Kajian Islam Tarakan

Kajian Islam, Sunnah, Kitab, Fiqih, Tafsir Qur'an oleh Ustadz Ahlu Sunnah Wal Jama'ah di Taman Taman Surga Kota Tarakan. Informasi dan Dokumentasi Kajian, Jadwal, Video, Foto, Artikel, Do'a, Pengajian Islam di Masjid Tarakan. #kajiantarakan #kajianislamtarakan #kajiansunnahtarakan #kajiankitabtarakan #kajianfiqihtarakan #kajiantafsirtarakan #kajianhadisttarakan #tarakanngaji #tarakanmengaji #masjidtarakan

Amalan Sunnah di Bulan Dzulhijjah

Amalan Sunnah di Bulan Dzulhijjah - Kajian Sunnah Tarakan
AMALAN SUNNAH DI BULAN DZULHIJJAH

Mohon dibahas tentang bulan dzulhijjah pak ustadz

Jawaban :

Bulan Dzulhijjah, adalah bulan yang sangat agung dan dihormati, termasuk dalam bulan-bulan Haram yang Allah sebutkan dalam al Quran yang artinya, ““Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram” (QS.  At Taubah:36).

Keagungan bulan dzulhijjah

Disebutkan  bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (Muttafaqqun ‘Alaih)

Keagungan 10 hari pertama Dzulhijjah dan beramal di dalamnya 

Terkhusus sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, ia merupakan waktu-waktu  yang dimuliakan dan diagungkan dalam Islam. Keagungan hari-hari ini  dibuktikan dengan adanya sumpah Allah dengan menggunanakan waktu-waktu tersebut  : “Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)
Imam al-Thabari dalam tafsirnya mengatakan,"Yang dimaksud ayat tersebut adalah adalah malam-malam sepuluh Dzulhijjah berdasarkan kesepakatan pendapat para ahli tafsir.”

Hal yang sama juga dijelaskan oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya :“Ia adalah sepuluh (hari pertama) Dzulhijjah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid, dan lebih dari satu ulama salaf (terdahulu) dan ulama khalaf (terkemudian).”

Tentang keutamaan amal di 10 hari pertama bulan dzulhijjah, terdapat sebuah hadits yang menerangkannya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidak ada hari-hari yang pada waktu itu amal shaleh lebih dicintai oleh Allah melebihi sepuluh hari pertama (di bulan Dzulhijjah).” Para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya, “Wahai Rasulullah, juga (melebihi keutamaan) jihad di jalan Allah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Ya, melebihi) jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar (berjihad di jalan Allah) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun.”(HR. Bukhari)

Keagungan hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari adzab neraka daripada hari ‘Arafah. Sesungguhnya Dia (pada hari itu) mendekat, kemudian menbangga-banggakan mereka (para jama’ah Haji) dihadapan para Malaikat.” Lalu Dia bertanya,”Apa yang diinginkan oleh para jama’ah Haji itu?” (HR. Muslim)

Dalam sebuah hadits lain disebutkan, “Pada hari ‘Arafah sesungguhnya Allah turun ke langit dunia, lalu membangga-banggakan mereka (para jama’ah Haji) di hadapan para Malaikat, maka Allah berfirman,’Perhatikan hamba-hamba-Ku, mereka datang kepada-Ku dalam keadaan kusut berdebu dan tersengat teriknya matahari, datang dari segala penjuru yang jauh. Aku bersaksi kepada kalian (para Malaikat) bahwa Aku telah mengampuni mereka.’” (HR.Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

Keagungan hari nahr (10 Dzulhijjah)

Tentang keutamaan hari ini, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hari teragung di sisi Allah adalah hari ‘Iedul Adh-ha (yaumul Nahr) kemudian sehari setelahnya…” (HR. Abu Dawud)
Ummu ‘Athiyyah Nusaibah binti al Harits berkata: “Kami para wanita diperintahkan untuk keluar pada hari ‘Ied hingga kami mengeluarkan gadis dalam pingitan. Juga mengajak keluar wanita-wanita yang sedang haidh, berada di belakang orang-orang. Mereka bertakbir dengan takbirnya dan mereka berdo’a dengan do’anya. Mengharapkan keberkahan dan kesucian dari hari yang agung ini.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keagungan hari-hari tasyriq

Hari Tasyriq adalah tiga hari (tgl 11,12,13 dzulhijjah) yakni hari-hari setelah yaumun Nahr. Tentangnya Allah ta’ala berfirman : “Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al Baqarah :203)

Berkata Ibnu Abbas radhiallahu anhuma: “ yang dimaksud beberapa hari yang berbilang’ adalah hari-hari tasyriq.”

 Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hari teragung di sisi Allah adalah hari ‘Iedul Adh-ha (yaumun Nahr) kemudian sehari setelahnya… (HR. Abu Dawud)

Belia juga bersabda,  “Hari ‘Arafah, hari raya kurban dan hari-hari tasyriq merupakan hari raya kita pemeluk Islam, dan dia merupakan hari-hari makan dan minum.” (HR. Abu Dawud)

Ibnu Rajab rahimahullah menyatakan,” Dalam sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa hari-hari tersebut merupakan ‘hari-hari makan dan minum serta dzikir kepada Allah’, sebagai sebuah isyarat bahwa makan dan minum pada hari-hari raya tersebut merupakan mekanisme yang membantu untuk meningkatkan dzikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya. Sebagai bagian dari kesempurnaan mensyukuri nikmat Allah, yaitu menjadikan hari-hari makan dan minum sebagai alat yang menolongnya untuk berbuat ta’at kepada-Nya…”(Latha iful Ma’aarif, Ibnu Rajab)

Demikianlah, di bulan ini, -khususnya di 10 hari pertamanya - terdapat berbagai macam amalan-amalan besar, dengan pahala yang sangat besar pula, bahkan salah satu rukun Islam pun hanya bisa diamalkan di bulan ini, menunaikan ibadah Haji, Qurban dan lainnya, yang akan kita rinci berikut ini.


Amalan bulan Dzulhijjah

Menunaikan Ibadah Haji

Ibadah Haji adalah salah satu rukun Islam yang hanya bisa dilaksanakan di bulan Dzulhijjah ini. Rasulullah bersabda yang artinya, “Islam dibangun atas 5 perkara” di antaranya “berhaji ke baitullah” (HR Bukhari dan Muslim).

Ibadah haji menunjukkan pengorbanan seorang hamba, dengan fisiknya, hartanya, waktunya. Maka tujuan terbesar ibadah haji bukanlah plesir dan wisata, akan tetapi untuk beribadah kepada Allah dan mengharapkan ampunanNya. Sehingga sekembalinya seorang sepulang menunaikan ibadah haji, kondisinya menjadi lebih baik dari sebelum berhaji, lebih merasakan nikmatnya beribadah, lebih dermawan, lebih mantap dalam akidahnya dan bertambah kebaikan-kebaikan lainnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Tak ada pahala yang pantas untuk haji mabrur selain surga” (HR Bukhari Muslim).

Puasa Arafah

Bagi umat Islam yang menunaikan ibadah haji, hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah menjadi puncak rangkaian pelaksanaan ibadah haji. Berbalut kain ihram, mereka berkumpul di padang Arafah, memuji kebesaran Allah dan memohon ampunanNya, tidak pandang bulu, tua, muda, kaya , miskin, pejabat tinggi ataupun rakyat biasa semuanya sama. Inilah gambaran suasana di padang Mahsyar ketika manusia pada hari kiamat dibangkitkan dari alam kuburnya untuk mempertanggung jawabkan amalannya masing-masing, sungguh suasana yang teramat syahdu.

Bagi umat Islam yang tidak menunaikan ibadah haji, disunnahkan untuk berpuasa pada tanggal 9 Dzulhijjah tersebut, dan dikenal dengan nama Puasa Arafah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Puasa satu hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya” (HR Muslim). Perlu juga kita perhatikan, menurut penjelasan para ulama, terhapusnya dosa pada hadits ini adalah dosa-dosa kecil.

Memperbanyak puasa di awal Dzulhijjah

Dari Ummul Mukminin, Hafshah, bahwa Nabi nmelaksanakan puasa asyura, sembilan hari pertama Dzulhijjah, dan tiga hari tiap bulan. (HR. An Nasa’i).

Di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah ‘Abdullah bin ‘Umar -radhiyallahu ‘anhuma-. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama.

Berhari Raya

Pada tanggal 10 Dzulhijjah, umat Islam di seluruh dunia merayakan hari raya Idul Adha. Hari raya adalah hari ketika umat Islam bersenang-senang, dan bahkan bersenang-senang pada hari itu adalah sebuah ibadah yang berpahala di sisi Allah (tentunya bukan bersenang-senang dengan melakukan hal yang haram dan maksiat), betapa indahnya Islam.

Di antara yang menunjukkan indahnya Islam, adalah adanya sholat yang khusus dilaksanakan di pagi hari raya, sholad Idul Adha. Agar umat Islam benar-benar menyadari bahwa segala kenikmatan dan kesenangan yang mereka rasakan adalah karunia Allah, dan kewajiban mereka adalah senantiasa bersyukur dan memuji kebesaran Allah.

Hal yang penting untuk diperhatikan pula dalam pelaksanaan shalat Idul Adha, bahwa tidak ada shalat sebelum (qabliyyah) maupun sesudah (ba’diyyah) shalat Idul Adha. Ibnu Abbas mengatakan, ““Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar pada hari Idul Adha atau Idul Fithri, lalu beliau mengerjakan shalat ‘ied dua raka’at, namun beliau tidak mengerjakan qabliyah maupun ba’diyah ‘ied“ (HR Bukhari Muslim)

Berqurban

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” (al Kautsar: 2). 

Banyak sekali ayat dan juga hadits Nabi yang menyebutkan perintah berkurban, sebaimana yang telah kami muat diedisi lalu. Fadhilah dan balasannya juga begitu menggiurkan hati orang yang mengimaninya.

Sehingga sangat disayangkan, bila ada umat Islam yang setiap bulan sanggup mengeluarkan untuk pulsa telepon, internet, beli ini dan itu, tapi setahun sekali dituntut untuk berkurban, sebagai wudud syukur atas nikmat melimpah yang selama ini diberikan,  ia enggan dan meremehkan.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita dengan sabdanya, “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat Ied kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Memperbanyak dzikir khususnya takbir

Allah berfirman yang artinya, “…supaya mereka berzikir (menyebut) nama Allah pada hari yang telah ditentukan…” (QS. Al-Hajj: 28).

Allah juga berfirman yang artinya, ““….Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang…” (QS. Al-Baqarah: 203).

 Ibnu Abbas berkata “Yang dimaksud “hari yang telah ditentukan” adalah tanggal 1 – 10 Dzulhijjah, sedangkan maksud ”beberapa hari yang berbilang” adalah hari tasyriq, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah” (HR Bukhari).

Rasulullah n bersabda yang artinya,  “Tidak ada amal yang dilakukan di hari yang lebih agung dan lebih dicintai Allah melebihi amal yang dilakukan pada tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. Oleh karena itu, perbanyaklah membaca tahlil, takbir, dan tahmid pada hari itu.” (HR. Ahmad dan Sanadnya dishahihkan Syekh Ahmad Syakir).

Memperbanyak amal shalih

Di bulan ini dianjurkan juga memperbanyak amalan-amalan shalih lainnya berupa shalat, sedekah, jihad, membaca Al Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipatgandakan pahalanya. Amalan yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah utama. Sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang utama, kecuali jihadnya orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.

Demikian Pembahasan tentang amalan-amalan yang dianjurkan di bulan mulia ini. Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita untuk mengamalkannya. Wallahu a’lam.

KONSULTASI ISLAM
Forum Tanya Jawab Masalah Keislaman
Media konsultasi masalah keislaman yang dibina oleh Ust. Ahmad Syahrin Thoriq, Pimpinan Ma'had Subulana Bontang Kaltim.
Mengupas dan mengulas permasalahan syariah dengan Rujukan kitab-kitab ulama Empat Madzhab.

Sumber Web : http://www.konsultasislam.com/2014/09/amalan-sunnah-di-bulan-dzulhijjah.html (September 2014)


EmoticonEmoticon