Maret 2020 - Kajian Islam Tarakan - Kajian Tarakan

Kajian Islam Tarakan

Kajian Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja) Tarakan. Kajian Islam, Kajian Sunnah, Kitab, Fiqih, Tafsir Qur'an oleh Ustadz Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Taman-Taman Surga Kota Tarakan. Informasi dan Dokumentasi Kajian, Pengajian, Ceramah, Tabligh Akbar, Jadwal, Video, Foto, Artikel, Do'a, Buku, Info Pengajian Islam di Masjid Tarakan. Semuanya hanya ada di https://kajian.tarakan.info
@kajiantarakan @tarakandotinfo #kajiantarakan #kajianislamtarakan #kajiansunnahtarakan #kajiankitabtarakan #kajianfiqihtarakan #kajiantafsirtarakan #kajianhadisttarakan #tarakanngaji #tarakanmengaji #masjidtarakan

Cara Menjelaskan Masalah Bidah?

Cara Menjelaskan Masalah Bidah? - Kajian Islam Tarakan
Cara Menjelaskan Masalah Bid'ah?
by Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA
 
Pertanyaan :Assalamu'alaikum, Ustadz.
Mohon maaf sebelumnya, saya membaca jawaban ustadz tentang ucapan ushalli sebelum shalat. Intinya ustadz menjelaskan bahwa mengatakan bid'ah kepada sesama muslim yang masih melakukan hal itu adalah tidak baik. Yang saya tanyakan, walaupun kita tahu masalah ini adalah khilaf para ulama sejak dahulu namun apakah tidak boleh bila seseorang yang meyakini dengan ilmu mencoba memberikan nasehat yang baik kepada saudaranya (walaupun saudaranya tersebut awam) bahwa ucapan ushalli itu bid'ah sesuai yang dia yakini? Apakah dikarenakan saudaranya masih melakukan hal itu kita jadi tidak menasihatinya karena takut memecah belah umat? Bukankah kita wajib meluruskan saudara kita sesuai dengan kemampuan kita?
Kemudian yang saya herankan pada sebagian saudara kita, bila ada sesama saudaranya menasihatinya bahwa dia telah melakukan perbuatan bid'ah atau hal buruk lainnya kemudian dia menganjurkan saudaranya tersebut untuk bisa bersikap toleran dan mengakui perbedaan pendapat dan tidak menuduhnya telah berbuat bid'ah. Bukankah dia juga seharusnya bersikap toleran terhadap saudaranya yang telah menuduhnya bid'ah tersebut karena yang saudaranya yakini adalah seperti itu? Bukankah kita juga dianjurkan untuk bersikap toleran kepada saudara kita yang berbeda pendapat walaupun pendapatnya mungkin menyakiti kita? Mohon penjelasan ustadz. Terima kasih.

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Menjelaskan duduk permasalahan suatu perbedaan pendapat dari sebuah hukum, tentu saja baik dan bahkan perlu dilakukan. Akan tetapi hal itu sangat berbeda dengan 'main tuduh' atau 'asal tuding'.

Misalnya dalam masalah 'ushalli' yang anda contohkan. Kalau seorang ustadz berceramah dan mengatakan bahwa masalah itu merupakan khilaf di kalangan ulama, ada yang menganjurkan tapi juga ada yang melarangnya, dengan masing-masing dilengkapi dengan landasannya, tentu saja hal itu sangat positif. Karena dengan keterangan seperti itu, masyarakat jadi tahu kedudukan sebenarnya masalah khilaf itu.

Bahwa ustadz itu kemudian lebih cenderung memilih salah satu pendapat, juga tidak mengapa. Asalkan beliau tidak sambil memaki, mengejek, menghina atau melecehkan pendapat lainnya.

Gambaran cara penjelasan yang tidak simpatik adalah seorang ustadz yang sejak awal sudah memaki-maki, melecehkan bahkan langsung main tuduh bahwa siapa pun yang melakukan perbuatan ini, pasti sesat, ahli bid'ah, pasti masuk neraka dan seterusnya. Padahal masalah itu masih menjadi polemik (khilaf) di kalangan para ulama. Artinya dengan demikian, pak ustadz ini langsung menggiring audience-nya untuk berpihak kepada pendapatnya, sekaligus menebarkan rasa kebencian kepada pendapat yang berbeda dengannya.

Bahkan tidak jarang, cara-cara yang seperti ini cenderung menghadirkan kebingungan di kalangan umat. Apalagi bila kebetulan umumnya para pendengar termasuk kalangan yang berbeda pedapat dengan pak ustadz tersebut. Akhirnya, makin besarlah rasa perbedaan yang diiringi dengan kebencian di kalangan umat.

Menjelaskan Masalah Bid'ah

Tidak ada yang salah ketika kita menjelaskan masalah bid'ah kepada umat ini. Justru penjelasanitu menjadi wajib untuk disampaikan, mengingat besarnya bahaya bid'ah.

Akan tetapi yang mutlak tidak boleh dilupakan adalah bahwa masalah vonis bid'ah ini tidak pernah sepi dari perbedaan pendapat. Hal ini menunjukkan bahwa tiap ulama punya ijtihad dan hujjah masing-masing, di mana sangat mungkinkan bahwa suatu perkara dianggap bid'ah oleh ulama A, tapi tidak dianggap bid'ah oleh ulama B. Atau boleh jadi penggunaan istilah bid'ah itu sendiri punya pengertian dan cakupan yang saling berbeda antara satu ulama dengan ulama lain.

Maka menjadi sangat tidak mungkin bagi kita untuk menggeneralisir begitu saja semua masalah bid'ah menjadi satu versi saja. Sebab yang namanya ulama itu bukan hanya ada satu saja di dunia ini. Sehingga kehati-hatian, ketelitian serta kematangan pemahaman akan masalah bid'ah dan pengertiannya ini menjadi krusial bagi seorang penceramah.

Bila sebuah masalah sudah disepakati kebid'ahannya oleh semua lapisan ulama baik salaf maupun khalaf, tentu saja kita wajib menyampaikannya kepada khalayak. Sebab kita wajib melindungi umat dari bahaya bid'ah.

Akan tapi kalau masih ada perbedaan di dalam suatu masalah, Apakah termasuk bid'ah atau bukan, di mana para ulama sendiri masih berpolemik, maka yang lebih bijak untuk kita lakukan adalah berpegang kepada kejujuran ilmiyah. Katakan bahwa sebagian ulama membid'ahkannya tapi sebagian lainnya tidak sampai demikian. Tidak ada ruginya menjalankan kejujuran, bahkan kejujuran adalah bagian dari ketinggian ilmu seorang ustadz. Dan tidak perlu malu mengatakan hal demikian, toh kewajiban kita hanya menyampaikan saja.

Kita tidak diminta Allah menjadi orang yang paling bertanggung-jawab atas tersebarnya masalah bid'ah di tengah umat. Sehingga kita tidak perlu berkeluh-kesah atas masih bertaburannya bid'ah. Yang diminta oleh Allah kepada kita hanyalah menyampaikan dengan lemah lembut, penuh rasa kasih, serta dengan mengajak secara baik-baik.

Allah SWT tidak meminta kita untuk memerangi orang yang masih melakukan bid'ah dengan cara memaki, mencaci, mencela, melecehkan atau menyakiti hati mereka. Apalagi dengan cara memboikot, menelikung, mengucilkan, tidak bertegur sapa, atau cara-cara kasar lainnya. Semua itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah, justru akan membuat umat semakin membenci dan berlari dari kita.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Sumber Website : https://rumahfiqih.com/x.php?id=1155706201&title=cara-menjelaskan-masalah-bid-039ah (Tue 22 August 2006 05:05)

Himbauan Masjid Al Muharram Ladang Kota Tarakan Tentang Wabah COVID-19

Himbauan Masjid Al Muharram Ladang Kota Tarakan Tentang Wabah COVID-19 - Kajian Islam Tarakan
Himbauan Masjid Al Muharram Ladang Kota Tarakan Tentang Wabah COVID-19

Masjid Al Muharram Ladang Kota Tarakan

Disampaikan Kepada Kaum Muslimin dan Muslimat 
Kegiatan Sholat Berjamaah Di Masjid Al-Muharram Ladang Sementara Di Tiadakan Akan Terapi Adzan Tetap Di Kumandangkan Setiap Waktu Sholat
"Kami Tidak Melarang Anda Ke Masjid Demi Menghindari Penu;aran Wabah Virus COVID-19 (Corona) Sebaiknya Sholatlah Dirumah. Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Bijaksana"

Pertanda

Ketua Ta'mir Masjid Al-Muharram Ladang

Sumber FB : Masjid Al Muharram Ladang Tarakan
30 Maret 2020 (22 jam ·)

Mengapa Harus Salafi?

Mengapa Harus Salafi? - Kajian Islam Tarakan
Mengapa Harus Salafi?
by Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA

Pertanyaan :Assalamu'alaikum wr. wb.
Mudah-mudahan Allah selalu melimpahkan rahmat bagi Ustadz dan keluarga. Maaf pak ustadz, pertanyaan saya panjang. Dari sebuah situs Islam www.assunnah.or.id saya membaca artikel dari Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani yang berjudul "Mengapa harus Salafi?" di antaranya menyebutkan "Siapa saja yang memisahkan antara Al-Kitab dan As-Sunnah dengan As-Salafus Shalih bukanlah seorang yang benar selama-lamanya." Dan juga artikel dari beliau lainnya yang menyebutkan, "Sesungguhnya kelompok atau perkumpulan Islam mana saja yang tidak tegak di atas kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wassalam serta di atas manhaj salafus shalih tentu ia dalam kesesatan yang nyata!"
Dalil ini seringkali digunakan teman-teman saya yang mengaku salafi untuk menganggap orang lain yang bukan salafi sesat dan bidah.
Pertanyaan saya:
1. Sebenarnya apakah salafi itu? dan apakah hanya ada satu salafi dalam Islam?
2. Pak ustadz pernah menuliskan derajat keshahihan suatu hadis seringkali berbeda dalam pandangan para ulama, apakah ulama-ulama salafi selalu satu suara dalam menentukan keshahihan suatu hadis dan satu suara dalam mentafsirkan hadis atau al-Quran?
3. Jika para ulama salafi bisa berbeda pendapat, jadi yang mana salafi yang benar?
4. Dalam tulisan-tulisan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terkesan sangat tegas dalam menganggap sesuatu itu bidah atau sesat, di mana ulama lain menganggap tidak bidah atau sesat, bagaimana sikap kita seharusnya?
5. Dalam artikel lain disebutkan Hizbut Tahrir dan Jamaah Tabligh adalah sesat? Benarkah? Di mana letak kesesatan mereka? Secara lahir, mereka tampak sangat zuhud dan ahli ibadah, serta rata-rata sepengetahuan saya berakhlak sangat baik (sangat berhati-hati dalam ibadah, bergaul, banyak-banyak berzikir dan sebagainya).
Terima kasih banyak pak ustadz, mudah-mudahan melimpahkan hidayah-Nya bagi kita semua. Amin
Wassalamu'alaikum wr. wb.

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salaf itu bukan nama sebuah jamaah, organisasi atau pun kelompok. Tetapi salaf itu adalah nama periode dalam sejarah Islam. Yang artinya adalah zaman terdahulu. Lawan kata salaf adalah khalaf yang artinya masa yang ada kemudian.

Salafi adalah sifat seseorang atau sekelompok orang beserta pemikirannya atau sikap yang nisbahkan atau dikaitkan dengan apa yang ada di masa terdahulu. Maksudnya masa nabi Muhammad SAW serta para shahabatnya, hingga para pengikutnya. Sebagai lawan dari orang, pemikiran atau sikap yang dinisbahkan kepada masa sesudahnya.

Dan pada hakikatnya, semua umat Islam ini harus menjadi salafi dalam arti yang sesungguhnya. Yaitu selalu mengacu dan berparameter kepada masa nabi SAW dan para shahabat.

Tetapi maknanya bukan berarti hari ini kemana-mana kita harus naik unta, atau minum susu kambing mentah, atau mengganti nasi dengan tepung syair sebagaimana makanan nabi saat itu. Sikap yang begini bukan salafi yang dimaksud.

Bentuk kesalafian kita adalah kalau kita shalat, maka tata cara shalat kita ini mengacu kepada shalatnya nabi Muhammad SAW. Begitu juga pada saat kita berpuasa, zakat, haji dan mengerjakan amal ibadah lainnya. Termasuk juga dalam hal beraqidah dan bertauhid. Semua itu harus dikembalikan kepada apa yang telah ditetapkan oleh beliau dan para shahabat di masa lalu.

Maka ungkapan Syeikh Nasiruddin Al-Albani 100% benar. Tidak ada yang salah dengan ungkapan beliau. Coba perhatikan baik-baik perkataan beliau, "Sesungguhnya kelompok atau perkumpulan Islam mana saja yang tidak tegak di atas kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wassalam serta di atas manhaj salafus shalih tentu ia dalam kesesatan yang nyata."

Kita setuju sekali dengan pernyataan beliau. Sebab kelompok atau perkumpulan yang mengaku Islam tapi tidak tegak di atas kitab Allah dan sunnah Rasulnya serta manhaj salafus-shalih, pastilah bukan kelompok Islam. Misalnya, ada kelompok yang mengaku Islam, tetapi dasarnya bible, atau kitab primbon, atau undang-undang buatan manusia atau apa pun selain Quran dan Sunnah, tentu kita sepakat bahwa kelompok itu sesat.

Mengaku Salafi

Lain Syeikh Nasiruddin Al-Albani lain pula orang yang mengaku jadi pengikutnya. Boleh jadi orang yang mengaku sebagai salafi tidak dikenal oleh beliau, sehingga ketika membawa-bawa nama Syeikh dengan cara yang tidak bertanggung-jawab, beliau sama sekali tidak tahu.

Sementara dari segi ilmu, akhlaq dan adab, perbedaan antara keduanya bisa jadi sangat jauh. Yang satu seorang ulama ahli hadits sedangkan yang lain bukan. Kecuali hanya mengaku-ngaku menjadi pengikutnya.

Ketika kelompok ini memvonis bahwa semua orang yang tidak salafi itu sesat, kita masih bisa menerima. Sebab setiap muslim memang harus menjadi salafi dlaam arti yang sesungguhnya.Tetapi ketika mereka mengklaim bahwa yang salafi itu hanya kelompok mereka sendiri saja, sedangkan umat Islam yang tidak menyatakan kesetiaan kepada kelompok mereka langsung dicap sebagai bukan salafi kemudian pasti sesat, sebenarnya mereka sudah terjebak dengan wacana yang mereka buat sendiri.

Cara pandang seperti ini sangat berbahaya, karenanya harus diluruskan. Siapa yang bisa menjamin bahwa klaim bahwa diri mereka adalah salafi? Dan dari mana mereka bisa memastian bahwa selain diri mereka, semua orang pasti bukan salafi dan kemudian pasti sesat?

Lebih parah lagi kalau sampai kepada pemikiran begini, semua umat Islam yang cara ibadahnya tidak sama dengan mereka, dipandang sebagai bukan kelompok mereka. Lalu karena bukan kelompok mereka, divonislah sebagai bukan salafi. Dan karena bukan salafi, maka dimasukkan ke dalam kelompok orang sesat.

Jelaslah logika ini logika ngawur dan asal-asalan saja. Sama sekali tidak berangkat dari sebuah kajian ilmiyah, bahkan bertentangan dengan manhaj salaf itu sendiri.

Khilaf Dalam Menilai Derajat Keshahihan Hadis

Sesungguhnya khilaf pada ulama hadits tentang penilaian mereka atas keshahihan suatu hadits adalah hak yang sudah terjadi sejak dahulu. Suatu hadits yang dishahihkan oleh Imam Bukhari belum tentu masuk ke dalam kitab Shahih Muslim. Demikian juga sebaliknya.

Bahkan haditsyang telah masuk ke dalam kitab Shahih Bukhari, oleh sebagian kalangan masih ada yang diragukan validitasnya. Misalnya pendapat-pendapat Ibnu Khuzaemah atau bahkan Syeikh Nasiruddin Al-Albani sendiri. Pendeknya, berbeda pendapat bukan hal yang asing di kalangan ulama salaf.

Bahkan khilaf di antara ulama yang sering dijadikan tokoh rujukan oleh mereka yang mengaku salaf, tidak pernah sepi dari perbedaan pandangan. Begitu banyak pendapat Syeikh Nasirudin Al-Albani rahimahullah yang bertentangan dengan pendapat Syeikh Bin Baz. Dan pendpat keduanya juga seringkali berbeda dengan pendapat Syeikh Al-'Utsaimin. Padahal para ulama itu seringkali dijadikan rujukan utama. Fatwa dan hasil ijtihad mereka selalu menghiasi lembar-lembar dakwah kalangan ini.

Walhasil, kalau ada saudara-saudara kita yang saling menuding sebagai sesat atau ahli bid'ah, bahkan sampai tidak mau bertegur sapa satu dengan lainnya, hanya lantaran perbedaan pendapat dalam ijtihad, sungguh sangat disayangkan. Sebab yang mereka sikapi dengan arogan itu sesungguhnya hanya sebuah pendapat di antara sekian banyak pendapat.

Lebih tepat bila sikap kasar dan keras itu ditujukan kepada orang-orang kafir harbi yang jelas-jelas telah membunuh jutaan nyawa umat Islam, semacam Slobodan Milosevic, George Bush atau Tony Blair. Tapi kalau hanya karena berbeda cara menilai keshahihan suatu hadits, lantas kita memaki-maki saudara muslim kita sendiri, bahkan menyudutkan, menggunjingkan, aau malah memvonisnya sebagai ahli neraka, sungguh sangat memalukan.

Tetapi itulah kenyataannya, saling maki dan saling cela itu bahkan ditulis di berbagai macam situs yang dibaca oleh ribuan orang, bahkan diterbitkan dalam berbagai majalah dan buku, termasuk di dalam VCD dan kaset, padahal penyebabnya hanya sebatas perbedaan pendapat, sungguh merupakan azab buat umat Islam.

Fatwa Al-Albani Yang 'Tegas'

Beliau adalah sosok ulama yang telah banyak berjasa kepada umat Islam. Karya beliau dalam bidang hadits itu tentu sangat membantu dan bermanfaat besar. Tidak ada seorang pun yang menolaknya.

Dan sebagai ulama besar, tentu wajar bila kita dibolehkan untuk mengambil pendapat beliau, meski derajat beliau belum sampai ke tingkat mujtahid mutlak, sebagaimana keempat Imam mazhab. Dan tidak salah bila kita belajar dari beliau, memanfaatkan ilmunya, serta mengambil banyak pendapatnya.

Akan tetapi, bukan berarti sikap yang benar adalah menjadikan beliau sebagai satu-satunya sumber kebenaran, atau menjadikannya satu-satunya tolok ukur kebenaran. Sebagai mujtahid di bidangnya, beliau berhak untuk berfatwa. Namun tidak seorang pun yang selalu benar dalam semua ijtihadnya. Mungkin saja dalam hal-hal tertentu, pendapat beliau tidak disepakati oleh ulama lainnya, yang juga tidak kalah keilmuannya.

Dan kita juga tahu bahwa tidak ada seorang pun yang boleh secara mutlak wajib diikuti semua perkataannya kecuali hanya Rasulullah SAW. Setiap manusia, boleh diikuti perkataan tapi boleh juga tidak diikuti, kecuali Al-Ma'shum Sayyiduna Muhammad SAW.

Maka kita tidak perlu stress dulubila telah menjalankan suatu bentuk ibadah tertentu, tetapi ternyata oleh beliau dikatakan sebagai bid'ah, sesat atau batil. Kita harus tahu bahwa apa yang beliau katakan itu hanyalah hasil ijtihad beliau pribadi, belum semua ulama sepakat dengan beliau.

Namun bukan berarti kita harus mengurangi rasa hormat kita kepada beliau. Cuma perlu dibedakan antara hormat denganterpaku kepada hasil ijtihadnya. Orang yang dalam segala halnya selalu mengacu kepada pendapat Al-Albani belum tentu berarti dia hormat kepada beliau. Dan sebaliknya, orang yang dalam beberapa tidak menggunakan fatwa beliau jangan langsung divonis tidak hormat.

Hizbut Tahrir dan Jamaah Tabligh Sesat?

Siapa pun yang menuliskan artikel seperti ini, tentu harus punya hujjah yang kuat dan nyata. Bukan asal tulis dan asal tuding saja. Bahkan seharusnya berangkat dari hasil penelitian langsung, bukan sekedar membaca literatur.

Sebab boleh jadi apa yang dituduhkan itu hanya mewakili sikap suatu jamaah di masa lalu, padahal sekarang jamaah itu sudah berubah. Masak kita tidak rela bila ada jamaah yang telah memperbaiki diri? Masak kita justru mengharuskan suatu jamaah selalu sesat selamanya?

Dan yang paling penting, setiap vonis yang kita keluarkan wajib kita pertanggung-jawabannya bukan hanya di dunia ini saja, namun yang lebih berat lagi nanti di akhirat.

Mungkin ada baiknya sebelum melontarkan tuduhan sesat kepada sesama muslim, kita terlebih dahulu menziarahinya serta bermunaqasyah (diskusi) secara kepala dingin. Agar komplain kita ada sikap saudara kita itu tersampaikan terlebih dahulu kepada yang langsung berurusan.

Mungkin saja suatu kelompok atau jamaah punya satu dua kesalahan. Dan hal itu tentu sangat manusiawi. Bahkanmemang kita wajib meluruskan kesalahan yang ada pada saudara kita itu. Tapi kurang bijak rasanya bila setiap kesalahan saudara kita selalu kita sikapi dengan tuduhan sesat, caci maki atau pengumbaran aib mereka, di berbagai media. Seolah kita bergembira kalau ada saudara kita yang salah jalan. Karena bisa kita jadikan bahan pergunjingan dan cemoohan. Nauzubillahi min zalik

Tentu sikap seperti ini justru sangat bertentang dengan manhaj nabi SAW, para shahabat dan juga manhaj salafunashshalih.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Sumber Website : https://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1162960623 (Thu 9 November 2006 02:54)

Sembuh Dengan Izin Alloh

Sembuh Dengan Izin Alloh - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Sembuh Dengan Izin Alloh

Setiap penyakit pasti memiliki obatnyam bila sebuah obat sesuai dengan penyakitnya maka dia akan sembuh dengan seizin Alloh SWT. (HR. Muslim)

Sumber FB : KH. Abdullah Gymnastiar
17 November 2018 pukul 16.57 ·

Menerima Semua Amal Kita

Menerima Semua Amal Kita - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Menerima Semua Amal Kita

Semoga Alloh yang Maha Menyaksikan semua amal kita, juga tahu isi hati kita, menerima semua amal kita.

Aa Gym

Sumber FB : KH. Abdullah Gymnastiar
17 November 2018 pukul 13.33 ·

Maklumat Bersama MUI dan DMI Kota Tarakan Tentang COVID-19

Maklumat Bersama MUI dan DMI Kota Tarakan Tentang COVID-19 - Kajian Islam Tarakan
Maklumat Bersama MUI dan DMI Kota Tarakan Tentang COVID-19

MAKLUMAT BERSAMA
Tentang
PENCEGAHAN, PENGENDALIAN, PENANGGULANGAN WABAH CORONA (COVID-19)

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tarakan beserta Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Tarakan,
dengan ini mengeluarkan beberapa maklumat sebagai berikut:

  1. Menghimbau kepada seluruh masyarakat di Kota Tarakan untuk senantiasa menjaga kesehatan jasmani dan rohani serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar.
  2. Menghimbau kepada seluruh Umat Islam dan masyarakat di Kota Tarakan untuk membatasi Interaksi sosial (Social Distancing) dalam rangka mencegah penyebaran Virus Corona (COVID-19).
  3. Menghimbau kepada seluruh Takmir dan Pengurus Masjid di Kota Tarakan agar:
  4. Bagi Masjid yang tetap menyelenggarakan Sholat Berjama’ah dan Sholat Jum’at, diharapkan memperhatikan hal-hal tersebut di bawah ini:
    • Tidak memasang karpet Masjid, dan menyarankan kepada para jama’ah agar membawa sajadah masing-masing demi memutus penyebaran virus Corona
    • Menyediakan Hand Sanitizer / Sabun cuci tangan untuk para Jama’ah yang sholat di Masjid.
    • Tidak mengadakan acara perkumpulan dan berlama-lama berada di masjid setelah kegiatan sholat berjamaah dilaksanakan.
  5. Dalam kondisi penyebaran Virus Corona (COVID-19) yang tidak terkendali dan mengancam jiwa manusia di wilayah Tarakan, maka penyelenggaraan Sholat Jum’at diganti dengan Sholat Dzuhur di rumah masing-masing
    • Mempersingkat durasi Khutbah & Sholat Berjama’ah.
    • Dianjurkan bagi Imam untuk membaca Qunut Nazilah.
  6. Kepada para Muadzin yang terjadwal di masjid-masjid di Kota Tarakan, agar tetap mengumandangkan Adzan di setiap sholat 5 waktu dengan perubahan Lafadz:  (Hayya Alas Sholah) diganti dengan (Shollu fi Rihalikum) atau (Shollu fi Buyutikum).
  7. Menghimbau kepada Masyarakat Tarakan dan Umat Islam pada khususnya agar memperbanyak Do’a, Dzikir, Sholawat, dan bermunajat kepada Allah agar mendapat perlindungan dari Allah Ta’ala.
  8. Menghimbau kepada Seluruh masyarakat dan Umat Islam kota Tarakan untuk menaati Protokol Pemerintah Kota Tarakan dalam penanganan, pencegahan, pengendalian wabah Corona (COVID19) di Kota Tarakan.

Mengetahui,

Ketua MUI Kota Tarakan                                  Ketua DMI Kota Tarakan




Drs. K.H. MUHAMMAD ANAS. L                 H. NUR ALI, S.Ag., NIp

Unduh pdf Maklumat Bersama MUI dan DMI Kota Tarakan Tentang COVID-19 [disini]

Sumber WA Group

Hasil Bahtsul Masail PBNU Tentang Fiqih Shalat Dokter dan Tenaga Medis Pasien COVID-19

HASIL BAHTSUL MASAIL LEMBAGA BAHTSUL MASAIL PBNU TENTANG FIQIH SHALAT DOKTER DAN TENAGA MEDIS PASIEN COVID-19

Hasil Bahtsul Masail PBNU Tentang Fiqih Shalat Dokter dan Tenaga Medis Pasien COVID-19 - Kajian Medina

Hasil Bahtsul Masail PBNU Tentang Fiqih Shalat Dokter dan Tenaga Medis Pasien COVID-19 - Kajian Medina

Hasil Bahtsul Masail PBNU Tentang Fiqih Shalat Dokter dan Tenaga Medis Pasien COVID-19 - Kajian Medina

Hasil Bahtsul Masail PBNU Tentang Fiqih Shalat Dokter dan Tenaga Medis Pasien COVID-19 - Kajian Medina

Hasil Bahtsul Masail PBNU Tentang Fiqih Shalat Dokter dan Tenaga Medis Pasien COVID-19 - Kajian Medina

Hasil Bahtsul Masail PBNU Tentang Fiqih Shalat Dokter dan Tenaga Medis Pasien COVID-19 - Kajian Medina

Hasil Bahtsul Masail PBNU Tentang Fiqih Shalat Dokter dan Tenaga Medis Pasien COVID-19 - Kajian Medina

@nahdlatululama @nu.channels #nahdlatululama #nuchannel

Sumber FB : NU Channel
26 Maret 2020 (1 jam ·)

Jangan Lupa Baca Surat Al Kahfi

Jangan Lupa Baca Surat Al Kahfi - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Jangan Lupa Baca Surat Al Kahfi

“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat, dia akan disinari cahaya diantara dua Jumat." (HR. An Nasa’i dan Baihaqi)

Sumber FB : KH. Abdullah Gymnastiar
16 November 2018 pukul 11.47 ·

Buku Memahami Al-Quran dan Tantangannya

Buku Memahami Al-Quran dan Tantangannya - Buku - Kajian Islam Tarakan
Buku Memahami Al-Quran dan Tantangannya

Judul : Memahami Al-Quran dan Tantangannya
Penulis : Ahmad Sarwat, Lc.MA
Editor : Al-Fatih
Setting : Al-Fayyad
Cover : Faqih
Design : Al-Fawwaz
Jenis Cover : softcover
Penerbit : Rumah Fiqih Publishing
Kertas/Ukuran : A5
Tebal : 241 hlm.
Harga : Rp. 90.000,- - Rp. 60.000,-

Daftar Isi
Pendahuluan
Tantangan 1 : Terjemah Al-Quran
A. Kendala Penerjemahan
1. Terbatasnya Padanan Kata
2. Kendala Rasa Bahasa
3. Terbatasnya Ruang Penerjemahan
4. Banyaknya Versi Penafsiran Para Ulama
5. Lemahnya Penguasaan Bahasa Indonesia
6. Pengakuan Tim Penerjemah
B. Sejarah Penerjemahan Al-Quran
1. Dilakukan Oleh Non Muslim
2. Ditentang Ulama Al-Azhar dan Seluruh Dunia
3. Penerjemahan Dari Kalangan Muslimin
C. Al-Quran dan Bahasa Arab
D. Kaidah Gramatika Bahasa Arab
1. Fi’il Madhi
2. Fi'il Amr
3. Huruf
E. Bukan Makna Secara Harfiyah
1. Waris Anak Perempuan Lebih Dari Dua Orang
2. Hukum Melakukan Sa'i, Bolehkah?
3. Bayar Fidyah Bagi Yang Mampu Puasa?
4. Sakit atau Safar : Wajib Ganti Puasa?
Tantangan 2 : Sistematika Al-Quran
A. Al-Quran Tidak Berformat Undang-undang
1. Pembagian Juz dan Hizb
2. Penamaan Surat
3. Al-Quran Turun Bukan Dalam Bentuk Buku
4. Dari Al-Quran ke Fiqih ke Undang-undang
B. Ruang Lingkup Al-Quran
1. Banyak Kasus Yang Tidak Terjawab Oleh Al-Quran
2. Ayat Hukum Hanya 200 Ayat
3. Dilengkapi Sumber-sumber Hukum Lain
Tantangan 3 : Syariah Umat Terdahulu
A. Pengertian
1. Syariat
2. Man Qablana
B. Pembagian Syariat Sebelum Kita
1. Tidak Terdapat Dalam Al-Quran dan As-Sunnah
2. Ada Kepastian Mansukh atau Tidak Mansukh
3. Tidak Ada Kejelasan Hukum
C. Syariat Umat Terdahulu Yang Tidak Berlaku
1. Memelihara Jin
2. Membuat Patung
3. Sujud Kepada Selain Allah
Tantangan 4 : Ayat-ayat Yang Mansukh
A. Ikhtilaf Masalah Nasakh Mansukh
B. Pembagian Jenis Nasakh
1. Lafadz Tetap Hukum Dihapus
2. Lafadznya Dihapus Tapi Hukumnya Tetap
3. Lafadz dan Hukumnya Dihapus
C. Ayat-ayat Yang Dianggap Mansukh
1. Halalnya Khamar
2. Masa Iddah Bila Suami Wafat
3. Kesalahan Dalam Hati Tidak Dihisab
4. Kualitas Taqwa
5. Semua Wajib Ikut Perang
6. Tahajud Sepanjang Malam
7. Membaca Al-Quran Harus Sempurna?
Tantangan 5 : Perbedaan Qiraat
A. Qiraat Al-Quran
B. Al-Quran Diturunkan Dengan 7 Huruf
1. Pendapat Pertama
2. Pendapat Kedua
3. Pendapat Ketiga
4. Pendapat Keempat
5. Pendapat Kelima
6. Pendapat Keenam
C. Ilmu Qira'at
1. Makna Bahasa
2. Makna Istilah
D. Beberapa Contoh
1. Batalkah Sentuhan Pria Wanita?
2. Kapan Boleh Jima Pasca Haidh?
3. Mahar Bagi Istri Yang Dicerai Sebelum Jima’
a. Tumaasuhuna
b. Tamassuhunna
Tantangan 6 : Perintah dan Khabar
A. Bukan Fi’il Amr Tapi Jadi Perintah
1. Fi’il Mudhari’
2. Lam Al-Amr
3. Ism Fi’il Amr
4. Mashdar
B. Jumlah Khabariyah Jadi Perintah
C. Jumlah Khabariyah Jadi Larangan
D. Perintah Menjadi Berita
Tantangan 7. Perintah dan Hukum
A. Wajib
1. Perintah Shalat Lima Waktu
2. Perintah Zakat
3. Perintah Puasa
4. Perintah Berhaji
B. Sunnah
1. Perintah Shalat Tahajjud
2. Perintah Shalat Idul Adha dan Qurban
3. Membebaskan Budak
C. Mubah
1. Perintah Bekerja Seusai Jumatan
2. Mencatat Hutang
3. Perintah Berburu
D. Haram
1. Perintah Menyembah Tuhan Yang Mana Saja
2. Perintah Melakukan Apa Saja Yang Disukai
3. Jadilah Kafir Kalau Mau
Tantangan 8 : Satu Kata Bisa Banyak Makna
A. Pengertian
1. Wujuh
2. Nazhair
B. Urgensi Ilmu Ini Dalam Tafsir
C. Latar Belakang Penulisan Ilmu Ini
D. Beberapa Contoh
1. Shalat
2. Zakat
3. Zikir
4. Doa
5. Fitnah
6. Ruh
7. Rahmat
8. Qadha’
9. Quru’
Tantangan 9 : Kontradiksi Antar Ayat
A. Adakah Ayat Yang Kontradiktif?
B. Beberapa Contoh
1. Berlaku Adil Sebagai Syarat Poligami
2. Wasiat
3. Ahlul Fatrah Apakah Masuk Neraka?
4. Agama Allah Satu atau Berbeda-beda Untuk Tiap Umat?
5. Dosa Bunuh Nyawa Abadi di Neraka?
6. Kisah Nabi Shalih
7. Adzab Untuk Kaumnya Nabi Syu’aib
8. Kisah Nabi Ibrahim
9. Kisah Nabi Yusuf : Bolehkah Minta Jabatan?
10. Kisah Nabi Ayyub
11. Kisah Nabi Musa
12. Kisah Nabi Isa
13. Haruskah Basmalah Saat Menyembelih
14. Bolehkah Menikahi Wanita Ahli Kitab?
15. Riba Yang Sedikit, Bolehkah?
16. Memadu Kakak Beradik di Antara Hamba Sahaya
17. Masa Iddah Wanita Yang Ditalak dan Sudah Menapouse
18. Masa Iddah Wanita Yang Ditinggal Mati Suami, 4 bulan 10 hari atau setahun?
19. Istri Yang Baik Hanya Untuk Suami Yang Baik?
Tantangan 10 : Ayat Tidak Berdiri Sendiri
A. Keterkaitan Ayat dengan Ayat Lain
1. Kasus Nafi’ Ibn al-Azraq
B. Keterkaitan Ayat Dengan Hadits
1. Nikah Muhallil Harus Jima’
2. Boleh Qashar Meski Tidak Perang
Penutup
* * *
Pemesanan
Untuk memesan buku ini silahkan kirim WhatsApp yang berisi nama, judul buku, jumlah dan alamat lengkap, lalu kirimkan ke :

ISNAWATI : 0821-1159-9103
atau
Lukman Safri, Lc
0853-4177-1661
jam kerja : 08-00 sd 21.00

Contoh :
Saya Budi pesan buku Memahami Al-Quran dan Tantangannya sebanyak 3 expl kirim ke Jl. Tendean 12 Surabaya

Nanti akan mendapat sms balasan untuk harga total pemesanan + ongkos kirim by JNE.

Transfer : Transer uang pembayaran ke no. rek berikut :

BNI Syariah - No Rek. 0332226147 a/n. Ahmad Sarwat
Bank Mandiri - No Rek. 124000-4891-728 a/n. Ahmad Sarwat
Bank Syariah Mandiri - No Rek. 709-6031-534 a/n. Ahmad Sarwat
Bank Central Asia (BCA) - No Rek. 5020244714 a/n. Aini Aryani

Sumber Website : https://www.rumahfiqih.com/buku-51-memahami-al-quran-dan-tantangannya.html

Khilafiyah, Bukankah Kebenaran Hanya Satu?

Khilafiyah, Bukankah Kebenaran Hanya Satu? - Kajian Islam Tarakan
Khilafiyah, Bukankah Kebenaran Hanya Satu?
by Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA

Pertanyaan :Ustadz yang dirahmati ALLOH,
Bagaimana kita harus memandang masalah khilafiyyah, bukankah kebenaran itu hanya satu?, maksud ana, kalaupun di antara hal yang menjadi khilaf itu -katakanlah semua benar- bukankah di antaranya keduanya ada nash yang paling kuat, ambil contoh isbal di mana Ibnu Hajar dan Syaikh Bin Baz berselisih, dengan contoh tersebut bukankah ada nash paling kuat?, dan kewajiban kita mengikuti nash yang paling kuat itu.
Mohon penjelasannya.
JazakumuLLOH,

Jawaban :
Assalamu 'alaikum waramatullahi wabarakatuh,

Kalau kita bicara pada konteks aqidah Islam yang bersifat asasi dan fundamental, maka prinsipnya kebenaran memang hanya ada satu. Pada masalah fiqhiyah yang bersifat qathi'i dan menjadi ijma' para ulama, kebenaran memang hanya ada satu.

Namun ketika kita memasuki wilayah furu' (cabang), kebenaran bisa menjadi banyak, karena pengaruh bias dalil yang ada. Boleh jadi nash atau dalil teks yang digunakan sama, namun cara mengambil kesimpulannya berbeda. Seperti dalam masalah quru', yaitu masa iddah seorang wanita yang ditalak suaminya. Bahkan terkadang ada beberapa nash dalil yang keshahihannya diperselisihkan, seperti masalah shalat tasbih.

Nash Yang Paling Kuat Tidak Selalu Sama Dengan Kebenaran

Mungkin anda heran dan kaget dengan pernyataan di atas. Tetapi ketahuilah bahwa tolok ukur kebenaran bukan semata-mata kekuatan nash. Bukan hanya karena suatu hadits dianggap shahih, lantas apa yang dipahami dari hadits itu adalah pasti kebenaran. Tidak demikian saudaraku.

Sebab boleh jadi suatu hadits itu sudah muttafaqun 'alaihi, tidak ada yang berselisih tentang keshahihannya. Namun tetap saja masih mungkin terjadi beda pendapat dalam menerapkan hadits itu dalam kasus hukum.

Adakah hadits yang lebih shahih dari ayat Al-Quran? Jawabnya pasti tidak ada. Al-Quran adalah hadits yang mutawatir dengan beberapa kelebihan. Tetapi tetap saja ulama berbeda pendapat tentang pengertian hukum dan kesimpulan aplikatif suatu ayat. Dan jumlah ayat ahkam yang diperselisihkan sejumlah ayah ahkam itu sendiri. Padahal semuanya shahih bahkan mutawatir, tetapi tetap saja ada khilaf di dalamnya.

Apalagi mengingat bahwa keshahihan suatu hadits ternyata bukan hal yang qath'i. Buktinya tidak semua hadits dalam shahih bukhari dikatakan shahih oleh Albani. Meski hal itu dikritik oleh para muhaddits lain. Bahkan Albani sendiri sering bersikap mendua ketika menyatakan status hukum suatu hadits. Di dalam satu kitab beliau mengatakan A dan di kitab lain beliau bilang B, untuk satu hadits yang sama.

Apa yang dibilang sebagai hadits palsu oleh Ibnul Jauzi ternyata dishahihkan oleh Al-Bukhari dan Albani. Misalnya tentang hadits shalat tasbih.

Maka, kebenaran bukan ditentukan oleh semata shahih atau tidaknya suatu nash. Bahkan keshahihan itu adalah semata produk ijtihad manusiawi.

Khilaf Sudah Ada Sejak Masa Nabi SAW

Di masa nabi sendiri, khilaf bukan tidak pernah terjadi. Bahkan khilaf terjadi di depan hidung Rasulullah SAW sendiri. Ingat peristiwa shalat Ashar di perkampungan bani Quraidhah?

Para shahabat terpecah dua, sebagian shalat Ashar di perkampungan Bani Quraidhah, meski telah lewat Maghrib, karena pesan nabi adalah, "Janganlah kalian shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah." Namun sebagian yang lain tidak shalat di sana, tetapi di tengah jalan namun pada waktunya.

Lalu apa komentar nabi, adakah beliau membela salah satu pendapat. Jawabnya tidak. Beliau tidak menyalahkan kelompok mana pun karena keduanya telah melakuka ijtihad dan taat kepada perintah. Hanya saja, ada perbedaan dalam memahami teks sabda beliau. Jadi, khilaf di masa kenabian sudah terjadi dan tetap menjadi khilaf.

Khilaf Perang Badar

Terkadang khilaf bukan terjadi hanya di antara shahabat nabi saja, namun terjadi juga antara nabi SAW dengan para shahabatnya.

Dalam kasus penempatan pasukan perang di medan Badar, terjadi perbedaan pendapat antara Rasulullah SAW dengan seorang shahabat. Menurut shahabat yang ahli perang ini, pendapat Rasulullah SAW yang bukan berdasarkan wahyu kurang tepat. Setelah beliau menjelaskan pikirannya, ternyata Rasulullah SAW kagum atas strategi shahabatnya itu dan bersedia memindahkan posisi pasukan ke tempat yang lebih strategis.

Di sini, nabi SAW bahkan menyerah dan kalah dalam berpendapat dengan seorang shahabatnya. Namun beliau tetap menghargai pendapat itu. Toh, pendapat beliau SAW sendiri tidak berdasarkan wahyu.

Ketika perang nyaris berakhir, muncul keinginan di dalam diri beliau untuk menghentikan peperangan dan menjadikan lawan sebagai tawanan perang. Tindakan itu didasari oleh banyak pertimbangan selain karena saat itu belum ada ketentuan dari langit. Maka nabi SAW bermusyawarah dengan para shahabatnya dan diambil keputusan untuk menawan dan meminta tebusan saja.

Saat itu hanya satu orang yang berbeda pendapat, yaitu Umar bin Al-Khattab ra. Beliau tidak sepakat untuk menghentikan perang dan meminta agar nabi SAW meneruskan perang hingga musuh mati semua. Tidak layak kita menghentikan perang begitu saja karena mengharapkan kekayaan dan kasihan.

Tentu saja pendapat seperti ini tidak diterima forum musyarawah dan Rasulullah SAW serta para shahabat lain tetap pada keputusan semula, hentikan perang.

Tidak lama kemudian turun wahyu yang membuat Rasulullah SAW gemetar ketakutan, karena ayat itu justru membenarkan pendapat Umar ra dan menyalahkan semua pendapat yang ada.

Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki akhirat. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. Al-Anfal: 68)

Khilaf di Antara Para Nabi

Kalau para shahabat nabi Muhammad SAW sering berbeda pendapat, maka ternyata para nabi pun sering berbeda pendapat.

Lihat bagaimana nabi Musa as berselisih dengan saudaranya, nabi Harun as. Bahkan sampai menarik kepalanya dengan marah dan kecewa.

Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia, "Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu? Dan Musa pun melemparkan luh-luh itu dan memegang kepala saudaranya sambil menariknya ke arahnya, Harun berkata, "Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim"(Q. Al-A'raf: 150)

Konon Musa as kecewa dengan sikap Harus as yang dianggapnya terlalu lemah dan tidak bisa bersikap tegas di hadapan kedegilan kaum mereka, kaum yahudi. Padahal keduanya nabi dan sama-sama dapat wahyu dari Allah SWT. Tetapi urusan berbeda pendapat dan pendekatan, adalah urusan yang bersifat manusiawi. Sangat mungkin ikhtilaf terjadi di kalangan para nabi 'alaihimussalam.

Bukankah kisah Musa as dengan nabi Khidhir as juga demikian? Keduanya selalu berselisih dan beda pendapat dalam perjalanan. Musa as selalu mempertanyakan semua tindakan shahabatnya itu, meski pada akhirnya beliau selalu harus dibuat mengerti. Tetapi intinya, beda pemahaman itu adalah sesuatu yang wajar dan mungkin terjadi, bahkan di kalangan sesama para nabi. Dan tidak ada kebenaran tunggal dalam hal ini.

Para Malaikat Berikhtilaf

Bahkan sesama malaikat yang mulia dan tanpa hawa nafsu sekali pun tetap terjadi beda pendapat.

Masih ingat kisah seorang yang taubat karena telah membunuh 99 dan 1 nyawa?

Dalam perjalanan menuju taubatnya, Allah mencabut nyawanya. Maka berikhtilaflah dua malaikat tentang nasibnya. Malaikat kasih sayang ingin membawanya ke surga lantaran kematiannya didahului dengan taubat nashuha. Namun rekannya yang juga malaikat tetapi job-nya mengurusi orang pendosa ingin membawanya ke neraka, lantaran masih banyak urusan dosa yang belum diselesaikanya terkait dengan hutang nyawa.

Bayangkan, bahkan dua malaikat yang tidak punya kepentingan hewani, tidak punya perasaan, tidak punya kepentingan terpendam, tetap saja ditaqdirkan Allah SWT untuk berbeda pendapat.

Walhasil, ihtilaf itu adalah sesuatu yang melekat pada semua makhluq Allah, danbukan hal yang selalu jelek atau hina. Ikhtilaf di kalangan umat Islam adalah sesuatu yang nyaris tidak mungkin hilang, apalagi di zaman sekarang ini.

Ikhtilaf Yang Diharamkan

Namun ada jenis-jenis ikhtilaf yang diharamkan dan kita wajib menghindari diri dari sifat dan sikap itu.

Pertama, apabila sudah ada nash yang bersifat qath'i dan tidak ada multi tafsir. Bahkan para ulama telah berijma' di dalamnya. Mengingkari ijma' adalah kufur.

Seperti mengatakan bahwa semua agama sama, jelas bukan bagian dari ikhtilaf yang dibenarkan, karena tidak ada satu pun ulama yang membenarkan agama selain Islam.

Kedua, ikhtilaf yang diteruskan dengan kerasa kepala, sombong, takabbur, merasa benar sendiri dan semua orang yang tidak sama pendapatnya dengan dirinya dianggap salah, bodoh, ahli bid'ah, ahli neraka, murtad, keluar dari manhaj salaf, melawan sunnah, bahkan kafir. Naudzu billah min zalik.

Sikap merasa diri paling benar dan paling mendapat hidayah dari Allah adalah sikap seorang yang kurang ilmu dan kurang sifat tawadhu'. Dia merasa hanya dirinya saja yang punya kebenaran, sementara pendapat siapa pun yang dianggapnya bertentangan dengan pendapat dirinya, harus dilukai dengan kata-kata tajam yang merendahkan, menghinakan, melecekan, kalau perlu dengan memboikotnya seolah orang lain itu musuh agama.

Ketiga, ikhtilaf yang tidak pakai ilmu tetapi mengandalkan taqlid dari seseorang tokoh, padahal jauh dari disiplin ilmu yang benar. Berbeda pendapat bahkan berdebat sementara dirinya bukan ahli di bidang itu. Ini tentu kesalahan maha fatal dan kekonyolan maha konyol.

Kalau ada ribuan ahli astronomi sepanjang masa berijma'bahwa pusat edar tata surya adalah matahari dan bumi mengelilinginya, tentu kita lebih percaya. Sementara kalau adaseorangkiyai yang mengatakan bahwa bumi itu rata seperti meja dan pusat edar tata surya adalah bumi dan matahari mengelilingi bumi, boleh jadi bukan ayatnya yang salah, tetapi ilmu pengetahuan si kiyaiitu yang out of date alias ketinggalan zaman.

Setidaknya, si kiyai itu harus mawas diri karena ilmu yang dikuasainya bukan ilmu falak dan bukan astronomi. Beliau tidak punya teropong, tidak punya teleskop, tidak pernah naik wahana luar angkasa, tidak pernah membayangkan sebuah satelit yang mengorbit bumi.

Dan kasus seperti ini, sayangnya, sering terjadi lantaran fanatisme buta dan taqlid bukan pada tempatnya. Kalau kiyai bilang langit itu hijau, maka santrinya akan bilang hijau, walau pun langit itu biru. Maka taqlid tidak karuan kepada kiyai adalah sebuah kesalahan dalam berikhitlaf.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Sumber Website : https://rumahfiqih.com/x.php?id=1179481359 (Sat 19 May 2007 22:16)

Kenapa Harus Ada Khilafiyah?

Kenapa Harus Ada Khilafiyah? - Kajian Islam Tarakan
Kenapa Harus Ada Khilafiyah?
by Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA

Pertanyaan :Assalamualaikum wr wb
Dengan hormat kepada ustadz yang pembimbing
Ustadz yang baik
Saya mau tanya tentang khilaf para ulama, yang terjadi pada saat ini, sehingga nampak membingungkan umat yang awam seperti saya.
Ustad, kenapa sih harus ada perbedaan pendapat di antara para ulama, padahal mereka mempunyai nabi yang sama yaitu nabi Muhammad saw, juga mempunyai al-quran yang sama.
Ada yang mengatakan bahwa itu adalah rahmat, tapi saya kurang jelas dari mana dapat rahmatnya, karena menurut saya lebih banyak mudharatnya dari manfaatnya.
Sebagai contoh terjadinya berbagai konflik internal di kalangan umat Islam sendiri, seperti perbedaan antara kaum sunni dan syiah, juga dari perbedaan pendapat tentang qunut subuh, sampai membaca ayat al-quran di atas kubur.
Demikian ustad yang baik, atas penjelasan dan bimbingannya saya ucapkan terimakasih, semoga segala amalannya diterima oleh Allah SWT.
Wassalamualaikum wr wb

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ada dua point besar yang menurut kami perlu dijadikan jawaban atas pertanyaan anda.

Pertama, bahwa ada perbedaan mendasar antara khilaf dengan perpecahan. Kedua, ungkapan bahwa khilaf umatku adalah rahmat, bukan hadits nabi. Namun esensinya memang demikian.

Khilaf Tidak Sama Dengan Perpecahan

Seringkali kita terkecoh dengan dua hal ini, seolah keduanya adalah sama. Padahal, khilaf dan perpecahan adalah dua hal yang saling berbeda 180 derajat.

Khilaf adalah perbedaan dalam memandang suatu masalah, lebih tepatnya dalam mengambil kesimpulan hukum dari dalil-dalil Quran dan Sunnah. Perbedaan cara mengambil kesimpulan ini dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain:

1. Perbedaan dalam meshahihkan suatu hadits

Al-Imam Al-Bukhari punya standar keshahihan hadits yang berbeda dengan A-Imam Muslim. Padahal keduanya sama-sama pakar hadits yang dikenal sebagai penyusun kitab hadits tershahih di dunia.

Namun ada kalanya sebuah hadits dishahihkan oleh Al-Bukhari namun tidak dishahihkan oleh Muslim. Dan yang sebaliknya pun seringkali terjadi.

Bila para para ulama ahli hadits sudah berbeda pendapat, sudah bisa dipastikan bahwa kesimpulan hukum yang dikeluarkan oleh masing-masing ahli fiqih pun akan berbeda juga.

2. Perbedaan Dalil yang Saling Bertentangan

Sangat dimungkinkan dan bahkan sering kali terjadi ada dua atau lebih dalil yang sama-sama shahih dan kuat, namun ternyata memberikan hukum yang berbeda.

3. Perbedaan Metode Istimbath Hukum

Para ulama ahli fiqih di level mujtahid mutlak punya kaidah dan metode yang sudah baku untuk mengistimbath hukum. Namun belum tentu samaantara yang satu dengan yang lain.

Misalnya, Al-Imam Malik rahimahullah dikenal sebagai ulama yang mengandalkan amalu ahlil-Madinah sebagai landasan hukum. Sesuatu yang oleh ketika imam Mazhab lainnya tidak dikenal atau tidak diterima.

Kemudian ada al-maslahah al-mursalah, saddu azd-dzarai', syar'u man qablana, dan lainnya yang diterima oleh satu pihak namun ditolak oleh pihak lain.

4. Karakter Para Ulama

Sebagian ulama ada yang punya kecenderungan menyempitkan masalah karena kehati-hatiannya, namun ada yang meluaskan hukum karena berprinsip bahwa Islam itu mudah dan rahmat.

Adalah shahabat Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu anhu seorang yang cenderung mutasyaddin, tidaklah ada dua pilihan hukum kecuali beliau memilih yang lebih berat. Baginya, surga itu harus didapat dengan kesungguhan dan pengorbanan.

Namun Abdullah bin Abbas punya karakter yang lembut dan selalu mencari yang termudah, karena Allah tidak membebani hamba-Nya kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya.

Dan masih banyak lagi hal-hal yang menyebabkan khilaf itu pasti terjadi.

Bolehkah Khilaf Terjadi?

Ada banyak dalil yang memastikan bahwa khilaf di antara para ulama itu boleh terjadi, bahkan sebuah keniscayaan. Dasarnya antara lain:

1. Para Shahabat Mengalami Khilaf

Peristiwa perang Bani Quraidhah adalah contoh yang amat nyata tentang bagaimana para shahabat nabi berbeda pandangan dalam menafsirkan perintah Rasulullah SAW. Selain itu juga ada kisah tentang perbedaan penafsiran para petani kurma di Madinah tentang 'larangan' Rasulullah SAW untuk melakukan penyebukan. Juga ada kisah tentang para shahabat yang berbeda pendapat dalam menetapkan arah kiblat, sehingga ada yang shalat menghadap ke Barat, Timur, Utara dan Selatan.

Namun perbedaan itu bukan perpecahan, mereka tetap bershahabat dan saling mengasihi antara sesamanya.

2. Para Nabi Mengalami Khilaf

Nabi Musa dan Nabi Khidhir 'alaihimassalam pernah berbeda pendapat dalam melakukan perjalanan. Cerita lengkapnya bisa kita baca di dalam surat Al-Kafhi. Nabi Musa dan kakaknya, Nabi Harun 'alaihimassalam, bahkan sempat bentrok dan tarik-tarikan rambut, untuk urusan yang mereka perselisihkan.

Keputusanhukum Nabi Daud pernah 'diralat' oleh anaknya sendiri, Nabi Sulaiman 'alaihimassalamdalam sengketa yang menyangkut hukum dalam perkara rakyatnegeri mereka.

Namun para nabi adalah satu kesatuan mata rantai sebagai penyampai risalah dari Allah kepada umat manusia. Perbedaan pendapat itu bukan perpecahan, apalagi permusuhan.

3. Para Malaikat Mengalami Khilaf

Dalam kisah taubatnya pembunuh 100 nyawa yang meninggal di tengah jalan menuju jalan taubat, dua malaikat saling berbeda pendapat. Yang satu malaikat rahman yang ingin memasukkannya ke surga. Sedang yang satunya malaikat adzab yang ingin memasukkannya ke neraka.

Ya Subhanallah, bahkan malaikat yang tidak punya emosi sekalipun, juga mengalami khilaf dalam memutuskan perkara.

Maka bisa kita simpulkan bahwa khilaf atau beda pendapat adalah hal yang lumrah, terjadi pada siapa saja, termasuk para shahabat, para nabi dan bahkan para malaikat.

Khilaf yang terjadi di kalangan ulama adalah hak preogratif mereka, tidak ada hak dan wewenang kita yang awam dan bukan ahli hukum ini ikut-ikutan meributkan khilaf di antara mereka.

Bukan karena kita tidak boleh melakukan upaya ijtihad seperti mereka, juga bukan karena pintu ijtihad telah tertutup, namun karena persoalan kapasitas keilmuwan.

Tentu sangat kurang pantas ketika para ulama ahli di tingkat elit masih berbeda pendapat, ternyata kita yang ada di level grassroot juga ikut-ikutan saling meributkannya.

Yang Diharamkan Adalah Perpecahan dan Saling Memerangi

Yang diharamkan adalah perpecahan, bukan perbedaan cara pandang. Bentuk-bentuk perpecahan yang diharamkan misalnya:


  • Mencaci maki orang yang pendapatnya tidak sama dengan pendapat dirinya. Baik dengan tuduhan ahli bid'ah, pelaku kemusyrikan atau gelar-gelar lain yang tidak layak.
  • Memutuskan tali silaturrahim dengan orang yang dianggap pendapatnya tidak sama.
  • Membuat kampanye fitnah serta menghujat saudaranya di muka umum, padahal akar masalahnya hanya beda pendapat yang telah terjadi sejak zaman shahabat
  • Menyakiti bahkan melukai perasaan saudaranya, dengan beragama cara.
  • Cara yang paling buruk adalah dengan menyakiti secara pisik bahkan melakukan pembunuhan, seperti tragedi fitnah besar antara sunnah syiah.
  • Bukankah kita bisa duduk bersama untuk memecahkan masalah? Mengapa kita harus angkat suara dengan nada yang tinggi, padahal kita saudara?


Mengapa kita harus saling berbunuhan, satu dengan lainnya, padahal mereka adalah saudara kita juga?

Semoga Allah SWT menentramkan hati kita dan menguatkan persaudaraan kita, serta merajut kembali keping-keping ukhuwah di antara kita. Amien

Wallahu a'lam bishshsawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Sumber Website : https://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1169040217&title=kenapa-harus-ada-khilaf (Sat 15 March 2014 12:01)

Kajian Kitab Fathul Qorib di Masjid Al Hidayah Ladang Dalam Tarakan oleh Ustadz Abdul Wachid 20200323

Kajian Kitab Fathul Qorib di Masjid Al Hidayah Ladang Dalam Tarakan oleh Ustadz Abdul Wachid, S.PdI

Alhidayah Tarakan menayangkan siaran langsung.
14 jam ·

Sumber FB : Alhidayah Tarakan (https://www.facebook.com/alhidayah.tarakan)

di upload ulang oleh channel Youtube : Tarakan Info (https://www.youtube.com/channel/UCryFul7HqIHLGV4gTmJSMHA)

Website Kajian Tarakan : https://kajian.tarakan.info
Facebook KajianTarakan : https://www.facebook.com/kajiantarakan/
Twitter Kajian Tarakan : https://twitter.com/kajiantarakan
Youtube playlist Kajian Tarakan : https://www.youtube.com/playlist?list=PLQkBcfA8bVriHYJe_ZsH8sQc_Z7hLNpoC

#kajiansunnahtarakan #kajianislamtarakan #kajiantarakan #kajianfiqihtarakan #kajiankitabtarakan #kajianmuslimtarakan #kajianmuslimahtarakan #tarakaninfo #tarakan #tarakaninfo #infotarakan #kotatarakan #tarakankota #kajianustadztarakan #masjidtarakan #tarakan #ngajifiqihtarakan #tarakanmengaji #tarakanngaji #ustadzabdulwachid

kajian tarakan, kajian sunnah tarakan, kajian islam tarakan, kajian fiqih tarakan, kajian kitab tarakan, kajian muslim tarakan, kajian muslimah tarakan, kajian ustadz tarakan, kajian habib tarakan, masjid tarakan, tarakan info, kota tarakan, tarakan kota, info tarakan, tarakan, kajian, ustadz abdul wachid

Khilaf Para Ulama

Khilaf Para Ulama - Kajian Islam Tarakan
Khilaf Para Ulama
by Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA
Pertanyaan :
Assalamualaikum wr. Wb.
Pak Ustadz yth,
Saya masih agak bingung dan takut tentang khilaf para ulama, karena kebodohan dan keterbatasan ilmu yang saya miliki. Saya hanya bisa melihat hitam dan putih tentang kebenaran yang mutlak. Banyak hal yang menimbulkan khilaf para ulama besar yang dirahmati Allah SWT.
Yang contoh umumnya masalah bid'ah atau isbal yang akan berdosa besar bila kita melakukannya. Bagaimana pertangungjawaban saya kepada Allah nanti bila ternyata sayamemilih fatwa yang salah?
Yang ternyata ibadah saya merupakan suatu bid'ah misalnya, atau ternyata fatwa Syeikh Bin Baz rahimahullah tentang isbal yang benar. Apakah saya akan mendapatkan kemurkaan Allah di akhirat nanti?
Terimakasih sekali atas penjelasannya.

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Orang yang dihukum Allah SWT dengan siksa yang pedih dan berat adalah orang yang secara sengaja dan jelas-jelas melanggar apa yang telah diharamkan Allah. Keharamannya adalah keharaman yang jelas dan telah menjadi ijma' atau minimal menjadipendapat mayoritas ulamadengan didukung dengan dalil-dalil yang qath'i. Baik Qath'i secara tsubut maupun qath'i secara dilalah.

Misalnya keharaman minum khamar, berzina, membunuh nyawa yang bukan haknya, mencuri, berkhianat, dan seterusnya. Semua itu adalah keharaman yang sudah muttafaqun 'alaihi di semua lapis umat Islam. Tukang ojek pinggir jalan yang lagi mabok pun tahu kalau minum khamar itu haram, meski dia sedang melakukannya.

Kalau jenis dosa seperti itu tetap dilakukan juga, dengan sengaja, dengan sepenuh kesadaran serta tahu resikonya, maka barulah seseorang akan disiksa di neraka.

Tetapi...

Manakalah suatu hukum masih menjadi perdebatan para ulama, maka seorang yang memlilih salah satu versi pendapat itu tidak akan dikenai sanksi oleh Allah SWT. Sebab sebagian ulama mengatakan haram tetapi sebagian mengatakan halal, sementara kedua pendapat itu berangkat dari hasil ijtihad, lantaran dalilnya masih mengandung hal-hal yang bisa ditafsirkan menjadi berbagai versi pemahaman.

Logikanya sederhana saja, bagaimana mungkin Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang itu main hakim sendiri, main siksa dan main kayu kepada hamba-hamba-Nya, sementara aturannya tidak jelas, multi tafsir dan memang sulit dipungkiri.

Lalu di mana keadilan Allah? Di mana kerahiman Allah? Mengapa Allah seakan membuat jebakan buat hamba-Nya sendiri? Di mana Allah SWT sengaja membuat dalil yang multi tafsir lalu siapa yang salah dalam menafsirkannya, harus siap dilumat api neraka.Tentu Allah SWT bukanlah tuhan dengan sikap rendah seperti itu.

Seandainya hukum isbal tanpa niat riya' itu tidak multi tafsir, pastilah semua ulama sampai titik kesepakatan bulat tentang keharamannya. Sayangnya, dalil-dalil isbal itu memang nyata multi tafsir, sehingga semua kutub pendapat yang lahir darinya adalah ijtihad manusiawi. Bahkan sampai level ulama besar Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar pun mengatatakan halal bila tanpa niat isbal.

Lalu apakah kita akan mengatakan bahwa An-Nawawi dan Ibnu Hajar akan masuk neraka lantara keduanya salah tafsir?

Yang seharusnya menjadi cara pandang kita adalah selama masalah itu khilaf ulama karenaditetapkan oleh dalil yang zdhanni secara istidlal, maka tidak ada siksa pedih. Sebab para mujtahid itu tidak akan disiksa hanya karena kesahalan dalam ijtihadnya. Bila ijtihadnya salah, malah dia tetap dapat pahala. Sebaliknya, bila ijtihadnya benar, dia akan dapat dua pahala.

Salah besar kalau seorang mujtahid salah dalam berijtihad akan disiksa di neraka sebagai hukuman atas kesalahannya. Tetapi kalau yang berijtihad itu memang bukan orang yang punya kapasitas menjadi mujtahid, lalu sok-sok-an berijtihad, kemudian ijtihadnya salah, jelas dia telah salah. Dan wajar kalau dia disiksa di neraka.

Seorang yang bukan mujtahid, tidak punya otoritas untuk berijtihad. Kalau dia melakukannya dan salah, maka dia harus menanggung resikonya.

Pertanggung-jawaban

Seorang awam seperti kami dan anda, tidak ada kewajiban untuk melakukan ijtihad sendiri. Sebab syarat sebagai seorang mujtahid tidak atau belum terpenuhi pada diri kita.

Maka kita dibolehkan bertaqlid kepada fatwa para ulama mujtahid yang juga tentunya harus mu'tabar (diakui kapabilitasnya). Kalau seandainya fatwa itu salah, Allah tidak akan murka tentunya, sebab seorang mujtahid yang berijtihad tidak akan disiksa di neraka, bahkan dia tetap dapat satu pahala.

Maka kita yang mengikuti fatwa mujtahid yang -katakanlah- ternyata terbukti salah di hari akhir, tentu juga tidak akan disiksa. Malah kita juga dapat pahala dari Allah.

Kok dapat pahala? Kan salah?

Ya, dapat pahala. Karena kita telah melakukan perintah Allah untuk bertanya kepada ahlinya. Bukankah Allah SWT memerintahkan kita dalam firman-Nya

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (mujtahid/ulama) jika kamu tidak mengetahui. (QS. An-Nahl: 43)

Allah tidak mengatakan "Bertanyalah kepada orang yang pasti benar dalam ijtihadnya." Tetapi hanya memerintahkan untuk bertanya kepada ahlinya, yaitu mujtahid yang diakui kapasitasnya.

Kita sudah bertanya kepada mujtahid, maka kita sudah dapat pahala. Perkara ternyata ijtihadnya salah, tidak ada ayat atau hadits yang menyebutkan bahwa salahnya ijtihad para ulama akan melahirkan dosa dan siksa. Dan akan disiksa adalah orang dengan kapasitas bukan mujtahid, tetapi berlagak seperti mujtahid, lalu salah. Dan siksaanlah akibatrnya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Sumber Website : https://www.rumahfiqih.com/konsultasi-1174617174-khilaf-para-ulama.html (Fri 23 March 2007 03:28)

Selamat Memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW by Masjid Darun Najah Tarakan

Selamat Memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW by Masjid Darun Najah Tarakan - Kajian Islam Tarakan

Selamat Memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW
(Masjid Jami' Darun Najah Karang Anyar Tarakan)

”Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan
kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia 
adalah Maha Mendengar lagi Maha  Mengetahui”. (QS. al-Isra’, 17:1)

Sumber FB : Masjid Darun Najah

Hadirilah Kajian Kitab Fathul Qorib di Masjid Al-Hidayah Ladang Dalam Tarakan 20200323

Hadirilah Kajian Kitab Fathul Qorib di Masjid Al-Hidayah Ladang Dalam Tarakan 20200323 - Kajian Islam Tarakan
Hadirilah
Kajian Kitab Fathul Qorib

MWCNU Tarakan Tengah & Masjid Al-Hidayah
(Setiap Senin & Dua Minggu sekali)

Pada : Senin, 23 Maret 2020
Pukul : 18.30 WITA (Ba'da Maghrib)
Di Masjid Al-Hidayah Ladang Dalam Tarakan

Bersama : Ustadz Abdul Wachid, S.Pd.I (Sekjen Lembaga Dakwah NU)

Dari pada kluyuran keluar tanpa tujuan yg jelas,dgn resiko COVID-19,mari ber i'tikaf dimasjid sambil menimba ilmu fiqih,sambil qt berdo'a semoga Allah segera mengangkat wabah virus ini dan kita diberi keselamatan dan kesehatan,amiinn,,,,🤲🤲🤲

Sumber FB : Alhidayah Tarakan
23 Maret 2020 (19 menit ·)

Mensyukuri Nikmat Dari Allah

Mensyukuri Nikmat Dari Alloh - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Mensyukuri Nikmat Dari Allah

Seharusnya jika semakin banyak keinginan, semakin banyak bersyukur dengan apa yang Allah berikan. Karena rasa syukurlah yang akan membuka tambahan karunia dari Allah.

Aa Gym

Sumber FB : KH. Abdullah Gymnastiar
15 November 2018 pukul 11.35 ·

Selamat Memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW 27 Rajab 1441 H by PPPA Daqu Kaltara

Selamat Memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW 27 Rajab 1441 H - Kajian Islam Tarakan
Selamat Memperingati Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW 27 Rajab 1441 H
(PPPA Daarul Qur'an)

Menghadapi wabah corona dengan belajar dari perjalanan Isra Mi’raj Muhammad SAW.

Sebab sebelum Isra Mi'raj, Rasulullah mendapat sejumlah cobaan dan dilanda kesedihan. Ia ditinggalkan sang istri tercinta Khadijah dan sang paman Abu Thalib, orang yang selalu membelanya.

Tahun itu bahkan dijuluki 'amul huzni atau tahun kesedihan. Allah SWT lalu menghibur Muhammad melalui Isra Mi'raj. Perjalanan ini seolah memberi pesan bahwa setelah cobaan yang berat ada kemuliaan yang menanti.

Semoga wabah ini segera berakhir dan ujian Allah SWT melalui covid-19 ini menjadikan kita hamba yang semakin ikhlas, sabar, tetap bertawakal serta berikhtiar dalam melewatinya. Aamiin Allahumma Aamiin.

Tolak Bala dengan Sedekah, semoga menjadi pelindung kita dan orang yang kita cintai dari musibah, termasuk wabah.

#PastiAdaBalasan

Sumber FB : PPPA Daarul Qur'an Kalimantan Utara
22 Maret 2020 (13 jam ·)

Sidratul Muntaha dan Tempat Manusia Agung

Sidratul Muntaha dan Tempat Manusia Agung - Kajian Islam Tarakan
SIDRATUL MUNTAHA DAN TEMPAT MANUSIA AGUNG
Oleh : Buya Yahya
Pengasuh LPD Al-Bahjah

Bulan ini adalah bulan rojab, jutaan manusia diingatkan kepada sebuah peristiwa agung yang tidak pernah terjadi pada makhluk Allah SWT dari dulu hingga nanti kecuali kepada Nabi Muhammad SAW. Peristiwa luar biasa “Isro’ Mi’roj”.

Ada hal yang sering dilupakan oleh kebanyakan orang tentang tempat mulya Sidratul Muntaha dan Mustawa, tempat yang Allah tidak memperkenankan siapapun menginjakkan kakinya di sana kecuali Rosulullah SAW. Bahkan Malaikat Jibril paling mulianya malaikat pun tidak berani dan tidak bisa sampai kepada tempat tersebut.

Hal lain lagi adalah naik turunnya Nabi Muhamad SAW untuk mengambil pendapat dari Nabi Musa A.S, berikut perbincangan Rosulullah SAW dengan Allah SWT di tempat tersebut. Kejadian dahsyat dan luar biasa ini sungguh mengagumkan hati ahli iman. Ini adalah memang urusan hati dan tidak akan bisa faham kejadian ini kecuali ahli iman.

Hal yang perlu dicermati di balik kisah luar biasa ini adalah hanyutnya sebagian orang dalam irama kekaguman terhadap kisah Sidratul Muntaha dan mustawa berikut dialog Rasulullah SAW dengan Allah SWT. Hingga sampailah pada titik keyakinan bahwa Rasulullah SAW berdialog dengan Allah SWT di tempat itu karena menganggap di situlah tempat Allah SWT. Dan mungkin juga terbayang sebuah suasana hening saling duduk berhadapan dan berdampingan antara Allah SWT dengan Rasulullah SAW. Inilah kesesatan aqidah bahkan itulah kekafiran yang tersembunyi di balik sebuah keyakinan. Disinilah orang sering salah alamat, seolah telah meyakini Tuhan Allah SWT yang “laisa kamtslihi syai’un” tidak diserupai oleh apa dan siapapun, akan tetapi telah tersesat dan tanpa terasa menyerupakan Allah dengan makhlukNya. Meyakini Allah SWT bertempat, berhadap-hadapan dengan Rasulullah SAW adalah salah jalan dalam beriman kepada Allah SWT.

Begitu indah dan istimewanya perjalanan Isro mi’roj, mempesonakan hati yang mencari-cari keteduhan di balik penghambaan kepada Allah SWT. Menghadirkan renungan dalam makna sambung komunikasi dengan Allah Yang Maha Agung yang terurai dalam kekhusyu’an dalam sholat lima waktu. Akan tetapi sholat yang semestinya penghambaan kepada Allah bisa berubah menjadi penyembahan kepada berhala yang di hayalkan jika ternyata seorang yang lagi Sholat telah meyakini Tuhannya duduk dan membutuhkan tempat, buah kesalah pahaman akan Isro’ mi’rojnya Rosulullah SAW.

Sungguh benar Rosulullah SAW telah diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu menembus langit ke tujuh hingga Al-Baitil Makmur, Sidratul Muntaha dan Mustawa dengan ruh dan jasadnya. Lalu berdialog dengan Allah SWT. Itulah tempat kemuliaan yang hanya disediakan untuk memuliakan Rasulullah SAW saja.

Yang perlu diyakini bahwa tempat itu bukanlah tempat Allah SWT. Sebab Allah SWT yang menciptakan tempat. Sebelum Allah SWT menciptakan tempat Allah SWT tidak butuh kepada tempat dan setelah Allah SWT menciptakan tempat Allah SWT tetap tidak butuh kepada tempat. Tidak bisa dan tidak boleh menyebut Allah SWT bertempat.

Bagi Allah SWT sangat mudah mengajak dialog khusus dengan Rosulullah SAW dimana saja. Bisa di Indonesia, Malaysia dan Amerika atau di bukit Tursina seperti yang pernah terjadi pada Nabi Musa A.S. Akan tetapi untuk seorang Nabi yang paling Allah SWT cintai dan muliakan, Allah SWT menginginkan dialog dengan kecintaanNya itu di tempat yang sangat istimewa yang tidak penah dijamah oleh apa dan siapapun.

Tempat tersebut adalah tempat kemuliaan Rosulullah SAW dan bukan tempatnya Allah SWT. Maha suci Allah SWT yang tidak diserupai oleh segala ciptaan Nya.
Wallahu a’lam bishshowab.

Sumber FB : Buya Yahya
12 Maret pukul 18.34 · 

Jaga Kebersihan Masjid dari COVID-19

Jaga Kebersihan Masjid dari COVID-19 - Kajian Islam Tarakan
JAGA KEBERSIHAN MASJID DENGAN MELAKUKAN :

1.Membersihkan lantai masjid secara rutin dengan mengunakan cairan berbersih lantai.

2.Menjaga kebersihan tempat wudhu dan toilet masjid. - Untuk sementara waktu, dihimbau kepada jamah masjid untuk membawa alas sholat/sajadah masing-masing karena dimungkinkan penularan virus dapat mudah melalui media lantai dan karpet.

3. gunakan hand sanitazer yang sudah disediakan masjid.

4.jangan mudah menaggapi berita-berita yang beredar di media sosial dan turut andil dalam penyebar luasannya jika bukan dari sumber yang terpercaya (HOAK).

5. Hubunggi Gugus Tugas percepatan penangulangan COVID-19 atau hotline Dinas Kesehatan Tarakan di nomor : 081351432112 jika ingin menanyakan informasi terkait dengan COVID-19.

6. Yang lebih utama adalah tetap selalu ber do'a, karena hanya kepada Nyalah kita memohon pertolongan dan Perlindungan.

#islam #Syiarislam #tarakan #kalatara #tarakanhits #paguntaka #beritaislam #ayokemasjid #dakwahislam #tausyiah #hijrah #ceramahislam #kajianislam #tarakancity #coronavirus #covid19 #ukuahislamiah

Sumber Instagram : masjiddarunnajahtarakan

Infografis Perjalanan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW

Infografis Perjalanan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW - Kajian Islam Tarakan
Infografis Perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Berikut ini adalah gambar infografis yang menerangkan peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw. Perjalanan penuh keajaiban ini merupakan salah satu mukjizat Nabi Muhammad. Beliau diperjalankan oleh Allah swt. sehingga bisa mengunjungi Baitul Maqdis di Yerusalem dari Masjidil Haram di Mekah dalam waktu yang amat singkat, sebagian dari malam. Tidak hanya itu beliau juga di-mi’raj-kan, dibawa naik menuju 7 lapis langit hingga ke Sidratul Muntaha. Di sana Nabi Muhammad menerima perintah kewajiban sholat 5 waktu bagi kaum muslimin.

Sumber Web : https://blog.al-habib.info/id/2016/04/infografis-perjalanan-isra-miraj-nabi-muhammad/ (29-April-2016)

Selamat Memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW 27 Rajab 1441 Hijriyah

Selamat Memperingati
Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW
27 Rajab 1441 Hijriyah

“Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan
kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia 
adalah Maha Mendengar lagi Maha  Mengetahui”. (QS. al-Isra’, 17:1)

Kajian Islam Tarakan
https://kajian.tarakan.info/

Jauhi Maksiat dan Kesia-Siaan

Jauhi Maksiat dan Kesia-Siaan - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Jauhi Maksiat dan Kesia-Siaan

Orang yang tidak sibuk dengan kebaikan, akan mudah sibuk dengan maksiat. Orang yang sibuk dengan maksiat akan semakin malas ibadah, semakin buruk akhlaknya dan semakin bermasalah.

Aa Gym

Sumber FB : KH. Abdullah Gymnastiar
14 November 2018 pukul 16.53 ·

Isra Mi’raj Untuk Keindahan

Isra Mi’raj Untuk Keindahan - Kajian Islam Tarakan
ISRA MI’RAJ UNTUK KEINDAHAN
Oase Iman: Buya Yahya

Diantara saat teramat indah yang dilalui oleh Rasulullah SAW adalah saat Isra Mi’raj, saat Rasulullah SAW berdialog khusus dengan Allah SWT. Sebuah kejadian yang tidak bisa disifati oleh siapa pun kecuali oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW melihat Allah SWT, Dzat yang tidak menyerupai apa dan siapapun. Sehingga cara melihatnya pun bukan urusan akal untuk memikirkanya, akan tetapi itu urusan hati untuk mengimaninya. Yang jelas hal itu pernah terjadi pada Rasulullah SAW dan yang pasti Rasulullah SAW melihat dengan mata hatinya.

Dimulai dari kebingungan Rasulullah SAW untuk bersalam kepada Allah SWT, hingga Allah SWT mewahyukan salam yang tepat dari hamba untuk-Nya yaitu “Attahiyyatul mubarokatush sholawaatuth thoyyibaatu lillah” (salam sejahtera yang penuh barokah dan salam sejahtera yang amat baik adalah milik Allah SWT). Saat itu pun Allah menjawab “Assalamu alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarokatuh” (Salam sejahtera, barokah dan rahmat Allah dilimpahkan kepadamu wahai Nabi Muhammad SAW). Kemudian salam itu diabadikan dalam perintah shalat yang dibawa oleh Rasulullah SAW dari perjalanan Isra Mi’raj.

Pesan yang bisa dibaca dari bacaan tasyahud ini adalah seorang hamba yang melakukan shalat sebenarnya adalah melakukan perjalanan menuju Allah SWT dengan berbekal diri dengan 3 bentuk kebaikan. Yang pertama: adalah hubungan baik dengan Allah SWT. Kedua: hubungan baik dengan Rasulullah SAW. Ketiga: hubungan baik dengan sesama manusia.

Seorang hamba yang benar-benar menghadap kepada Allah SWT dan berusaha menjalin hubungan baik kepada Allah SWT ternyata tidak cukup, akan tetapi ia harus menjalin hubungan baik kepada Rasulullah SAW.

Digambarkan dalam tasyahud tersebut seorang hamba yang menghadap kepada Allah SWT di dalam shalat ia harus mengucapkan salam kepada Rasulillah SAW untuk keabsahan sebuah penghambaan dan penghadapan.

Shalat yang merupakan ibadah yang digambarkan sebagai penghadapan khusus seorang hamba kepada Allah SWT akan tetapi justru disaat lagi khusuk-khusuknya kepada Allah SWT, seorang hamba harus mengingat makhluk agung Rasulullah SAW di dalam shalatnya. “Ya Rasulullah SAW alangkah agungnya dirimu disaat kami menghadap Penciptamu ternyata penghadapan kami pun tidak dianggap benar jika kami tidak mengingatmu”. Ternyata tidak cukup hanya mengingat akan tetapi harus mengucapkan salam dengan salam yang seolah-olah berdialog langsung dengan Rasulullah SAW.

Artinya sebanyak apapun seseorang beribadah kepada Allah SWT dengan sujud puasa dan haji yang tidak terhitung ternyata tidak ada maknanya jika tidak diiringi makna kecintaan kepada Rasulullah SAW dan banyak membaca shalawat untuknya.

Pesan selanjutnya, yang sudah baik kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW saja ternyata belum dianggap benar seperti yang digambarkan dalam bacaan tasyahud. Yaitu jika seorang hamba dalam shalatnya berhenti pada salam kepada Rasulullah SAW dan tidak melanjutkannya maka penghadapannya kepada Allah SWT ini pun tidak dianggap sah.

Maka demi kesempurnaan shalatnya seorang hamba harus mengucapkan “Assalamu alaina wa’ala ’ibadillahish sholihin” (Kesejahteraan semoga terlimpah kepada kami semua hamba Allah SWT dan hamba-hambaNya yang sholih). Maknanya ini adalah sebuah upaya menciptakan keindahan kepada sesama yang diikrarkan oleh seorang hamba disaat seorang hamba lagi khusuk menghadap kepada Allah SWT. Hal itu menunjukkan begitu besarnya kewajiban kita kepada sesama manusia. Sehingga belum dianggap baik seorang hamba yang banyak shalat, puasa dan membaca sholawat kepada Rasulullah SAW jika belum bisa menjalin hubungan baik kepada orang tua, saudara, tetangga dan masyarakatnya.

Kemudian disaat kita hendak keluar dari shalatpun kita harus mengucapkan kalimat “Assalamualaikum” dan bukan dzikir-dzikir yang lainya, seperti Laailaaha illallah dan Subhanallah. Itu artinya kita diingatkan kembali bahwa setelah kita shalat kita akan berhadapan dengan sesama kita. Sudahkah kita siap untuk menjalin keindahan dengan sesama tanpa dusta, gunjingan, aniaya dan perbuatan yang merugikan orang lain?

Itulah pendidikan keindahan yang bisa dipetik dari makna shalat dan kisah Isro Mi’raj, yaitu pendidikan keindahan yang sesungguhnya indah kepada Allah SWT, Rasulullah SAW dan sesama manusia. Sungguh benar orang yang telah shalat dengan benar akan terhindar dari kekejian dan kemungkaran. Wallahu a’lam Bish-Showab.

Sumber FB : Buya Yahya
10 Maret pukul 18.30 ·

Menjaga Niat Dalam Beramal

Menjaga Niat Dalam Beramal - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Menjaga Niat Dalam Beramal

Jangan pernah lalai untuk memeriksa niat, karena niat lebih penting dari amal itu sendiri. Besar kecil amal tergantung niatnya.

Aa Gym

Sumber FB : KH. Abdullah Gymnastiar
14 November 2018 pukul 10.56 ·

Jadwal Hikmah Isra Mir’aj 1441 H Bersama Ustadz Arman Aryadi, S.Hi di Masjid-Masjid Kota Tarakan

Jadwal Hikmah Isra Mir’aj 1441 H Bersama Ustadz Arman Aryadi, S.Hi di Masjid-Masjid Kota Tarakan - Kajian Islam Tarakan
Jadwal Hikmah Isra Mir’aj 1441 H Bersama Ustadz Arman Aryadi, S.Hi di Masjid-Masjid Kota Tarakan

Masjid Al-Istqlal 
Kampung Empat Tarakan
Jumat, 20 Maret 2020 (Ba'da Isya)

Masjid Sabilal Muhtadin 
Gang Tambak Tarakan
Sabtu, 21 Maret 2020 (Ba'da Isya)

Masjid Nurul Iman 
Mamburungan Tarakan
Ahad, 22 Maret 2020 (Ba'da Isya)

Sumber FB : Arman Ar Ryadhy
19 Maret 2020 (10 jam ·)

Doa Kajian

Buku Kajian