiri beliau. Lalu Rasulullah SAW memegang kepalaku dari belakang dan menggeser aku hingga berada pada posisi di sebelah kanan beliau." (HR Bukhari dan Muslim)

Dari keterangan beberapa hadits di atas, para ulama seperti Imam al-Nawawi dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim, Imam Ibnu Rajab dalam kitabnya Fath al-Bari, Syeikh Ibnu Daqiqil Id dalam kitabnya Ihkam al-Ahkam dan ulama yang lain berpendapat mengenai kebolehan untuk mengerjakan shalat sunnah secara berjamaah dan hal itu tidaklah dilarang. Apalagi jika shalat sunnah yang dilakukan secara berjamaah itu bertujuan untuk melatih dan mendidik seseorang (para murid atau santri) untuk selalu istiqamah dalam mengerjakan shalat tersebut, maka tentunya akan mempunyai nilai tambah tersendiri. Dan jika kita teliti dari beberapa riwayat hadits di atas dapat disimpulkan bahwa peristiwa tersebut dilakukan oleh Rasulullah SAW tidak hanya sekali saja, akan tetapi lebih dari satu kali.Wallahu'alam.

KONSULTASI ISLAM
Forum Tanya Jawab Masalah Keislaman
Media konsultasi masalah keislaman yang dibina oleh Ust. Ahmad Syahrin Thoriq, Pimpinan Ma'had Subulana Bontang Kaltim.
Mengupas dan mengulas permasalahan syariah dengan Rujukan kitab-kitab ulama Empat Madzhab.

Sumber Web : http://www.konsultasislam.com/2010/02/shalat-sunnah-berjamaah.html (Februari 2010)

kajian sunnah tarakan

Hadirilah Kajian Aqidah Kitab Sullam Taufiq Di Masjid Al Muharram Ladang Tarakan 20200128

Hadirilah Kajian Aqidah Kitab Sullam Taufiq Di Masjid Al Muharram Ladang Tarakan 20200128 - Kajian Islam Tarakan
Hadirilah 
Kajian Aqidah 
Kitab Sullam Taufiq 
Selasa, 28 Januari 2020
Ba'da Sholat Magrib s/d Masuk waktu Isya
Di Masjid Al Muharram Ladang Tarakan
Penceramah : Ustadz Abdul Wachid, S.PdI

Sumber FB : Achmad Zaky Al Fuady bersama AL Muhaajir dan 18 lainnya di Masjid Al Muharram.
58 menit · Tarakan, Kalimantan Utara ·
Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju Surga." (Shahih: HR. Muslim No. 2699)
.
INSYAALLAH BERMANFAAT JAZAKALLAHU KHAIRAN

Kajian Kitab Fathul Qorib di Masjid Al Hidayah Ladang Dalam Tarakan oleh Ustadz Abdul Wachid 20200127

Kajian Kitab Fathul Qorib di Masjid Al Hidayah Ladang Dalam Tarakan bersama Ustadz Abdul Wachid, S.Pd.I

Alhidayah Tarakan menayangkan siaran langsung.
13 jam ·

Sumber FB : Alhidayah Tarakan (https://www.facebook.com/alhidayah.tarakan)

di upload ulang oleh channel Youtube : Tarakan Info (https://www.youtube.com/channel/UCryFul7HqIHLGV4gTmJSMHA)

playlists : Kajian Tarakan (https://www.youtube.com/playlist?list=PLQkBcfA8bVriHYJe_ZsH8sQc_Z7hLNpoC)

Website Tarakan Info : https://www.tarakan.info
Web Sejuk  Tarakan : https://sejuk.tarakan.info
Web Kajian Tarakan : https://kajian.tarakan.info

#KajianIslam #kajiantarakan #kajianfiqih #kajian #tarakan #tarakaninfo #infotarakan #kotatarakan #tarakankota #kajianustadz #kajiankitab #masjidtarakan #kit #kajianislamtarakan #masjidalhidayah #kitabfathulqorib #ustadzabdulwachid #kajiansunnahtarakan

kajian islam, kajian tarakan, kajian fiqih, kajian, tarakan, tarakan info, info tarakan, kota tarakan, tarakan kota, kajian ustadz, kajian kitab, masjid tarakan, kit, kajian islam tarakan, masjid al hidayah, kitab fathul qorib, ustadz abdul wachid, kajian sunnah tarakan

Agenda Februari 2020 Daarul Quran Kaltara

Agenda Bulan Februari 2020 PPPA Daarul Qur'an Kalimantan Utara - Kajian Islam Tarakan

Agenda Bulan Februari 2020 PPPA Daarul Qur'an Kalimantan Utara

Ahad 2 Februari 2020. Pukul 09.00 wita
Khataman Qur'an dan Kajian Dhuha
di Pesantren Tahfizh Daarul Qur'an Kaltara (Jl. Sei Bengawan, Juata Permai - Tarakan)

Ahad 9 Februari 2020. Pukul 09.00 wita
Kajian Muslimah
di Masjid Darussalam (Jl. Seroja, Karang Anyar - Tarakan)

Ahad 16 Februari 2020. Pukul 08.00 & 13.00 wita
Seminar Kun Fayakun For Business dan Talkshow Millenial Menjemput Jodoh
di Gedung Serbaguna Walikota - Tarakan
*dalam konfirmasi

Ahad 23 Februari 2020. Pukul 08.30 & 07.00 wita
Kajian Dhuha 
di Masjid Darussalam (Jl. Seroja, Karang Anyar - Tarakan)
Ujian Masuk Calon Santri Daarul Qur'an 
kantor PPPA Daarul Qur'an Kaltara (Jl. Seroja, Karang Anyar - Tarakan)


[AGENDA FEBRUARI]

Assalamu'alaikum wr wb.
Sahabat, salah satu kebaikan dalam diri seorang muslim dilihat dari bagaimanana aktivitasnya.
Apakah disibukkan dengan aktivitas bermanfaat atau tidak.

Menjelang bulan Februari 2020, mimin akan bagi-bagi info kegiatan Daarul Qur'an Kaltara selama sebulan kedepan sahabat.
Kuy disimak dan siap buat ramaikan yaa 😉

See you sahabat👍
------------------------------------------------------
Rekening Sedekah Pesantren
Bank Muamalat 606 0013 570
A.n. Pesantren Tahfizh Daarul Quran Kaltara
PPPA Daarul Qur'an Kaltara Office Bracnch
Jalan Seroja RT. 2 No. 49, Karang Anyar
Tarakan, Kalimantan Utara
📱0811 5375 222
Email : pppadaqu.tarakan@gmail.com
Follow us
IG : @pesantrendaqu_kaltara
FP : PPPA Daqu Kalimantan Utara

Sumber FB : PPPA Daarul Qur'an Kalimantan Utara
26 Januari 2020·

Amalan Sunnah di Bulan Dzulhijjah

Amalan Sunnah di Bulan Dzulhijjah - Kajian Sunnah Tarakan
AMALAN SUNNAH DI BULAN DZULHIJJAH

Mohon dibahas tentang bulan dzulhijjah pak ustadz

Jawaban :

Bulan Dzulhijjah, adalah bulan yang sangat agung dan dihormati, termasuk dalam bulan-bulan Haram yang Allah sebutkan dalam al Quran yang artinya, ““Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram” (QS.  At Taubah:36).

Keagungan bulan dzulhijjah

Disebutkan  bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (Muttafaqqun ‘Alaih)

Keagungan 10 hari pertama Dzulhijjah dan beramal di dalamnya 

Terkhusus sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, ia merupakan waktu-waktu  yang dimuliakan dan diagungkan dalam Islam. Keagungan hari-hari ini  dibuktikan dengan adanya sumpah Allah dengan menggunanakan waktu-waktu tersebut  : “Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)
Imam al-Thabari dalam tafsirnya mengatakan,"Yang dimaksud ayat tersebut adalah adalah malam-malam sepuluh Dzulhijjah berdasarkan kesepakatan pendapat para ahli tafsir.”

Hal yang sama juga dijelaskan oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya :“Ia adalah sepuluh (hari pertama) Dzulhijjah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid, dan lebih dari satu ulama salaf (terdahulu) dan ulama khalaf (terkemudian).”

Tentang keutamaan amal di 10 hari pertama bulan dzulhijjah, terdapat sebuah hadits yang menerangkannya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidak ada hari-hari yang pada waktu itu amal shaleh lebih dicintai oleh Allah melebihi sepuluh hari pertama (di bulan Dzulhijjah).” Para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya, “Wahai Rasulullah, juga (melebihi keutamaan) jihad di jalan Allah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Ya, melebihi) jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar (berjihad di jalan Allah) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun.”(HR. Bukhari)

Keagungan hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari adzab neraka daripada hari ‘Arafah. Sesungguhnya Dia (pada hari itu) mendekat, kemudian menbangga-banggakan mereka (para jama’ah Haji) dihadapan para Malaikat.” Lalu Dia bertanya,”Apa yang diinginkan oleh para jama’ah Haji itu?” (HR. Muslim)

Dalam sebuah hadits lain disebutkan, “Pada hari ‘Arafah sesungguhnya Allah turun ke langit dunia, lalu membangga-banggakan mereka (para jama’ah Haji) di hadapan para Malaikat, maka Allah berfirman,’Perhatikan hamba-hamba-Ku, mereka datang kepada-Ku dalam keadaan kusut berdebu dan tersengat teriknya matahari, datang dari segala penjuru yang jauh. Aku bersaksi kepada kalian (para Malaikat) bahwa Aku telah mengampuni mereka.’” (HR.Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

Keagungan hari nahr (10 Dzulhijjah)

Tentang keutamaan hari ini, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hari teragung di sisi Allah adalah hari ‘Iedul Adh-ha (yaumul Nahr) kemudian sehari setelahnya…” (HR. Abu Dawud)
Ummu ‘Athiyyah Nusaibah binti al Harits berkata: “Kami para wanita diperintahkan untuk keluar pada hari ‘Ied hingga kami mengeluarkan gadis dalam pingitan. Juga mengajak keluar wanita-wanita yang sedang haidh, berada di belakang orang-orang. Mereka bertakbir dengan takbirnya dan mereka berdo’a dengan do’anya. Mengharapkan keberkahan dan kesucian dari hari yang agung ini.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keagungan hari-hari tasyriq

Hari Tasyriq adalah tiga hari (tgl 11,12,13 dzulhijjah) yakni hari-hari setelah yaumun Nahr. Tentangnya Allah ta’ala berfirman : “Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al Baqarah :203)

Berkata Ibnu Abbas radhiallahu anhuma: “ yang dimaksud beberapa hari yang berbilang’ adalah hari-hari tasyriq.”

 Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hari teragung di sisi Allah adalah hari ‘Iedul Adh-ha (yaumun Nahr) kemudian sehari setelahnya… (HR. Abu Dawud)

Belia juga bersabda,  “Hari ‘Arafah, hari raya kurban dan hari-hari tasyriq merupakan hari raya kita pemeluk Islam, dan dia merupakan hari-hari makan dan minum.” (HR. Abu Dawud)

Ibnu Rajab rahimahullah menyatakan,” Dalam sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa hari-hari tersebut merupakan ‘hari-hari makan dan minum serta dzikir kepada Allah’, sebagai sebuah isyarat bahwa makan dan minum pada hari-hari raya tersebut merupakan mekanisme yang membantu untuk meningkatkan dzikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya. Sebagai bagian dari kesempurnaan mensyukuri nikmat Allah, yaitu menjadikan hari-hari makan dan minum sebagai alat yang menolongnya untuk berbuat ta’at kepada-Nya…”(Latha iful Ma’aarif, Ibnu Rajab)

Demikianlah, di bulan ini, -khususnya di 10 hari pertamanya - terdapat berbagai macam amalan-amalan besar, dengan pahala yang sangat besar pula, bahkan salah satu rukun Islam pun hanya bisa diamalkan di bulan ini, menunaikan ibadah Haji, Qurban dan lainnya, yang akan kita rinci berikut ini.


Amalan bulan Dzulhijjah

Menunaikan Ibadah Haji

Ibadah Haji adalah salah satu rukun Islam yang hanya bisa dilaksanakan di bulan Dzulhijjah ini. Rasulullah bersabda yang artinya, “Islam dibangun atas 5 perkara” di antaranya “berhaji ke baitullah” (HR Bukhari dan Muslim).

Ibadah haji menunjukkan pengorbanan seorang hamba, dengan fisiknya, hartanya, waktunya. Maka tujuan terbesar ibadah haji bukanlah plesir dan wisata, akan tetapi untuk beribadah kepada Allah dan mengharapkan ampunanNya. Sehingga sekembalinya seorang sepulang menunaikan ibadah haji, kondisinya menjadi lebih baik dari sebelum berhaji, lebih merasakan nikmatnya beribadah, lebih dermawan, lebih mantap dalam akidahnya dan bertambah kebaikan-kebaikan lainnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Tak ada pahala yang pantas untuk haji mabrur selain surga” (HR Bukhari Muslim).

Puasa Arafah

Bagi umat Islam yang menunaikan ibadah haji, hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah menjadi puncak rangkaian pelaksanaan ibadah haji. Berbalut kain ihram, mereka berkumpul di padang Arafah, memuji kebesaran Allah dan memohon ampunanNya, tidak pandang bulu, tua, muda, kaya , miskin, pejabat tinggi ataupun rakyat biasa semuanya sama. Inilah gambaran suasana di padang Mahsyar ketika manusia pada hari kiamat dibangkitkan dari alam kuburnya untuk mempertanggung jawabkan amalannya masing-masing, sungguh suasana yang teramat syahdu.

Bagi umat Islam yang tidak menunaikan ibadah haji, disunnahkan untuk berpuasa pada tanggal 9 Dzulhijjah tersebut, dan dikenal dengan nama Puasa Arafah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Puasa satu hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya” (HR Muslim). Perlu juga kita perhatikan, menurut penjelasan para ulama, terhapusnya dosa pada hadits ini adalah dosa-dosa kecil.

Memperbanyak puasa di awal Dzulhijjah

Dari Ummul Mukminin, Hafshah, bahwa Nabi nmelaksanakan puasa asyura, sembilan hari pertama Dzulhijjah, dan tiga hari tiap bulan. (HR. An Nasa’i).

Di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah ‘Abdullah bin ‘Umar -radhiyallahu ‘anhuma-. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama.

Berhari Raya

Pada tanggal 10 Dzulhijjah, umat Islam di seluruh dunia merayakan hari raya Idul Adha. Hari raya adalah hari ketika umat Islam bersenang-senang, dan bahkan bersenang-senang pada hari itu adalah sebuah ibadah yang berpahala di sisi Allah (tentunya bukan bersenang-senang dengan melakukan hal yang haram dan maksiat), betapa indahnya Islam.

Di antara yang menunjukkan indahnya Islam, adalah adanya sholat yang khusus dilaksanakan di pagi hari raya, sholad Idul Adha. Agar umat Islam benar-benar menyadari bahwa segala kenikmatan dan kesenangan yang mereka rasakan adalah karunia Allah, dan kewajiban mereka adalah senantiasa bersyukur dan memuji kebesaran Allah.

Hal yang penting untuk diperhatikan pula dalam pelaksanaan shalat Idul Adha, bahwa tidak ada shalat sebelum (qabliyyah) maupun sesudah (ba’diyyah) shalat Idul Adha. Ibnu Abbas mengatakan, ““Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar pada hari Idul Adha atau Idul Fithri, lalu beliau mengerjakan shalat ‘ied dua raka’at, namun beliau tidak mengerjakan qabliyah maupun ba’diyah ‘ied“ (HR Bukhari Muslim)

Berqurban

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” (al Kautsar: 2). 

Banyak sekali ayat dan juga hadits Nabi yang menyebutkan perintah berkurban, sebaimana yang telah kami muat diedisi lalu. Fadhilah dan balasannya juga begitu menggiurkan hati orang yang mengimaninya.

Sehingga sangat disayangkan, bila ada umat Islam yang setiap bulan sanggup mengeluarkan untuk pulsa telepon, internet, beli ini dan itu, tapi setahun sekali dituntut untuk berkurban, sebagai wudud syukur atas nikmat melimpah yang selama ini diberikan,  ia enggan dan meremehkan.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita dengan sabdanya, “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat Ied kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Memperbanyak dzikir khususnya takbir

Allah berfirman yang artinya, “…supaya mereka berzikir (menyebut) nama Allah pada hari yang telah ditentukan…” (QS. Al-Hajj: 28).

Allah juga berfirman yang artinya, ““….Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang…” (QS. Al-Baqarah: 203).

 Ibnu Abbas berkata “Yang dimaksud “hari yang telah ditentukan” adalah tanggal 1 – 10 Dzulhijjah, sedangkan maksud ”beberapa hari yang berbilang” adalah hari tasyriq, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah” (HR Bukhari).

Rasulullah n bersabda yang artinya,  “Tidak ada amal yang dilakukan di hari yang lebih agung dan lebih dicintai Allah melebihi amal yang dilakukan pada tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. Oleh karena itu, perbanyaklah membaca tahlil, takbir, dan tahmid pada hari itu.” (HR. Ahmad dan Sanadnya dishahihkan Syekh Ahmad Syakir).

Memperbanyak amal shalih

Di bulan ini dianjurkan juga memperbanyak amalan-amalan shalih lainnya berupa shalat, sedekah, jihad, membaca Al Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipatgandakan pahalanya. Amalan yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah utama. Sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang utama, kecuali jihadnya orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.

Demikian Pembahasan tentang amalan-amalan yang dianjurkan di bulan mulia ini. Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita untuk mengamalkannya. Wallahu a’lam.

KONSULTASI ISLAM
Forum Tanya Jawab Masalah Keislaman
Media konsultasi masalah keislaman yang dibina oleh Ust. Ahmad Syahrin Thoriq, Pimpinan Ma'had Subulana Bontang Kaltim.
Mengupas dan mengulas permasalahan syariah dengan Rujukan kitab-kitab ulama Empat Madzhab.

Sumber Web : http://www.konsultasislam.com/2014/09/amalan-sunnah-di-bulan-dzulhijjah.html (September 2014)

Hadirilah Kajian Kitab Fathul Qorib di Masjid Al Hidayah Ladang Dalam Tarakan bersama Ustadz Abdul Wachid 20200127

Hadirilah Kajian Kitab Fathul Qorib di Masjid Al Hidayah Ladang Dalam Tarakan bersama Ustadz Abdul Wachid 20200127 - Kajian Islam Tarakan
Hadirilah
Kajian Kitab Fathul Qorib 
Tanggal : 27 Januari 2020
Pukul : 18.30 wita (Ba'da Maghrib)
Tempat : Masjid Al-Hidayah Ladang Dalam - Tarakan
Penceramah : Ustadz Abdul Wachid, S.Pd.I
Kerjasama : MWCNU Tarakan Tengah & Masjid Al-Hidayah

Sumber FB : Alhidayah Tarakan (https://www.facebook.com/alhidayah.tarakan)
21 jam ·

Kajian Dhuha di Masjid Darul Akbar Karang Anyar Tarakan Bersama Ustadz Abdul Wachid Azhari 20200126

Kajian Dhuha di Masjid Darul Akbar Karang Anyar Tarakan Bersama Ustadz Abdul Wachid Azhari, S.PdI

[KAJIAN DHUHA]

Alhamdulillah telah terlaksana Kajian Dhuha bersama Ust. Abdul Wahid Azhari, S.PdI bertempat di Masjid Darul Akbar, Karang Anyar.

Kajian Dhuha kali ini membahas mengenai "Peliharalah Diri dan Keluarga dari Api Neraka". Ust Abdul Wahid menyampaikan bahwa kita wajib menjaga diri kita agar senantiasa istiqomah menjalankan perintah Allah SWT. Tak berhenti sampai disitu, memelihara iman juga berlaku bagi keluarga atau orang-orang terdekat kita. Kita wajib mengingatkan keluarga kita untuk selalu istiqomah beribadah kepada Allah dan menjauhi larangan Allah.

Kajian ditutup dengan sholawat bersama dan donasi untuk korban kebakaran Pasar Batu kelurahan Sebengkok. Alhamdulillah terkumpul dana dari majelis dhuha untuk korban kebakaran di Pasar Batu Sebengkok sebesar Rp 706.000,-
.
Jazakumullah khairan katsiran atas donasi yang diberikan.
Semoga Allah membalas dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Aamiin allahuma aamiin.
------------------------------------------------------
Rekening Sedekah Pesantren
Bank Muamalat 606 0013 570
A.n. Pesantren Tahfizh Daarul Quran Kaltara
PPPA Daarul Qur'an Kaltara Office Bracnch
Jalan Seroja RT. 2 No. 49, Karang Anyar
Tarakan, Kalimantan Utara
📱0811 5375 222
Email : pppadaqu.tarakan@gmail.com
Follow us
IG : @pesantrendaqu_kaltara
FP : PPPA Daqu Kalimantan Utara

Kajian Dhuha di Masjid Darul Akbar Karang Anyar Tarakan Bersama Ustadz Abdul Wachid Azhari 20200126 - Kajian Islam Tarakan

Kajian Dhuha di Masjid Darul Akbar Karang Anyar Tarakan Bersama Ustadz Abdul Wachid Azhari 20200126 - Kajian Islam Tarakan

Kajian Dhuha di Masjid Darul Akbar Karang Anyar Tarakan Bersama Ustadz Abdul Wachid Azhari 20200126 - Kajian Islam Tarakan

Kajian Dhuha di Masjid Darul Akbar Karang Anyar Tarakan Bersama Ustadz Abdul Wachid Azhari 20200126 - Kajian Islam Tarakan

Sumber FB : PPPA Daarul Qur'an Kalimantan Utara
22 jam ·

Ahlussunnah Waljamaah

Ahlussunnah Waljamaah - Kajian Sunnah Tarakan
Ahlussunnah Waljama'ah

Ahlussunnah Waljama’ah - atau terkadang ditulis dengan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah adalah merupakan akumulasi pemikiran kaum muslimin dalam berbagai bidang yang dihasilkan para ulama’ untuk menjawab persoalan yang muncul pada zaman tertentu dengan menjadikan Qur’an dan Hadits sebagai rujukan.

Karenanya, proses terbentuknya Ahlussunnah Waljama’ah sebagai suatu faham atau madzhab membutuhkan jangka waktu yang panjang. Seperti diketahui, pemikiran keagamaan dalam berbagai bidang, seperti ilmu Tauhid, Fiqih, atau Tasawuf terbentuk tidak dalam satu masa, tetapi muncul bertahap dan dalam waktu yang berbeda.

Madzhab adalah metode memahami ajaran agama. Di dalam Islam ada berbagai macam madzhab, misalnya, dalam uslsudin ada Khawarij, Syi’ah Jahmi’ah, Ahmadiyah, Jabbariyyah dll. Termasuk mazhab Ahlu Sunnah. Sedangkan dalam  madzhab fiqh, misalnya yang utama adalah Malikiyah, Syafi’iyah, Hanafiyah dan Hanbaliyah, (keempatnya inilah yang diakui sebagai mazhab ahlu Sunnah dalam bidang fiqih) bisa juga ditambah dengan Syi’ah, Dhahiriyah dan Ibadiyah (al-Mausu’ah al-‘Arabiyah al-Muyassaraah, 1965: 97).

Istilah Ahlussunah wal jama’ah terdiri dari tiga kata, “ahlun”, “as-sunah” dan “al-jama’ah”. Ketiga-tiganya merupakan satu kesatuan, bukan sesuatu yang terpisah-pisah.

Pengertian Ahlun

Dalam kitab Al-Munjid fil-Lughah wal-A’alam, kata “ahl” mengandung dua makna, yakni selain bermakna keluarga dan kerabat, “ahl” juga dapat berarti pemeluk aliran atau pengikut madzhab, jika dikaitkan dengan aliran atau madzhab sebagaimana tercantum pada Al-Qamus al-Muhith.

Adapun dalam Al-Qur’an sendiri, sekurangnya ada tiga makna ‘ahl’

Pertama, ‘ahl’ bisa berarti keluarga, sebagaimana hal ini terdapat dalam  firman Allah dalam Al-Qur’an surat Hud ayat 45 : “Ya Allah sesungguhnya anakku adalah dari keluargaku (ahli-y).”

Juga makana ini terdapat dalam surat Thoha ayat 132 : “Suruhlah keluargamu (ahl-Ka) untuk mengerjakan sholat”


Kedua, ‘ahl’ berarti penduduk, seperti dalam firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-A’rof ayat 96 : “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, maka kami bukakan atas mereka keberkahan dari langit dan bumi.”

Ketiga, ‘ahl’ berarti orang yang memiliki sesuatu disiplin ilmu; (Ahli Sejarah, Ahli Kimia).

“Bertanyalah kamu sekalian kepada orang yang memiliki pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

Pengertian As-Sunnah

Menurut Abul Baqa’ dalam kitab Kulliyyat secara bahasa sunnah, berasal dari kata : "sanna yasinnu", dan "yasunnu sannan", dan "masnuun" yaitu yang disunnahkan.

As-Sunnah juga mempunyai arti "at-Thariqah" (jalan/metode/pandangan hidup) dan "as-Sirah" (perilaku) yang terpuji dan tercela. Seperti dalam sabda Rasulullah SAW : "Sungguh kamu akan mengikuti perilaku orang-orang sebelumkamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Pengertian as-Sunnah Secara Istilah (Terminologi)

Yaitu petunjuk yang telah ditempuh oleh rasulullah SAW dan para Sahabatnya baik berkenaan dengan ilmu, ‘aqidah, perkataan, perbuatan maupun ketetapan.

As-Sunnah juga digunakan untuk menyebut sunnah-sunnah (yang berhubungan dengan) ibadah dan ‘aqidah. Lawan kata "sunnah" adalah "bid'ah". 

Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya barang siapa yang hidup diantara kalian setelahkau, maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaknya kalian berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah para Khulafa-ur Rasyidin dimana mereka itu telah mendapat hidayah." (Shahih Sunan Abi Dawud oleh Syaikh al-Albani). (HR. Ahmad (IV/126-127),

Arti Kata Al-Jama’ah

Menurut Al-Munjid, kata “al-jama’ah” berarti segala sesuatu yang terdiri dari tiga atau lebih. Dalam Al-Mu’jam al-Wasith, al-jama’ah adalah sekumpulan orang yang memiliki tujuan.

Pengertian Jama'ah Secara Istilah (Terminologi):

Yaitu kelompok kaum muslimin ini, dan mereka adalah pendahulu ummat ini dari kalangan para sahabat, tabi'in dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka sampai hari kiamat; dimana mereka berkumpul berdasarkan Al-Qur-an dan As-Sunnah dan mereka berjalan sesuai dengan yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW baik secara lahir maupun bathin.

Allah Ta'ala telah memeringahkan kaum Mukminin dan menganjurkan mereka agar berkumpul, bersatu dan tolong-menolong. Dan Allah melarang mereka dari perpecahan, perselisihan dan permusuhan. Allah SAW berfirman: "Dan berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai." (Ali Imran: 103). 

Dia berfirman pula, "Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka." (Ali Imran: 105). 

Dari uraian di atas, maka makna Ahlussunnah wal jama’ah adalah golongan terbesar ummat Islam yang bermanhaj/ mengikuti sistem kenabian, baik dalam tauhid dan fiqih yaitu dengan bersandar kepad Al-Qur’an dan Hadits rasulullah SAW.

Siapakah Ahlu Sunnah  wal Jama’ah?

Ahlu Sunnah wal jama’ah adalah golonagn terbanyak kaum Muslimin. Hal ini telah diisyaratkan oleh hadits-hadits Rasulullah SAW diantaranya  yang di sebutkandalam kitab Faidlul Qadir juz II, lalu kitab Sunan Abi Daud juz. IV, kitab Sunan Tirmidzy juz V, kitab Sunan Ibnu Majah juz. II dan dalam kitab Al-Milal wan Nihal juz. I. Secara berurutan, teks dalam kitab-kitab tersebut, sebagai berikut :

“sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat atas kesesatan, maka apabila kamu melihat perbedaan pendapat maka kamu ikuti golongan yang terbanyak.”

 “Sesungguhnya barang siapa yang hidup diantara kamu setelah wafatku maka ia akan melihat perselisihan-perselisihan yang banyak, maka hendaknya kamu berpegangan dengan sunnahku dan sunnah Khufaur-rasyidin yang mendapat hidayat, peganglah sunnahku dan sunnah Khulafaur-rasyidin dengan kuat dan gigitlah dengan geraham.”

 “Sesungguhnya Bani Israil pecah menjadi 72 golongan dan ummatku akan pecah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan, mereka bertanya: siapakah yang satu golongan itu ya Rasulullah? Rasulullah menjawab; mereka itu yang bersama aku dan sahabat-sahabatku.”

“Dari Shahabat Auf r.a. berkata; Rasulullah bersabda; Demi yang jiwa saya ditangan-Nya, benar-benar akan pecah ummatku menjadi 73 golongan, satu masuk surga dan 72 golongan masuk neraka, ditanya siapa yang di surga Rasulullah? Beliau menjawab; golongan mayoritas (jama’ah). Dan yang dimaksud dengan golongan mayoritas mereka yang sesuai dengan sunnah para shahabat.”

Rasulullah Saw berkata : “Yang selamat satu golongan, dan sisanya akan hancur, ditanya siapakah yang selamat Rasulullah? Beliau menjawab Ahlussunnah wal Jama’ah, beliau ditanya lagi apa maksud dari Ahlussunnah wal Jama’ah? Beliau menjawab; golongan yang mengikuti sunnahku dan sunnah shahabatku.”

Siapa saja yang termasuk Ahlu Sunnah  wal Jama’ah ?

Karena Ahlu Sunnah wal Jama’ah adalah satu-satunya firqah (golongan) yang selamat dari sekian banyak firqah sesat, maka setiap kaum muslimin mendaku dan mengklaim bahwa diri mereka sebagai Ahlu Sunnah  wal Jama’ah. Dan klaim seperti ini sebenarnya tidak menimbulkan masalah. Yang menjadi masalah adalah, ketika sebagian kaum muslimin menganggap dirinya dan golongannya sebagai Ahlu Sunnah  wal Jama’ah (sring disingkat Sunni) sedangkan orang yang diluar golongannya sebagai yang bukan Sunni. Inilah yang pernah terjadi, Dulu orang-orang NU, misalnya, mengklaim dirinyalah Ahlus Sunnah, karena mereka menggariskan akidahnya mengikuti Asy’ari dan Maturidi. Mereka menganggap Muhammadiyah bukan Ahlus Sunnah karena tidak mengikuti kedua mazhab tersebut. Sebaliknya, Muhammadiyah pernah menganggap orang-orang NU sebagai ahl al-bid‘ah, dan karenanya tidak layak disebut Ahlus Sunnah; yang layak disebut Ahlus Sunnah hanya orang-orang Muhammadiyah. Klaim seperti ini bisa terjadi, karena masing-masing membangun klaim dengan pijakan dan paradigma yang berbeda. Dan akhir-akhir ini, gejala ini mulai menjangkit kembali dikalangan kaum muslimin, dan tentu prilaku seperti ini adalah sangat tercela. Mengapa ? karena dengan mengatakan saudara kita yang berbeda pendapats ebagai yang bukan Ahlussunnah wal Jama’ah, kita sama dengan menganggap sesat mereka, mengkafirkan mereka dan menganggap mereka sebagai ahli neraka. Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan : “Apabila seseorang berkata kepada saudaranya : ‘ya kafir’, maka perkataan itu akan kembali kepada salah satu diantara keduanya.” (HR. Muslim)

Karena itu, perlu kita camkan perkataan Imam Ahmad bin Hanbal ketika mensifati kaum Muslimin yang beri’tiqad dan bermazhab ahlu Sunnah  wal Jama’ah agar kita tidak mudah mengeluarkan seseorang dari Jama’ah ini. Beliau –rahimahullah- berkata :

“Siapa saja yang bersaksi, bahwa tidak ada tuhan melainkan hanya Allah Swt., tiada sekutu bagi-Nya, serta Muhammad saw. adalah hamba dan Rasul-Nya. Dia juga mengakui semua yang dibawa oleh para nabi dan rasul, tidak ada sedikitpun keraguan dalam keimanannya. Dia tidak mengkafirkan satu orang pun yang masih bertauhid karena satu dosa. Dia mengharapkan semua perkara yang hilang darinya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan menyerahkan urusannya hanya kepada-Nya. Dia meyakini bahwa apa saja berjalan menurut qadha’ dan qadar Allah, semuanya, baik dan buruknya. Dia juga mengharapkan kebaikan untuk umat Muhammad dan mengkhawatirkan keburukan menimpa mereka. Tak seorang pun umat Muhammad masuk surga dan neraka karena kebaikan yang dilakukannya, dan dosa yang diperbuatnya, sampai Allah SWT-lah yang memasukan ciptaan-Nya sebagaimana yang Dia kehendaki. Dia mengetahui hak orang salaf yang telah dipilih oleh Allah untuk menyertai Nabi-Nya. Dia mendahulukan Abu Bakar, Umar dan Utsman serta mengakui hak Ali bin Abi Thalib, Zubair, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, Said bin Zaid bin Amr bin Nufail atas para Sahabat yang lain. Merekalah sembilan orang yang telah bersama-sama Nabi saw. berada di atas Gunung Hira’. Dia menceritakan keutamaan mereka dan menahan diri terhadap apa yang mereka perselisihkan di antara mereka. Dia shalat Idul Fitri dan Adha, Khauf, shalat berjamaah dan Jumat bersama semua pemimpin, baik yang taat maupun zalim. Dia mengusap dua sepatu ketika bepergian dan ketika tidak, meng-qashar shalat ketika bepergian. Dia meyakini al-Quran kalam Allah, dan diturunkan, bukan makhluk. Dia meyakini bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang. Dia meyakini bahwa jihad tetap berlanjut sejak Allah mengutus Muhammad saw. hingga sisa generasi terakhir yang memerangi Dajjal, saat tak akan ada yang bisa mencelakakan mereka kezaliman orang yang zalim. Dia menyatakan, bahwa jual-beli halal hingga Hari Kiamat sesuai dengan hukum Kitab dan Sunnah. Dia shalat jenazah dengan empat takbir dan mengurus umat Islam dengan baik. Dia tidak melakukan perlawanan terhadap mereka dengan pedang Anda. Jangan berperang karena fitnah. Diamlah di rumah Allah. Dia mempercayai azab kubur; mengimani Malaikat Munkar-Nakir; meyakini adanya telaga, syafaat; meyakini bahwa orang-orang yang mempunyai tauhid akan keluar dari neraka setelah mereka diuji, sebagaimana sejumlah hadis telah menyatakan hal ini dari Nabi saw. Kita mengimaninya, dan tidak perlu banyak contoh untuk semuanya tadi. Inilah yang disepakati oleh para ulama dari berbagai penjuru dunia.” (Burhanuddin Ibrahim bin Muhammad, al-Maqshad al-Arsyad fi Dzikr Ashhab al-Imam Ahmad, Maktabah ar-Rusyd,  Riyadh, cet. I, 1990, II/336-339.)

Dengan demikian, Ahlus Sunnah wal Jamaah itu tidak identik dengan mazhab atau golonagn tertentu, tetapi siapa saja yang memenuhi kualifikasi di atas. Dan imam An-Nawawi juga menyatakan, bahwa boleh jadi Ahlus Sunnah wal Jamaah berserakan di antara berbagai ragam kaum muslimin, mereka yang sebagai mujahid atau pasukan perang, ada yang ahli fikih, hadist, ahli zuhud, dan orang-orang yang memerintahkan kemakrufan serta mencegah kemunkaran, dan  ada juga ahli kebaikan yang lain. Mereka ini tidak mesti, mereka terkumpul di satu tempat. Sebaliknya, boleh jadi mereka berserakan di berbagai belahan bumi. Wallahu’alam.

“Katakanlah: Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya." (QS. al-Isra' : 84).

KONSULTASI ISLAM
Forum Tanya Jawab Masalah Keislaman
Media konsultasi masalah keislaman yang dibina oleh Ust. Ahmad Syahrin Thoriq, Pimpinan Ma'had Subulana Bontang Kaltim.
Mengupas dan mengulas permasalahan syariah dengan Rujukan kitab-kitab ulama Empat Madzhab.

Sumber  Web : http://www.konsultasislam.com/2010/01/ahlu-sunnah-wal-jamaah.html (Januari 2010)

kajian sunnah tarakan

Lebih Baik Belajar atau Ibadah Sunnah?

Lebih Baik Belajar atau Ibadah Sunnah? - Kajian Sunnah Tarakan
Lebih Baik Belajar atau Ibadah Sunnah?

Menuntut ilmu adalah kemuliaan dan keutamaan. Apalagi ilmu yang bermanfaat bagi orang banyak. Demikian pula ibadah sunnah, semisal shalat, puasa, baca al-Qur’an, dan lain-lain.

Kalau bisa melakukan keduanya, rajin ibadah sunnah dan rajin belajar, tentu lebih baik. Tapi kalau tidak bisa, misalkan waktu yang tersedia tidak cukup, dan diharuskan untuk memilih mana yang harus didahulukan?

Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ menjelaskan persoalan ini secara rinci. Bahkan beliau membuat bab khusus tentang keutamaan menuntut ilmu daripada ibadah sunnah, semisal shalat dan puasa, dan ibadah individu lainnya. Ia membuat bab dengan judul:

فصل في ترجيع الاشتغال بالعلم على الصلاة والصيام وغيرهما من العبادات القاصرة على فاعلها

Artinya, “Sebuah pasal tentang keutamaan menuntut ilmu dari shalat dan puasa, serta ibadah qashirah (individual) lainnya.”

Dalam bagian ini, Imam An-Nawawi menukil banyak riwayat dari Khatib Al-Baghdadi terkait keutamaan menuntut ilmu dibanding ibadah sunnah, khususnya ibadah yang hanya bermanfaat bagi orang yang mengajarkannya saja. Di antara hadits yang menunjukkan keutamaan orang berilmu ketimbang ahli ibadah adalah:

فَقِيهٌ وَاحِدٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ

Artinya, “Satu orang faqih lebih ditakuti setan ketimbang seribu ahli ibadah,” (HR IbnuMajah).

Selain itu, ada banyak riwayat lain yang menunjukkan keutamaan orang berilmu. Misalnya, Rasul pernah mengatakan, “Majelis fikih lebih baik ketimbang ibadah enam puluh tahun”, “Orang berilmu lebih besar pahalanya ketimbang orang puasa dan berperang di jalan Allah”, dan masih banyak riwayat lain. Riwayat seperti ini banyak dikutip Khatib Al-Baghdadi dalam karyanya Al-Faqih wal Mutafaqqih.

Berdasarkan beberapa riwayat itu, Imam An-Nawawi menyimpulkan:

انهم متفقون على ان الاشتغال بالعلم أفضل من الاشتغال بنوافل الصوم والصلاة والتسبيح ونحو ذلك من نوافل عبادات البدن، ومن دلائله سوى ما سبق أن نفع العلم يعم صاحبه والمسلمين، والنوافل المذكورة مختصة به

Artinya, “Ulama salaf sepakat bahwa menuntut ilmu lebih utama ketimbang ibadah sunnah, semisal puasa, shalat, tasbih, dan ibadah sunnah lainnya. Di antara dalilnya adalah, selain yang disebutkan di atas, ilmu bermanfaat bagi banyak orang, baik pemiliknya maupun orang lain, sementara ibadah sunnah yang disebutkan (manfaatnya) khusus bagi orang yang mengerjakan saja.”

Dilihat dari manfaatnya, menuntut ilmu lebih utama ketimbang ibadah sunnah. Sebab itu, bagi orang yang dihadapkan pada situasi dilematis, antara mengerjakan ibadah sunnah atau belajar, merujuk pendapat Imam An-Nawawi di atas, belajar lebih diutamakan.

Meskipun demikian, pelajar atau santri yang mampu mengerjakan ibadah sunnah tentu lebih baik.

Kalau bisa kedua amalan baik ini dilakukan terus-menerus. Di samping rajin belajar, tapi juga rajin ibadah. Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah)

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/94003/lebih-baik-belajar-atau-ibadah-sunnah (Selasa 7 Agustus 2018 17:00 WIB)

kajian sunnah tarakan

Kajian Bidayah Al Hidayah di Masjid Al Barokah Skip Tarakan bersama Ustadz Arman Aryadi 20200124

Kajian Bidayah Al Hidayah di Masjid Al Barokah Skip Tarakan bersama Ustadz Arman Aryadi, S.Hi

Nanang Kurniawan menayangkan siaran langsung.
Jumat, 24 Januari 2020 pukul 18.51·

Sumber FB : Nanang Kurniawan (https://www.facebook.com/nanang.kurniawan.503)

di upload ulang oleh channel Youtube : Tarakan Info (https://www.youtube.com/channel/UCryFul7HqIHLGV4gTmJSMHA)

playlists : Kajian Tarakan (https://www.youtube.com/playlist?list=PLQkBcfA8bVriHYJe_ZsH8sQc_Z7hLNpoC)

Website Tarakan Info : https://www.tarakan.info
Web Sejuk  Tarakan : https://sejuk.tarakan.info
Web Kajian Tarakan : https://kajian.tarakan.info

#kajiansunnahtarakan #KajianIslam #kajiantarakan #kajianfiqih #kajian #tarakan #tarakaninfo #infotarakan #kotatarakan #tarakankota #kajianustadz #kajiankitab #masjidtarakan #ustadzarmanaryadi #ngajifiqih #kajiansunnah

kajian sunnah, Kajian Islam, kajian tarakan, kajian fiqih, kajian, tarakan, tarakan info, info tarakan, kota tarakan, tarakan kota, kajian ustadz, kajian kitab, masjid tarakan, kajian sunnah tarakan

Shalat Sunnah Qabliyah dan Badiyah Jumat

Shalat Sunnah Qabliyah dan Badiyah Jumat - Kajian Sunnah Tarakan
Shalat Sunnah Qabliyah dan Ba’diyah Jum’at

Para ulama sepakat bahwa shalat sunnat yang di lakukan setelah shalat jum'at adalah sunnah dan termasuk rawatib ba'diyah Jum'at. seperti yang di riwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Bukhari:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ الجُمْعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعاً

Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah saw bersabda: ”Jika salah seorang di antara kalian shalat Jum’at hendaklah shalat empat rakaat setelahnya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sedangkan shalat sunnah sebelum shalat Jum'at terdapat dua kemungkinan. Pertama, shalat sunnah mutlak, hukumnya sunnah. Waktu pelaksanannya berakhir pada saat imam memulai khutbah.

Kedua, shalat sunnah qabliyyah Jum'at. Para ulama berbeda pendapat tentang shalat sunnah qabliyyah Jum’at. Pertama, shalat qabliyyah Jum’ah dianjurkan untuk dilaksanakan (sunnah). Pendapat ini di kemukakan oleh Imam Abu Hanifah, Syafi'iyyah (menurut pendapat yang dalilnya lebih tegas) dan pendapat Hanabilah dalam riwayat yang tidak masyhur. Kedua, shalat qabliyyah Jum’at tidak disunnahkan menurut pendapat Imam Malik, sebagian Hanabilah dalam riwayat yang masyhur

Adapun dalil yang menyatakan dianjurkannya shalat sunnah qabliyah Jum'at: Hadist Rasulullah SAW

مَا صَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانٍ مِنْ حَدِيْثِ عَبْدِاللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ "مَا مِنْ صَلاَةٍ مَفْرُوْضَةٍ إِلاَّ وَبَيْنَ يَدَيْهَا رَكْعَتَانِ

"Semua shalat fardlu itu pasti diikuti oleh shalat sunnat qabliyah dua rakaat". (HR.Ibnu Hibban yang telah dianggap shahih dari hadist Abdullah bin Zubair). Hadist ini secara umum menerangkan adanya shalat sunnah qabliyah tanpa terkecuali shalat Jum'at.

Hadist Rasulullah SAW

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ سُلَيْكٌ الغَطَفَانِيُّ وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصَلَّيْتَ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تَجِيْءَ؟ قاَلَ لاَ. قَالَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيْهِمَا. سنن ابن ماجه

"Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a. berkata: Sulayk al Ghathafani datang (ke masjid), sedangkan Rasulullah saw sedang berkhutbah. Lalu Nabi SAW bertanya: Apakah kamu sudah shalat sebelum datang ke sini? Sulayk menjawab: Belum. Nabi SAW bersabda: Shalatlah dua raka’at dan ringankan saja (jangan membaca surat panjang-panjang)” (Sunan Ibn Majah: 1104).

Berdasar dalil-dalin tersebut, Imam al Nawawi menegaskan dalam kitab al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab:

فَرْعٌ فِيْ سُنَّةِ الجُمْعَةِ بَعْدَهَا وَقَبْلَهَا. تُسَنُّ قَبْلَهَا وَبَعْدَهَا صَلاَةٌ وَأَقَلُّهَا رَكْعَتَانِ قَبْلَهَا وَرَكْعَتَانِ بَعْدَهَا. وَالأَكْمَلُ أَرْبَعٌ قَبْلَهَا وَأَرْبَعٌ بَعْدَهَا
“(Cabang). Menerangkan tentang sunnah shalat Jum’at sebelumnya dan sesudahnya. Disunnahkan shalat sunnah sebelum dan sesudah shalat jum’at. Paling sedikit dua raka’at sebelum dan sesudah shalat jum’at. Namun yang paling sempurna adalah shalat sunnah empat raka’at sebelum dan sesudah shalat Jum’at”. (Al Majmu’, Juz 4: 9)

Adapun dalil yang menerangkan tidak dianjurkannya shalat sunnat qabliyah Jum'at adalah sbb.:

Hadist dari Saib Bin Yazid: "Pada awalnya, adzan Jum'at dilakukan pada saat imam berada di atas mimbar yaitu pada masa Nabi SAW, Abu bakar dan Umar, tetapi setelah zaman Ustman dan manusia semakin banyak maka Sahabat Utsman menambah adzan menjadi tiga kali (memasukkan iqamat), menurut riwayat Imam Bukhari menambah adzan menjadi dua kali (tanpa memasukkan iqamat). (H.R. riwayat Jama'ah kecuali Imam Muslim).

Dengan hadist di atas Ibnu al-Qoyyim berpendapat, "Ketika Nabi keluar dari rumahnya langsung naik mimbar kemudian Bilal mengumandangkan adzan. Setelah adzan selesai Nabi SAW langsung berkhutbah tanpa adanya pemisah antara adzan dan khutbah, lantas kapan Nabi SAW dan jama’ah itu melaksanakan shalat sunnat qabliyah Jum'at?

Dari dua pendapat dan dalilnya di atas jelas bahwa pendapat kedua adalah interpretasi dari tidak shalatnya Nabi SAW sebelum naik ke mimbar untuk membaca khuthbah. Sedangkan pendapat pertama berlandaskan dalil yang sudah sharih (argumen tegas dan jelas). Maka pendapat pertama yang mensunnahkan shalat qabliyyah jum’ah tentu lebih kuat dan lebih unggul (rajih).

Permasalahan ini semua adalah khilafiyah furu'iyyah (perbedaan dalam cabang hukum agama) maka tidak boleh menyudutkan di antara dua pendapat di atas. Dalam kaidah fiqih mengatakan “la yunkaru al-mukhtalaf fih wa innama yunkaru al- mujma' alaih” (Seseorang boleh mengikuti salah satu pendapat yang diperselisihkan ulama dan tidak boleh mencegahnya untuk melakukan hal itu, kecuali permasalahan yang telah disepakati). Wallahua’lam bish shawab.


HM Cholil Nafis MA
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il PBNU

Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada Selasa, 29 April 2008 pukul 08:02. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.

Sumber Web : https://islam.nu.or.id/post/read/12161/shalat-sunnah-qabliyah-dan-badiyah-jumat (Ahad 16 Juni 2019 20:30 WIB)

kajian sunnah tarakan

Shalat Sunnah Yang Tidak Disyariatkan (Ghairu Masyruah)

Shalat Sunnah Yang Tidak Disyariatkan (Ghairu Masyruah) - Kajian Sunnah Tarakan
Shalat Sunnah yang Tidak Disyariatkan (Ghairu Masyruah)

Pada dasarnya shalat sunnah (nawafil) sangat dianjurkan dalam Islam, karena sebagain ulama meng-qiyaskan shalat sunnah sebagai ‘suplemen’ bagi shalat wajib (maktubah) yang berlaku sebagai makanan pokok yang mengandung, vitamin, mineral serta zat-zat lain agar tetap sehat dan bugar.

Sebagain ulama mengkategorikan ragam shalat sunnah menjadi dua, yaitu  pertama Shalat sunnah yang mengiringi sholat fardu (shalat suannah Rawatib), terdiri dari Shalat Sunnah Qabliyah dan Shalat Sunnah Ba’diyah. Dan kedua, Shalat sunnah yang tidak mengiringi shalat fardhu yang muakkad (shalat sunnah muakkadah) yaitu shalat tahajjud, shalat tahiyyatul masjid, shalat taubat, shalat lidaf’il bala’, shalat tasbih, shalat hajat, shalat tahjjud, shalat istikharah, shalat tarawih, shalat dhuha, shalat awwabin, shalat ba’ada akad nikah, shalat qudum, shalat sunnah muthlaq, shalat witir, dan masih banyak lainnya.

Namun sebagai agama yang membumi di Nusantara, Islam tidak bisa menampik pengaruh dari masyarakat pribumi yang memeluk Islam dengan karakter ke-indonesiaan yang warna-warni. Sehingga Islam di Nusantara sangat beragam sesuai dengan norma lokalitas yang berlaku. Hal ini tidak hanya berpengaruh pada sisi muamalah tetapi juga sisi ubudiah. Terbukti dengan adanya berbagai jenis shalat sunnah yang bernuansa lokal seperti Shalat Sunnah Rebo Wekasan, Shalat Sunnah Nishfu Sya’ban, Shalat Sunnah Hadiah, Shalat Sunnah Birul Walidain dan lain sebagainya.

Mengenai hal ini perlu adanya pelurusan dan tabayyun, agar tidak menjadi sumber fitnah saling mem-bid’ahkan. Karena sesungguhnya berbagai macam shalat sunnah yang bernuansa lokal itu adalah shalat sunnah muakkadah yang dilakukan pada waktu tertentu.

Dengan demikian isitilah shalat rebo wekasan sebenarnya menunjuk pada shalat hajat atau shalat sunnah muthlaq, tetapi dilakukan pada malam rabu wekasan dengan memfokuskan do’a terhindar dari bala’.

Begitu juga dengan Shalat Nishfu Sya’ban, sesungguhnya yang terjadi adalah shalat sunnah hajat ataupun shalat sunnah muthlaq yang dilakukan pada malam paroh bulan sya’ban yang dilengkapi dengan do’a khusus memohon petunjuk kepada Allah swt. Dan begitu juga dengan shalat ssunnah hadiyah untuk mayit, yang sebenarnya merupakan shalat hajat yang memohonkan ampun atas dosa-dosa mayit yang baru dikubur.

Namun demikian sebagian ulama ahli hikmah atau ahli kasyf dengan keyakinan dan pengetahuan yang dimilikinya tetap menjadikan beberapa shalat sunnah yang bernuansa lokal itu sebagai bagain dari unsur ubudiyah dalam Islam.

Oleh karena itu, Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari rahimahullah, mengelompokkan semua macam shalat sunnah (yang bernuansa lokal itu) itu ke kelompok shalat ghairu masyru’ah fis syar’i. yaitu shalat yang tidak dianjurkan oleh syari’at. wallahu a’lam.

Redaktur: Ulil Hadrawy 
Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada Kamis, 10 Januari 2013 pukul 17:00. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.

Sumber Web : https://islam.nu.or.id/post/read/41703/shalat-sunnah-yang-tidak-disyariatkan-ghairu-masyruah (Ahad 16 Juni 2019 22:30 WIB)

kajian sunnah tarakan

Kajian Bidayah Al Hidayah di Rumah Tahfidzh Bunda At Taqwa Sebengkok Tarakan Bersama Ustadz Arman Aryadi 20200122

Kajian Bidayah Al Hidayah di Rumah Tahfidzh Bunda At Taqwa Sebengkok Tarakan Bersama Ustadz Arman Aryadi, S.HI

Arman Ar Ryadhy menayangkan siaran langsung.
22 Januari pukul 20.27 ·
Pengajian Bidayah Al Hidayah ibu2 Rumah Tahfidzh Bunda At Taqwa Sebengkok

Sumber FB : Arman Ar Ryadhy (https://www.facebook.com/armand.elryadhy)

di upload ulang oleh channel Youtube : Tarakan Info (https://www.youtube.com/channel/UCryFul7HqIHLGV4gTmJSMHA)

playlists : Kajian Tarakan (https://www.youtube.com/playlist?list=PLQkBcfA8bVriHYJe_ZsH8sQc_Z7hLNpoC)

Website Tarakan Info : https://www.tarakan.info
Web Sejuk Tarakan : https://sejuk.tarakan.info
Web Kajian Tarakan : https://kajian.tarakan.info

#KajianIslam #kajiantarakan #kajianfiqih #kajian #tarakan #tarakaninfo #infotarakan #kotatarakan #tarakankota #kajianustadz #kajiankitab #masjidtarakan #tarakanmengaji #pengajianumum #tarakanmengaji #masjidattaqwasebengkok #ustadzarmanaryadi

Kajian Islam, kajian tarakan, kajian fiqih, kajian, tarakan, tarakan info, info tarakan, kota tarakan, tarakan kota, kajian ustadz, kajian kitab, masjid tarakan, kajian sunnah tarakan, ustadz arman aryadi

Doa Kajian

Buku Kajian