Mei 2020 - Kajian Islam Tarakan - Kajian Tarakan

Kajian Islam Tarakan

Kajian Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja) Tarakan. Kajian Islam, Kajian Sunnah, Kitab, Fiqih, Tafsir Qur'an oleh Ustadz Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Taman-Taman Surga Kota Tarakan. Informasi dan Dokumentasi Kajian, Pengajian, Ceramah, Tabligh Akbar, Jadwal, Video, Foto, Artikel, Do'a, Buku, Info Pengajian Islam di Masjid Tarakan. Semuanya hanya ada di https://kajian.tarakan.info
@kajiantarakan @tarakandotinfo #kajiantarakan #kajianislamtarakan #kajiansunnahtarakan #kajiankitabtarakan #kajianfiqihtarakan #kajiantafsirtarakan #kajianhadisttarakan #tarakanngaji #tarakanmengaji #masjidtarakan

Akhlak Kunci Dari Kesuksesan

Akhlak Kunci Dari Kesuksesan - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Akhlak Kunci Dari Kesuksesan

Kunci sukses adalah akhlak, akhlak yang bagaimana? Yaitu akhlak yang sempurna, yang semua kebaikannya didasarkan oleh Laa illaha illallah. Tiada Tuhan selain Allah.

Aa Gym

Sumber FB : KH. Abdullah Gymnastiar
3 Desember 2018 pukul 16.46 ·

Puasa 6 Hari di Bulan Syawal Bagai Puasa Setahun Penuh

Puasa 6 Hari di Bulan Syawal Bagai Puasa Setahun Penuh - Qoutes Kajian Islam Tarakan
Puasa 6 Hari di Bulan Syawal Bagai Puasa Setahun Penuh

Sahabat yang baik, ayoo jangan lewatkan kesempatan yang baik ini, keutamaannya luar biasa istimewa InsyaAlloh

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)

Sebarkan kebaikan ini yaa
#EidMubarak #ramadan2020 #islam #muslim #dakwah #tauhid #rahmatanlilalamin

Sumber FB : KH. Abdullah Gymnastiar
27 Mei 2020· 

Syukur Dengan Karunia Allah

Syukur Dengan Karunia Alloh - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Syukur Dengan Karunia Allah

Hidup ini terasa menderita, bukan karena kurang karunia, tapi kurang syukur. Karunia Allah itu ada di setiap saat.

Aa Gym

Sumber FB : KH. Abdullah Gymnastiar
2 Desember 2018 pukul 20.23 ·

Musibah dan Fitnah Yang Pernah Menimpa Salaful Ummah

Musibah dan Fitnah Yang Pernah Menimpa Salaful Ummah - Artikel Kajian Islam Tarakan
MUSIBAH DAN FITNAH YANG PERNAH MENIMPA SALAFUL UMMAH
Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq

Imam Abu Hanifah, berulang kali ditangkap dan dijebloskan dalam penjara karena dianggap penolakannya turut serta dalam pemerintahan sebagai pembangkangan. Hal ini terjadi ketika sang imam tidak bersedia diminta menjadi qadhi (hakim).

Imam Malik disiksa dengan diseret menggunakan kereta kuda keliling kota karena menolak tuntutan gubernur madinah Ja'far al Hasymi untuk mencabut fatwanya.

Al Imam Syafi’i pernah ditangkap dan digelandang dari Yaman menuju Baghdad dalam keadaan kaki dan tangannya di rantai dan hampir dijatuhi hukum pancung. Karena difitnah turut serta mengembangkan ajaran Rafidhah.

Al Imam Ahmad mendekam dalam penjara sekian lama dan dicambuk puluhan kali ketika terjadi fitnah Qur’an makhluk.

Al Imam Bukhari pernah di fitnah mengikuti Paham mu’tazilah yang berpendapat bahwa al Qur’an itu makhluk sampai gurunya- az-Zihli - melarang orang-orang untuk hadir di majelisnya dan beliau terusir dari tempat tinggalnya.

Imam al-Thabari buku-bukunya dibakar karena dituduh Syi’ah karena dalam salah satu karyanya menshahihkan beberapa riwayat yang menyebutkan keutamaan sayidina Ali.

Imam al Biqai dituduh kafir hanya karena mengutip perjanjian lama dalam kitab tafsirnya.

Imam al-Amidi terkena pula tuduhan kafir karena memasukkan unsur filsafat dalam sebagian karyanya.

Imam Nasa’i itu juga babak belur dihajar orang-orang yang tidak suka dengan riwayat hadis yang ia sampaikan tentang Muawiyah.

Dan masih banyak lagi kisah dari para ulama salaful ummah yang menghadapi ujian berat dimasa hidup mereka. Semoga menjadi ibrah bagi kita semua.

═══ ❁✿❁ ═══

“Apakah manusia mengira dibiarkan saja berkata telah beriman, lantas mereka dibiarkan tidak diuji ? Sungguh, orang-orang yang terdahulu pun telah Kami uji. Yang dengan ujian ini, teranglah siapa yang jujur dalam pengakuan imannya, dan siapakah yang dusta belaka.” (Q.S. Al Ankabut: 2-3)

Sumber FB : Ahmad Syahrin Thoriq
23 Mei 2020·

Musibah dan Fitnah Yang Pernah Menimpa Salaful Ummah - Artikel Kajian Islam Tarakan
KH. Ahmad Syahrin Thoriq
Pengasuh Pondok Pesantren Subulana
Bontang - Kalimantan Timur

Selalu Bersamanya

Selalu Bersamanya - Qoutes Kajian Islam Tarakan
๐Ÿ’ฆSELALU BERSAMANYA

ูˆู‚ุฏ ุชุญูˆู„ ูƒู„ ุดูŠุฆ ุถุฏูƒ ูˆูŠุจู‚ูŠ ุงู„ู„ู‡ ู…ุนูƒ. ููƒู† ู…ุน ุงู„ู„ู‡ ูŠูƒู† ูƒู„ ุดูŠุฆ ู…ุนูƒ.

"Allah akan tetap bersamamu, meski orang-orang yang mencintaimu bisa kapanpun menjadi pembencimu. Maka tetaplah bersama Allah, niscaya akan dijadikan segalanya sesuatu menguntungkan dirimu." ~Shalahuddin al Ayubi
©️AST

Sumber Grup WA : SUBULANA I
Pondok Pesantren Subulana
Bontang - Kalimantan Timur

Menjaharkan Shalat Sirr

Menjaharkan Shalat Sirr - Artikel Kajian Sunnah Tarakan
MENJAHARKAN SHALAT SIRR

Ustadz, ada teman saya ketika dia shalat dzuhur sendirian di kantor, dia mengeraskan bacaannya sebagaimana shalat Maghrib dan Isya. Apakah shalatnya sah ?

✔️Jawaban

Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq

Mayoritas ulama berpendapat bahwa memelankan bacaan pada shalat sirr dan sebaliknya, mengeraskan bacaan pada saat shalat Jahr adalah termasuk kesunnahan di dalam shalat.[1] Sehingga jika ada yang mengeraskan bacaannya pada saat shalat sirr, maka shalatnya tetap sah menurut kesepakatan ulama.

๐Ÿ”ฐMadzhab Syafi’i

Seseorang yang mengeraskan bacaan diwaktu sirr shalatnya tetap sah dan tidak perlu sujud sahwi, karena ia hanya meninggalkan kesunnahan biasa. Berkata al Imam Nawawi rahimahullah :

ู„ูˆ ุฌู‡ุฑ ููŠ ู…ูˆุถุน ุงู„ุฅุณุฑุงุฑ ุฃูˆ ุนูƒุณ ู„ู… ุชุจุทู„ ุตู„ุงุชู‡ ูˆู„ุง ุณุฌูˆุฏ ุณู‡ูˆ ููŠู‡ ูˆู„ูƒู†ู‡ ุงุฑุชูƒุจ ู…ูƒุฑูˆู‡ุง

“Jika seseorang mengeraskan bacaan di tempat yang mestinya dibaca sirr, atau sebaliknya, maka shalatnya tidak batal dan ia tidak perlu sujud sahwi akan tetapi ia telah melakukan kemakruhan.”[2]

๐Ÿ”ฐMadzhab Hanbali

Menurut madzhab ini jika ia melakukan dengan sengaja, maka hukumnya dibenci (makruh) namun tidak perlu sujud sahwi, tapi jika ia mengeraskan bacaan tersebut karena lupa, maka disunnahkan sujud sahwi.[3]

๐Ÿ”ฐMadzhab Maliki

Madzhab maliki berpendapat bahwa sirr dan jahrnya shalat hukumnya sunnah muakkadah, meninggalkannya, mengharuskan sujud sahwi. Terkecuali jika seseorang mengeraskan bacaan dikala shalat sirr dengan keras sekedar untuk dirinya.[4]

๐Ÿ”ฐMadzhab Hanafi

Hanafiyah menyelisihi jumhur dalam masalah ini. Madzhab ini berpendapat bahwa sirr dan jahrnya shalat hukumnya adalah wajib. Meninggalkannya menjatuhkan kepada keharaman, meskipun shalatnya tetap sah dan harus diganti dengan sujud sahwi.

Namun, ketentuan ini adalah untuk shalat berjama’ah bukan shalat sendiri, jika dia sendiri, maka tidak ada sujud sahwi.[5]

⭐Kesimpulan

Shalat mereka yang mengeraskan bacaan diwaktu sirr atau sebaliknya tetap sah, namun bagi yang melihat ha seperti itu, perlu mengingatkan agar ia mengetahui kesunnahan perkara ini.

๐Ÿ“šWallahu a’lam.©️AST
___
[1] Al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah (16/188).
[2] Al Majmu’Syarh al  Muhadzab (3/390).
[3] Al Mughni (2/31).
[4] Al Kafi li Ibni Abdil Barr (1/228), al Muafaq (2/18).
[5] Al Badayah (1/661), Fath al Qadir (1/361).

Menjaharkan Shalat Sirr - Artikel Kajian Sunnah Tarakan
Grup WA : SUBULANA I
Pondok Pesantren Subulana
Bontang - Kalimantan Timur

Sedekah Lebaran Untuk Anak-Anak, Tidak Baik?

Sedekah Lebaran Untuk Anak-Anak, Tidak Baik? - Artikel Kajian Sunnah Tarakan
SEDEKAH LEBARAN UNTUK ANAK-ANAK, TIDAK BAIK ?

Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq

Sudah menjadi kebiasaan di setiap lebaran anak-anak akan mendapatkan semacam "salam tempel" dari tetua dan keluarga saat berkunjung atau silaturahim.

Lalu ada yang mengatakan bahwa tradisi ini tidak baik, karena mengajarkan kepada anak meminta-minta atau jadi pengemis. Benarkah ?

Tidak benar ! Dari mana sumber perkataan itu ? Coba sebut satu saja ulama yang ilmunya bisa dipercaya yang berfatwa demikian.

 Justru umumnya para ulama memandang bahwa tradisi tersebut sebagai hal yang mulia karena :

✔️ Mengajarkan kepada anak-anak nilai-nilai kedermawanan.

✔️ Menampakkan syiar kegembiraan dan kebahagiaan di hari raya.

✔️ Memperat silaturahim dan menumbuhkan kecintaan kepada sesama muslim, terlebih kepada keluarga.

✔️ Menjadi ladang amal bagi yang ingin bersedekah namun memiliki kemampuan sekedarnya.

✔️ Mengamalkan sunnah untuk saling memberi hadiah.

Kalau kemudian ada orang tua yang mengajari anaknya meminta-minta, ya yang disalahkan orang tuanya, bukan malah sedekah hari raya-nya.

©️AST

Sedekah Lebaran Untuk Anak-Anak, Tidak Baik? - Artikel Kajian Sunnah Tarakan
Sumber Grup WA : SUBULANA I
Pondok Pesantren Subulana
Bontang - Kalimantan Timur

Jangan Berlebih-Lebihan

Jangan Berlebih-Lebihan - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Jangan Berlebih-Lebihan

"Makan dan minumlah kalian, namun jangan berlebih-lebihan (boros) karena Allah tidak mencintai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raf 7:31)

Sumber FB : KH. Abdullah Gymnastiar
2 Desember 2018 pukul 13.47 ·

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah - Kajian Islam Tarakan
Selamat Hari Raya
Idul Fitri
1 Syawal 1441 Hijriyah

Wahaii Rabb, yang MAHA AGUNG dan HIDUP, diakhir ibadah SHAUM dalam hening menjelang fajar kemenangan dan kesucian, Kami bermunajat ke khadirat-MU :

"Terimalah Shaum Kami dan Curahkan rahmat, magfirah dan ampunanMU pada putra (i) BANGSA Kami, agar selalu mensucikan niat & prilaku demi kebaikan sesama. Hidupkan tali rasa, asih dan asuh, agar Kami selalu menerima kemenangan bersama di atas pribadi atau golongan. Tumbuhkan rasa saling memaafkan, mengikhlaskan dan mensyukuri agar Kami terhindar dari silang pendapat dan perpecahan".

Taqabbalallahu Minna Waa Minkum, Shiyamana Waa Shiyamakum, Kullu Amiin Waa Antum bii Khair.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H, Minal Aidzin Wal Faidzin.
Mohon Maaf Lahir maupun Bathin atas Segala Khilaf dan Salah

Kajian Islam Tarakan
https://kajian.tarakan.info

Amalan Penunjuk Kualitas Ketauhiidan

Amalan Penunjuk Kualitas Ketauhiidan - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Amalan Penunjuk Kualitas Ketauhiidan

Amalan yang sangat utama yang menunjukkan kualitas ketauhiidan adalah berbaik sangka kepada Allah.

Aa Gym

Sumber FB : KH. Abdullah Gymnastiar
1 Desember 2018 pukul 13.40 ·

Tanya Jawab Tata Cara Sholat Idul Fitri di Rumah Terkait COVID-19

Tanya Jawab Tata Cara Sholad Idul Fitri di Rumah Terkait COVID-19

Bersama

Ustadz Arman Aryadi, S.H.I 
(Ketua Yayasan Misbahulmunir Tarakan)

dan 

Ustadz Samsul Bahri
(Ketua MWC NU Tarakan Timur)

di Media Center Dskominfo SP

Tarakan, 22 Mei 2020

Sumber Channel Youtube : Pemkot Tarakan (https://www.youtube.com/channel/UC-l2AMoVgx4eE09ABdwERvg) 

Sahabat, Mari Niatkan Untuk Sholat Jumat di Shaf Paling Depan

Sahabat, Mari Niatkan Untuk Sholat Jumat di Shaf Paling Depan - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Sahabat, Mari Niatkan Untuk Sholat Jumat di Shaf Paling Depan

"Barang siapa berwudhu kemudian memperbaiki wudhunya, lantas berangkat Jumat, dekat dengan Imam dan mendengarkan khutbahnya, maka dosanya di antara hari tersebut dan Jumat berikutnya ditambah tiga hari diampuni". (HR. Muslim)

Sumber FB : KH. Abdullah Gymnastiar
30 November 2018 pukul 11.12 ·

Shalat Berjamaah Online

Shalat Berjamaah Online - Artikel Kajian Islam Tarakan
SHALAT BERJAMAAH ONLINE

Dulu saya pernah menulis bahwa shalat berjamaah secara online itu boleh dengan satu syarat. Jadi misalnya imamnya radio atau televisi dan makmumnya di rumah maka itu boleh asalkan memenuhi satu syarat, yaitu makmumnya juga sebuah radio atau televisi. Hehe... Ini bukan bercanda, saya serius.

Kebetulan saja tadi ada seorang kawan yang mengirim berita menarik soal ini sebagaimana terlihat di gambar dan link. Jadi sekalian saya tulis lagi sekarang dengan setengah serius saja. Tak perlu serius untuk menanggapi orang yang menyebut Ibnu Qudamah sebagai pengikut mazhab Zhahiri padahal semua tahu bahwa beliau seorang Hanbali.

Syaikh Ahmad bin Shiddiq al-Ghummari pernah menulis kitab tentang ini yang kesimpulannya menyelisihi seluruh ulama lain, yakni boleh saja shalat berjamaah melalui media radio. Ini kitab yang aneh yang pendalilannya aneh. Tapi kita tahu bahwa beliau bukan satu-satunya yang aneh sebab zaman ini memang masanya orang aneh. Akhirnya wajar apabila muncul pendapat yang aneh-aneh juga seperti di link.

Keanehan sekaligus kesalahan fatal pendapat itu adalah melupakan bahwa istilah "jamaah" yang dimaksud oleh Nabi dan dipahami oleh para sahabat adalah berkumpulnya orang-orang di satu tempat. Jadi batasannya adalah tempat, bukan soal melihat, bukan pula soal mendengar dan juga bukan soal masjid atau bukan. Melihat atau mendengar imam memang salah satu syarat menjadi makmum, tapi bukan patokan utama untuk terjadinya jamaah sebab orang buta dan orang tuli tetap bisa berjamaah.

Sebab itulah, para fuqaha' membahas soal kriteria batas seseorang masih disebut berada dalam satu tempat; Berapa jarak antara imam dan makmum boleh terpisah, apakah boleh ada penghalang antara keduanya, apakah makmum bisa lewat ke tempat imam dan sebagainya seperti dibahas secara rinci di kitab-kitab fikih.

Andai kita mau berkhayal dengan liar hingga seolah para ulama klasik memperbolehkan imam dan makmum berada di tempat yang sama sekali berbeda dan berjauhan asalkan mendengar atau tahu gerakan makmum, maka tak perlu jauh-jauh mengkhayal soal televisi dan radio. Cukup lah dibayangkan di masa lalu ketika tak ada televisi dan radio ada orang shalat berjamaah di suatu tempat dan ada dua atau tiga orang berteriak sambung menyambung "Hei...sekarang rukuk..., sekarang i'tidal....sekarang sujud...." hingga sampai jauh ke tempat makmum. Apakah itu disebut berjamaah? Ini pertanyaan yang tak perlu dijawab sebab semua tahu jawabannya tidak. Jadi tak bisa kita membawa-bawa nama Ibnu Qudamah atau siapa pun di masa itu untuk masalah berjamaah online sebab itu sama sekali tidak terpikirkan oleh mereka.

Adapun soal hadis bahwa seluruh planet ini bisa menjadi masjid, itu artinya seluruh tempat bisa dijadikan sebagai tempat shalat asalkan suci dari najis. Bukan berarti bahwa bebas imam ada di tempat mana dan makmumnya di tempat mana. Ini sama sekali tak relevan dengan bahasan.

Alasan lainnya bahwa pernikahan dianggap ibadah adalah jauh dari tepat. Semua kitab fikih meletakkan bab pernikahan di luar bab ibadah sebab memang bukan ibadah. Tapi pernikahan juga bukan mu'amalah murni sebab ada hal yang bersifat ibadah di dalamnya. Sebab itu, mereka meletakkan pernikahan setelah bab ibadah dan sebelum mu'amalah. Apalagi bila menyamakan kasus berjamaah online dengan pernikahan online, ini sama dengan menyamakan ketidak jelasan dengan ketidakjelasan lainnya. Akad nikah kok online.

Jadi, apakah bisa shalat berjamaah secara online? Tidak bisa dan tak ada dalilnya.

Berikut link berta yang dibahas:

https://maarifinstitute.org/sekali-lagi-tidak-ada-masalah-…/

Shalat Berjamaah Online - Artikel Kajian Islam Tarakan

Sumber FB  : Abdul Wahab Ahmad
14 Mei 2020 ·

Catatan Qadla Shalat

Catatan Qadla Shalat - Qoutes Kajian Islam Tarakan

Catatan Qadla' Shalat

Sesegera Mungkin
Bila ada shalat yang tidak dilakukan pada waktunya karena lalai, maka wajib diqadla' secepat mungkin. Jadi jangan menunggu Jumat terakhir Ramadhan.

Sampai Yakin
Bila ada keraguan berapa jumlah shalat yang harus diqadla', maka harus dilakukan jumlah terbanyaknya agar yakin tak ada lagi hutang shalat yang mungkin dibawa mati.

Sesuai Jumlah
Bila mempunya hutang shalat sebanyak 100 rakaat misalnya, maka tentu saja tak bisa dibayar dengan dua rakaat saja.

Bukan Shalat Sunnah
Bila yakin tak punya hutang shalat, maka jangan shalat qadla' sebab itu artinya bermain-main dengan ibadah. Qadla' hanya bagi mereka yang pernah meninggalkan shalat.

Sumber FB : Abdul Wahab Ahmad
15 Mei 2020 ·

Meluruskan Pemahaman Tentang Shalat Ala Hanafiyah

Meluruskan Pemahaman Tentang Shalat Ala Hanafiyah - Artikel Kajian Islam Tarakan
MELURUSKAN PEMAHAMAN TENTANG SHALAT ALA HANAFIYAH
Oleh: Abdul Wahab Ahmad

Di beberapa kalangan pelajar fikih perbandingan mazhab, ada anggapan bahwa bisa saja shalat enteng dan serba kilat tanpa thuma’ninah, tanpa sujud dan ruku’ dengan sempurna dengan alasan bertaklid pada mazhab Hanafiyah. Hal ini bahkan dipraktekkan oleh beberapa orang, utamanya di bulan Ramadhan saat tarawih. Saya rasa anggapan ini perlu diluruskan agar tak menjadi preseden buruk bagi mazhab besar yang dipunggawai Imam al-Mujtahid Abu Hanifah tersebut.

Pertama harus diakui bahwa mazhab Hanafiyah memang mempunyai pendapat yang terbilang aneh soal shalat sebab standar keabsahan shalat versi mereka tergolong ringan sekali. Bagaimana tidak, misalnya saja menurut mereka berdiri dari ruku’, thuma’ninah, i’tidal dan tasyahhud tidak harus dilakukan untuk dianggap sah shalatnya. Demikian juga ruku’ dan sujud cukup asal terjadi meski sekejap mata. Duduk di antara dua sujud pun cukup asal mengangkat kepala mendekati duduk, tak perlu hingga duduk dengan lurus, dan lain-lain yang menjadikan standar keabsahan shalat sangat ringan.

Pendapat ini menimbulkan kritik hebat dari banyak ulama. Misalnya saja Syaikh al-Mubarakfuri dalam Tuhtatul Ahwadzi-nya setelah menjelaskan perihal bagaimana Rasulullah meringankan shalatnya, ia berkomentar:

ุชุญูุฉ ุงู„ุฃุญูˆุฐูŠ (2/ 33)
ู‚ُู„ْุชُ ู„َูƒِู†َّ ุฃَูƒْุซَุฑَ ุงู„ْุญَู†َูِูŠَّุฉِ ูŠُุฎَุงู„ِูُูˆู†َ ูِุนْู„َ ุตَุงุญِุจِ ุงู„ุดَّุฑِูŠุนَุฉِ ู‡َุฐَุง ูَูŠُุฎَูِّูُูˆู†َ ูِูŠ ุงู„ุฑُّูƒُูˆุนِ ูˆَุงู„ุณُّุฌُูˆุฏِ ุบَุงูŠَุฉَ ุงู„ุชَّุฎْูِูŠูِ ุญَุชَّู‰ ูŠَูƒُูˆู†َ ุณُุฌُูˆุฏُู‡ُู…ْ ูƒَู†َู‚ْุฑِ ุงู„ุฏِّูŠูƒِ ูˆَุฃَู…َّุง ุชَุนْุฏِูŠู„ُ ุงู„ْุฃَุฑْูƒَุงู†ِ ูَู„َุง ูŠُุฎَูِّูُูˆู†َ ูِูŠู‡ِ ุจَู„ْ ูŠَุชْุฑُูƒُูˆู†َู‡ُ ุฑَุฃْุณًุง ูَู‡َุฏَุงู‡ُู…ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ุชَุนَุงู„َู‰ ุฅِู„َู‰ ูِุนْู„ِ ุตَุงุญِุจِ ุงู„ุดَّุฑِูŠุนَุฉِ ุงู„َّุฐِูŠ ู‚َุงู„َ ุตَู„ُّูˆุง ูƒَู…َุง ุฑَุฃَูŠْุชُู…ُูˆู†ِูŠ ุฃُุตَู„ِّูŠ

"Aku berkata, tetapi kebanyakan Hanafiyah menyelisihi tindakan pemilik syariat ini sehingga mereka meringankan ruku’ dan sujud hingga puncak keringanan sampai sujud mereka seperti ayam yang mematuk tanah. Ada pun meluruskan tubuh dalam rukun-rukun (thuma’ninah), maka mereka tidak meringankannya tetapi meninggalkannya sama sekali. Semoga Allah memberi mereka hidayah pada perbuatan pemilik Syariat yang berkata “Shalatlah seperti kalian melihat aku shalat”.

Kritik Syaikh al-Mubarakfuri itu sangat keras, dan itu bisa dimaklumi. Bandingkan saja antara shalat yang sujudnya seperti patukan ayam itu dengan petunjuk Rasulullah ๏ทบ di hadis Muttafaq Alaihi berikut:

ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ู‡ُุฑَูŠْุฑَุฉَ ุฃَู†َّ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฏَุฎَู„َ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏَ ูَุฏَุฎَู„َ ุฑَุฌُู„ٌ ูَุตَู„َّู‰ ูَุณَู„َّู…َ ุนَู„َู‰ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูَุฑَุฏَّ ูˆَู‚َุงู„َ ุงุฑْุฌِุนْ ูَุตَู„ِّ ูَุฅِู†َّูƒَ ู„َู…ْ ุชُุตَู„ِّ ูَุฑَุฌَุนَ ูŠُุตَู„ِّูŠ ูƒَู…َุง ุตَู„َّู‰ ุซُู…َّ ุฌَุงุกَ ูَุณَู„َّู…َ ุนَู„َู‰ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูَู‚َุงู„َ ุงุฑْุฌِุนْ ูَุตَู„ِّ ูَุฅِู†َّูƒَ ู„َู…ْ ุชُุตَู„ِّ ุซَู„َุงุซًุง

“Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke masjid, lalu ada juga seorang laki-laki masuk Masjid dan langsung shalat kemudian memberi salam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau menjawab dan berkata kepadanya, "Kembalilah dan ulangi shalatmu karena kamu belum shalat!" Maka orang itu mengulangi shalatnya seperti yang dilakukannya pertama tadi kemudian datang menghadap kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan memberi salam. Namun Beliau kembali berkata: "Kembalilah dan ulangi shalatmu karena kamu belum shalat!" Beliau memerintahkan orang ini sampai tiga kali”.

ูَู‚َุงู„َ ูˆَุงู„َّุฐِูŠ ุจَุนَุซَูƒَ ุจِุงู„ْุญَู‚ِّ ู…َุง ุฃُุญْุณِู†ُ ุบَูŠْุฑَู‡ُ ูَุนَู„ِّู…ْู†ِูŠ ูَู‚َุงู„َ ุฅِุฐَุง ู‚ُู…ْุชَ ุฅِู„َู‰ ุงู„ุตَّู„َุงุฉِ ูَูƒَุจِّุฑْ ุซُู…َّ ุงู‚ْุฑَุฃْ ู…َุง ุชَูŠَุณَّุฑَ ู…َุนَูƒَ ู…ِู†ْ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†ِ ุซُู…َّ ุงุฑْูƒَุนْ ุญَุชَّู‰ ุชَุทْู…َุฆِู†َّ ุฑَุงูƒِุนًุง ุซُู…َّ ุงุฑْูَุนْ ุญَุชَّู‰ ุชَุนْุฏِู„َ ู‚َุงุฆِู…ًุง ุซُู…َّ ุงุณْุฌُุฏْ ุญَุชَّู‰ ุชَุทْู…َุฆِู†َّ ุณَุงุฌِุฏًุง ุซُู…َّ ุงุฑْูَุนْ ุญَุชَّู‰ ุชَุทْู…َุฆِู†َّ ุฌَุงู„ِุณًุง ูˆَุงูْุนَู„ْ ุฐَู„ِูƒَ ูِูŠ ุตَู„َุงุชِูƒَ ูƒُู„ِّู‡َุง

"Akhirnya laki-laki tersebut berkata, "Demi Dzat yang mengutus Tuan dengan hak, aku tidak bisa melakukan yang lebih baik dari itu. Maka ajarilah aku!". Beliau lantas berkata: "Jika kamu berdiri untuk shalat maka mulailah dengan takbir, lalu bacalah apa yang mudah buatmu dari Al Qur'an kemudian rukuklah sampai benar-benar rukuk dengan thuma'ninah (tenang), lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak, lalu sujudlah sampai hingga benar-benar thuma'ninah, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk hingga benar-benar duduk dengan thuma'ninah. Maka lakukanlah dengan cara seperti itu dalam seluruh shalatmu." (HR. Bukhari Muslim).

Hadisnya sangat jelas menegaskan bahwa asal bergerak dengan niat shalat saja tidak cukup. Setiap gerakannya harus sesuai tata cara seperti yang diajarkan Nabi tersebut. Bila tidak, maka shalatnya harus diulangi. Tak peduli berapa kali pun shalatnya, selama masih salah maka harus diulangi. Itulah hukum yang bisa diambil dari hadis tersebut. Berdasarkan itu pulalah para imam mewajibkan thuma’ninah (berdiam dengan tenang) di masing-masing rukun dan mereka juga menetapkan syarat minimal untuk gerakan seperti ruku’, sujud, i’tidal, dan duduk.

Dari sini tampak seolah Mazhab Hanafiyah betul-betul menabrak hadis dengan memperbolehkan shalat seperti ayam mematuk tanah dan lain-lain di atas itu. Tapi tunggu dulu, benarkah mereka menabrak hadis itu dan sengaja menyelisihi Rasulullah? Tidak.

Perlu diketahui bahwa Fuqaha’ Hanafiyah mempunyai istilah teknis yang berbeda perihal apa-apa yang harus dilakukan dalam shalat. Pertama adalah “fara’idl” dan kedua adalah “wajibat”. Secara bahasa makna kedua kata itu sama-sama harus, tapi mereka punya definisi yang berbeda dalam bab ini. Fara’idl bagi mereka adalah kewajiban yang bila tidak dilakukan maka berakibat shalatnya batal. Adapun wajibat adalah kewajiban yang bila ditinggalkan tidaklah berakibat shalatnya batal, hanya saja hukumnya berdosa bila disengaja dan tidak diganti sujud sahwi.

Menurut Imam Abu Yusuf al-Hanafi, ruku’ dan sujud dengan sempurna hingga semua pergelangan tubuh berada diam di tempatnya masing-masing (thuma’ninah) adalah termasuk fara’idl sehingga bila tidak dilakukan artinya batal. Ini sama dengan pendapat mayoritas ulama secara umum. Namun menurut mayoritas Hanafiyah, itu termasuk wajibat sehingga tak sampai menyebabkan batal. Syaikh Abdurrahman al-Jaza’iri menjelaskan hal ini dalam al-Fiqh ‘ala Madzahib al-Arba’ah sebagai berikut:

ุงู„ูู‚ู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุฐุงู‡ุจ ุงู„ุฃุฑุจุนุฉ (1/ 212)
ู‚ุงู„ูˆุง: ุฅู† ุงู„ุฑูุน ู…ู† ุงู„ุฑูƒูˆุน ูˆุงู„ุทู…ุฃู†ูŠู†ุฉ ูˆุงู„ุงุนุชุฏุงู„ ู…ู† ูˆุงุฌุจุงุช ุงู„ุตู„ุงุฉ؛ ู„ุง ู…ู† ูุฑุงุฆุถู‡ุง. ุจุญูŠุซ ู„ูˆ ุชุฑูƒู‡ุง ุงู„ู…ุตู„ูŠ ู„ุง ุชุจุทู„ ุตู„ุงุชู‡، ูˆู„ูƒู†ู‡ ูŠุฃุซู… ุฅุซู…ุงً ุตุบูŠุฑุงً، ูƒู…ุง ุชู‚ุฏู… ุจูŠุงู†ู‡ ุบูŠุฑ ู…ุฑุฉ

“Hanafiyah berkata: Sesungguhnya berdiri dari ruku’, thuma’ninah dan i’tidal termasuk wajibat shalat, bukan fara’idlnya dalam arti apabila seseorang meninggalkankan, maka shalatnya tidak batal TETAPI IA BERDOSA dengan dosa kecil, seperti telah dijelaskan berkali-kali.”

Yang harus dicatat tebal-tebal di sini adalah keringanan ekstrem versi Hanafiyah itu BUKAN DALAM ARTI BOLEH DILAKUKAN APALAGI DIREKOMENDASIKAN. Tidak sempurna melakukan ruku’, sujud, i’tidal dan duduk di antara dua sujud dengan thuma’ninah bukanlah pendapat mazhab mereka. Mereka memang menganggap shalat sah meskipun tidak melakukan itu semua dengan baik tetapi mereka juga menganggap itu berdosa bila dilakukan dengan sengaja!. Inilah yang luput dari perhatian beberapa orang.

Gambaran sah tapi berdosa ini dalam mazhab lain seperti orang yang shalat memakai baju hasil curian atau berwudlu dengan cara menyerobot air jatah orang lain. Mungkinkah hal dosa semacam ini direkomendasikan ulama dan dijadikan pendapat mazhab sehingga siapa pun boleh melakukannya dengan sengaja? Tidak mungkin.

Adapun pernyataan Al-Mubarakfuri atau lainnya yang menyatakan bahwa orang Hanafiyah shalatnya seperti itu, saya cukup yakin bahwa itu hanyalah oknum saja atau mengikuti salah satu tokoh Hanafiyah yang menganggap thuma’ninah (dalam istilah Hanafiyah adalah ta’dilul arkan) itu hanya sunnah. Pendapat yang tertolak seperti ini tak perlu diperhitungkan.

Kesimpulannya, bila mau shalat mengikuti Mazhab Hanafiyah dengan benar, maka kecepatan shalatnya akan seperti shalat biasa di mazhab lainnya, tidak seperti patukan ayam atau asal bergerak tanpa sempurna gerakannya. Wallahu a’lam.

Sumber FB : Abdul Wahab Ahmad
12 Mei 2020 ·

Memposting Masalah Agama

Memposting Masalah Agama - Qoutes Kajian Islam Tarakan
Memposting Masalah Agama

Jika ada yang mengejekmu karena sering memposting masalah agama, jawab saja : "Amalku sedikit sedangkan dosaku sangat banyak. Dengannya aku berharap dapat pahala, dan dengan bersabar menghadapi orang seperti anda saya berharap dapat ampunan dosa." (AST)

Sumber FB : Ahmad Syahrin Thoriq
14 Mei 2020

Fiqih Kontemporer

Fiqih Kontemporer - Artikel Kajian Islam Tarakan
Fiqih Kontemporer
by. Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Salah satu masalah paling berat dalam ilmu fiqih adalah fiqih kontemporer. Maka itu tidak keliru kalau sebagian kalangan sering menjulukinya dengan istilah 'qadhiyah fiqhiyah mu'ashirah' atau problematika fiqih kontemporer.

Qadhiyah itu bisa punya banyak makna, misalnya ketentuan, karena diambil dari kata qadha' yang berarti ketetapan. Tapi bisa juga bermakna 'problematika'.

Saya pribadi lebih suka masuk lewat makna yang kedua ini, ya qadhiyah fiqhiyah mu'ashirah. Masalah-masalah fiqih kekininan alias kontemporer.

Kenapa jadi qadhiyah atau masalah?

Karena belum sempat dibahas di kitab-kitab fiqih klasik. Masalahnya baru muncul di masa sekarang, yang nyaris tidak terbayangkan dan tidak terpikirkan oleh para ulama klasik.

Padahal di masa lalu biasanya masalah-masalah fiqih itu sudah bisa diprediksi oleh para ulama jauh sebelum kemunculannya. Itu memang salah satu kehebatan para ulama klasik, sehingga dalam banyak urusan peribadatan, kita masih nyaman menjawabnya dengan menggunakan hasil ijtihad 1.000-an tahun yang lalu.

Contoh sederhana, kitab Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib karya Al-Qadhi Abu Syuja' tahun 593 H. Al-Muhadzdzab karya As-Syairazi itu tahun 476 H dan Al-Hawi Al-Kabir karya AL-Mawardi tahun 450 H. Semau itu masih kita pakai di masa sekarang, khususnya untuk masalah peribadatan.

Tapi kalau sudah menyangkut fenomena yang terlalu kekinian, tiba-tiba kita mengalami kesulitan untuk merujuk kitab-kitab itu. Sebab zamannya berubah, keadaan sosial ekonomi dan teknologi nya juga berubah drastis. Sehingga perlu dikaji ulang dengan lebih kritis.

Bukan berarti kita buang pendapat ulama klasik karena dianggap usang. Tidak demikian maksudnya. Namun kita juga harus mempelajari secara seksama bagaimana ijtihad para lama di seribuan tahun yang lalu dengan berdasarkan fakta dan realitas mereka.

Meski sebagian besar karya fiqih dan ijtihad mereka masih tetap eksis tidak lekang dilanda perubahan zaman, namun tidak bisa dipungkiri dalam beberapa hal nampaknya memang perlu dikaji ulang, karena faktor perubahan zaman yang sangat ekstrim.

Contoh yang paling sederhana tentang konsep uang. Banyak diantara kita yang tidak sadar bahwa hakikat uang di masa lalu dengan di masa sekarang itu sangat jauh berbeda.

Di masa lalu, uang itu berwujud benda berharga seperti emas, perak dan lainnya. Nilainya include di dalam benda itu. Istilahnya nilai intrinsik.

Sedangkan uang kertas yang kita gunakan di masa sekarang, secara fisik hanya hasil cetakan mesin yang secara teknis tidak punya nilai apa-apa. Kalau pun tertulis angka sekian rupiah di atasnya, itu hanya nilai nominal saja. Persis seperti uang mainan.

Kertas itu jadi berharga hanya karena diakui oleh bank negara sebagai alat tukar resmi. Bila pengakuan itu berakhir, uang kertas itu turun derajat menjadi uang palsu atau menjadi uang mainan.

Secara kajian fiqih jelas akan sangat jauh berbeda hukumnya. Tidak sama antara orang di masa lalu punya uang dalam bentuk koin emas seberat 85 gram, dengan kita di masa sekarang punya uang kertas yang bisa untuk membeli emas seberat 85 gram.

Sekedar perbandingan saja, di masa lalu itu orang punya uang berbentuk koin emas seberat 85 gram (20 mitsqal) dan telah memilikinya setahun (haul), maka dia kena zakat atas emasnya.

Namun dim asa itu pula, bila yang dia miliki itu bukan emas, tapi perunggu (disebut fulus), maka tidak terkena zakat. Walaupun jumlahnya banyak dan senilai dengan 85 gram emas. Namun secara syar'i dia tidak terkena kewajiban berzakat.

Sebabnya karena belum terpenuhi syaratnya, yaitu uangnya tidak berbentuk emas. Yang terkena zakat itu emas, bukan harta senilai emas.

Ayatnya di dlaam Al-Quran juga tegas menyebutkan emas.

ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ูŠَูƒْู†ِุฒُูˆู†َ ุงู„ุฐَّู‡َุจَ ูˆَุงู„ْูِุถَّุฉَ ูˆَู„َุง ูŠُู†ْูِู‚ُูˆู†َู‡َุง ูِูŠ ุณَุจِูŠู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ูَุจَุดِّุฑْู‡ُู…ْ ุจِุนَุฐَุงุจٍ ุฃَู„ِูŠู…ٍ

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, (QS. At-Taubah : 34)

Fulus itu uang receh, meski jumlahnya banyak sekai, setara dengan 85 gram emas, namun secara hitungan fiqih tidak termasuk yang wajib dizakati.

Lalu hari ini, justru tidak ada lagi orang yang punya uang dalam wujud emas, atau pun fulus (perunggu). Yang kita pegang hanya kertas yang tidak tidak ada harganya, kecuali hanya di tempat tertentu (NKRI) dan di waktu tertentu(selama masih berlaku). Geser sedikit lokasi dan waktunya, koleksi uang kertas kita langsung jadi mainan anak-anak.

Kalau nggak percaya, silahkan jalan-jalan ke Eropa, bawa kertas rupiah, pasti tidak laku. Kita kudu tukar dulu sebelumnya ke money changer.

Atau coba belaja di warung sebelah, pakai uang kertas keluaran tahun 80-an. Pasti ditolak sama penjualnya. Sudah tidak laku uangnya, pak.

Maka ini jadi qadhiyah fiqhiyah muashirah. Apakah uang kertas bisa diqiyas kan dengan emas, sehingga kena zakat? Ataukah sebaliknya bahwa keberadaan emas yang terkena zakat itu bersifat ta'abbudi dan tauqifi?

Ini jelas PR besar buat kita yang hidup di masa kini. Inilah contoh kecil qadhiyah fiqhiyahmuashirah itu terjadi. Dan pastinya akan ada begitu bayak pendapat yang saling berbeda. Dan perbedaan dalam qadhiyah fiqhiyah mu'ashirah sangat kental dan dominan, melebihi kajian fiqih klasik.

Sumber FB : Ahmad Sarwat
9 Mei 2020·

Bersungguh-Sungguh Di Penghujung Ramadhan

Bersungguh-Sungguh Di Penghujung Ramadhan - Kajian Islam Tarakan

Bersungguh-Sungguh Di Penghujung Ramadhan

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu lainnya." (HR. Muslim, no. 1175) 

Sahabatku, kita sudah di penghujung Ramadhan, harus lebih bersungguh-sungguh.

Jangan sia-siakan detik demi detiknya, bisa jadi ini Ramadhan terakhir kita. Semoga di hari-hari yang tersisa ini Alloh mengampuni dosa dosa kita.

#ramadan2020 #islam #rahmatanlilalamin #lailatulqadar

Sumber FB : KH. Abdullah Gymnastiar
16 Mei 2020

Beragam Cara Shalat Ied

Beragam Cara Shalat Ied - Info Kajian Islam Tarakan
Beragam Cara Shalat Ied

Silakan pilih shalat ied mana yang dirasa paling pas di daerah masing-masing di masa pandemi ini.

Gambarnya lebih jelas bila didownload lalu dizoom

Sumber FB : Abdul Wahab Ahmad
14 Mei 2020· 

Zakat Dengan Nilai Selama Ini Tidak Sah?

Zakat Dengan Nilai Selama Ini Tidak Sah? - Artikel Kajian Sunnah Tarakan
ZAKAT DENGAN NILAI SELAMA INI TIDAK SAH ?

Beredar video dan broadcast yang menyatakan bahwa zakat fitrah dalam rupa uang senilai 2,5 Kg tidak sah. Jika hendak dikeluarkan dengan uang harus senilai harga kurma atau bahan makanan pokok arab. Benarkah demikian ?

Pernyataan demikian ini tidak tepat, ditinjau dari beberapa hal :

1. Mayoritas lembaga fatwa dunia dulu hingga hari ini, menyatakan bahwa praktik berzakat dengan menggabungkan pendapat Hanafiyah yang membolehkan dengan nilai (uang) dengan madzhab jumhur yang mengharuskan dengan makanan pokok adalah boleh dan sah.

Demikian fatwa dari Majma' Buhuts al Islamiyah- al Azhar, Darr ifta' Mishriyah - Mesir, Lajnah Daimah - Saudi, MUI - Indonesia, Darr Ifta' Kuwait, Qatar dan negara arab lainnya.

2. Fatwa ulama dunia dalam masalah ini sudah lewat kajian yang mendalam terhadap dalil-dalil yang ada. Berjalan puluhan tahun lamanya di berbagai wilayah kaum muslimin.

Cukuplah hal yang seperti ini menjadi pedoman bagi orang yang awam untuk meyakini bahwa pendapat ulama yang ada, dan diikuti sudah sangat kokoh dan terpercaya.

Jangan mudah silau dan galau dengan penjelasan pihak yang nampak ilmiah namun sebenarnya masih prematur dan belum teruji dengan baik.

3. Pernyataan bahwa Talfiq mutlak dilarang dalam satu paket ibadah tidaklah sepenuhnya benar. Jika kita mau jujur dalam menelusuri literatur, kita pasti akan dapati sebagian ulama membolehkan talfiq meski dalam rangkaian ibadah yang sama.

4. Masalah perbedaan pendapat dalam penunaian zakat seperti ini adalah murni ranah khilafiyah. Sangat tidak bijak jika disikapi dengan pernyataan sah dan tidak sah.

Paling mungkin jika hendak mengunggulkan satu pendapat dari yang lain, cukup dinyatakan ini yang lebih utama, ini lebih baik, ini lebih kuat karena keluar dari khilaf.

Sehingga tidak menimbulkan keresahan di tengah-tengah umat atas masalah yang sebenarnya bisa disederhanakan.

Wallahu a'lam.

Zakat Dengan Nilai Selama Ini Tidak Sah? - Artikel Kajian Sunnah Tarakan

Ahmad Syahrin Thoriq
21 jam ·

Sifat Kedermawanan di Bulan Ramadhan

Sifat Kedermawanan di Bulan Ramadhan - Qoutes Kajian Islam Tarakan
Sifat Kedermawanan di Bulan Ramadhan

Aku senang jika ada seorang lelaki menambah sifat kedermawanannya di bulan Ramadhan untuk mengikuti Rasulullah SAW, Guna memenuhi hajat manusia dan masalahat mereka di bulan Ramadhan, karena dibulan ini banyak orang-orang lebih disibukkan dengan ibadah puasa dan sholat daripada mencari nafkah duniawi. (Imam Syafi'i rahimahullah)

*Salurkan Zakat, Infaq, dan Shadaqoh anda melalui :*
*Rek Zakat*
Bank Syariah Mandiri (BSM)
7-1051-3231-4
a/n YAYASAN MAJELIS RASULULLAH SAW

*Rek Infaq & Shadaqoh*
Bank Syariah Mandiri (BSM)
7-8080-2323-1
a/n YAYASAN MAJELIS RASULULLAH SAW

Semoga amal zakat, Infaq, dan Shadaqoh kita diterima Allah SWT bermanfaat untuk kita bersama dan kita hidup bahagia dunia akhirat . Amiin

*Kontak Person*
Informasi : Sdr.Ainiy 0813-8744-1013
Konsultasi : Ustd.Ahmad Afif 0878-8523-5424
===========================
Info lebih lanjut :
FansPage FB : Majelis Rasulullah SAW
Twitter : @mjl_rasulullah
Instagram : MajelisRasulullahSAW_Official

Doa Malam Lailatur Qadar

Doa Malam Lailatur Qadar - Kajian Islam Tarakan
Doa Malam Lailatur Qadar

Aisyah radhiyallahu‘anha pernah bertanya pada Rasulullah,
"Jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?”

Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Berdo’alah... Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni"

"Ya Alloh, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku" (HR. Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850)

Sahabat yang baik, di 10 malam terakhir ini ayo kita perbanyak amal, ibadah, hidupkan malam dan perbanyak doa ini.

Semoga Alloh, mengaruniai kita mendapatkan kemuliaan malam lailatul qadar dan Semoga Alloh mengampuni dosa dosa kita.

#ramadan2020 #islam #rahmatanlilalamin #tauhid

Sumber FB : KH. Abdullah Gymnastiar
· 13 Mei 2020 · 

Saksikanlah Damai Indonesiaku Bersama Ustadz Azhari Nasution, Ustadz Abdurrohman Djaelani dan KH Didin Hafidhuddin di TVOne

Saksikanlah Damai Indonesiaku Bersama Syekh Muhammad Jaber, Ustadz Sholeh Mahmud dan Ustadz Abdul Somad di TVOne 20200515 - Kajian Islam Tarakan

Saksikanlah Damai Indonesiaku Bersama Ustadz Azhari Nasution, Ustadz Abdurrohman Djaelani dan KH Didin Hafidhuddin Hanya di TVOne

Jangan lewatkan Damai Indonesiaku spesial Ramadhan dengan tema: Fiqh Zakat di Saat Wabah.

Jumat, 15 Mei 2020 LIVE jam 14.00 WIB LIVE hanya di tvOne & streaming di linktr.ee/tvonenews.

#DamaiIndonesiakutvOne #diRumahNontontvOne #RamadhanditvOne

Sumber FB : tvOneNews
15 Mei 2020 (1 jam) · 

Setiap Perbuatan Pasti Ada Balasannya

Setiap Perbuatan Pasti Ada Balasannya - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Setiap Perbuatan Pasti Ada Balasannya

Setiap kita melakukan kebaikan pasti dilihat oleh Allah dan pasti ada balasannya dengan sempurna. Begitupun setiap kali kita berbuat maksiat, itu pasti dilihat oleh Allah dan juga ada balasannya.

Aa Gym

KH. Abdullah Gymnastiar
21 jam ·

Fatwa MUI tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat Idul Fitri Saat Pandemi COVID-19

Fatwa MUI Nomor: 28 Tahun 2020 tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat Idul Fitri Saat Pandemi COVID-19

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA
NOMOR 28 TAHUN 2020
TENTANG 
PANDUAN KAIFIAT TAKBIR DAN SHALAT IDUL FITRI SAAT PANDEMI COVID-19


KETENTUAN DAN PANDUAN HUKUM

I. Ketentuan Hukum
1. Shalat Idul Fitri hukumnya sunnah muakkadah yang menjadi salah satu syi’ar keagamaan ( syi’ar min sya’air al-Islam ).
2. Shalat idul fitri disunnahkan bagi setiap muslim, baik laki laki maupun perempuan, merdeka maupun hamba sahaya, dewasa maupun anak-anak, sedang di kediaman maupun sedang bepergian (musafir), secara berjamaah maupun secara sendiri.
3. Shalat Idul fitri sangat disunnahkan untuk dilaksanakan secara berjama’ah di tanah lapang, masjid, mushalla dan tempat lainnya.
4. Shalat Idul Fitri berjamaah boleh dilaksanakan di rumah.
5. Pada malam idul fitri, umat Islam disunnahkan untuk menghidupkan malam idul fitri dengan takbir, tahmid, tasbih, serta aktifitas ibadah.

II. Ketentuan Pelaksanaan Idul Fitri di Kawasan COVID-19
1. Jika umat Islam berada di kawasan COVID-19 yang sudah terkendali pada saat 1 Syawal 1441 H, yang salah satunya ditandai dengan angka penularan menunjukkan kecenderungan menurun dan kebijakan pelonggaran aktifitas sosial yang memungkinkan terjadinya kerumunan berdasarkan ahli yang kredibel dan amanah, maka shalat idul fitri dilaksanakan dengan cara berjamaah di tanah lapang, masjid, mushalla, atau tempat lain.
2. Jika umat Islam berada di kawasan terkendali atau kawasan yang bebas COVID-19 dan diyakini tidak terdapat penularan (seperti di kawasan pedesaan atau perumahan terbatas yang homogen, tidak ada yang terkena COVID-19, dan tidak ada keluar masuk orang), shalat idul fitri dapat dilaksanakan dengan cara berjamaah di tanah lapang/masjid/mushalla/tempat lain.
3. Shalat Idul Fitri boleh dilaksanakan di rumah dengan berjamaah bersama anggota keluarga atau secara sendiri ( munfarid), terutama jika ia berada di kawasan penyebaran COVID-19 yang belum terkendali.
4. Pelaksanaan shalat idul fitri, baik di masjid maupun di rumah harus tetap melaksanakan protokol kesehatan dan mencegah terjadinya potensi penularan.

III. Panduan Kaifiat Shalat Idul Fitri Berjamaah
Kaifiat shalat idul fitri secara berjamaah adalah sebagai berikut:
1. Sebelum shalat, disunnahkan untuk memperbanyak bacaan takbir, tahmid, dan tasbih.
2. Shalat dimulai dengan menyeru "ash-shalรขta jรขmi‘ah", tanpa azan dan iqamah.
3. Memulai dengan niat shalat idul fitri, yang jika dilafalkan berbunyi;
ุฃُุตَู„ِّูŠ ุณُู†َّุฉً ู„ุนِูŠْุฏِ ุงْู„ูِุทْุฑِ ุฑَูƒْุนَุชَูŠْู†ِ (ู…َุฃْู…ُูˆْู…ًุง\ุฅِู…َุงู…ًุง) ู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰
“Aku berniat shalat sunnah Idul Fitri dua rakaat (menjadi makmum/imam) karena Allah ta’ala.”
4. Membaca takbiratul ihram (ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ) sambil mengangkat kedua tangan.
5. Membaca takbir sebanyak 7 (tujuh) kali (di luar takbiratul ihram) dan di antara tiap takbir itu dianjurkan membaca:
ุณُุจْุญَุงู†َ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„ู‡ِ ูˆَู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุงู„ู„ู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ
6. Membaca surah al-Fatihah, diteruskan membaca surah yang pendek dari Alquran.
7. Ruku’, sujud, duduk di antara dua sujud, dan seterusnya hingga berdiri lagi seperti shalat biasa.
8. Pada rakaat kedua sebelum membaca al-Fatihah, disunnahkan takbir sebanyak 5 (lima) kali sambil mengangkat tangan, di luar takbir saat berdiri ( takbir qiyam), dan di antara tiap takbir disunnahkan membaca:
ุณُุจْุญَุงู†َ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„ู‡ِ ูˆَู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุงู„ู„ู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ.
9. Membaca Surah al-Fatihah, diteruskan membaca surah yang pendek dari Alquran.
10. Ruku’, sujud, dan seterusnya hingga salam.
11. Setelah salam, disunnahkan mendengarkan khutbah Idul Fitri.

IV. Panduan Kaifiat Khutbah Idul Fitri
1. Khutbah ‘Id hukumnya sunnah yang merupakan kesempuranaan shalat idul fitri.
2. Khutbah ‘Id dilaksanakan dengan dua khutbah, dilaksanakan dengan berdiri dan di antara keduanya dipisahkan dengan duduk sejenak.
3. Khutbah pertama dimulai dengan takbir sebanyak sembilan kali, sedangkan pada khutbah kedua dimulai dengan takbir tujuh kali.
4. Khutbah pertama dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Membaca takbir sebanyak sembilan kali
b. Memuji Allah dengan sekurang-kurangnya membaca ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡
c. Membaca shalawat nabi Saw., antara lain dengan membaca ุงู„ู„ู‡ู… ุตู„ ุนู„ู‰ ุณูŠุฏู†ุง ู…ุญู…ุฏ
d. Berwasiat tentang takwa.
e. Membaca ayat Al-Qur'an
5. Khutbah kedua dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Membaca takbir sebanyak tujuh kali
b. Memuji Allah dengan sekurang-kurangnya membaca ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡
c. Membaca shalawat nabi saw, antara lain dengan membaca ุงู„ู„ู‡ู… ุตู„ ุนู„ู‰ ุณูŠุฏู†ุง ู…ุญู…ุฏ
d. Berwasiat tentang takwa.
e. Mendoakan kaum muslimin

V. Ketentuan Shalat Idul Fitri Di Rumah
1. Shalat Idul Fitri yang dilaksanakan di rumah dapat dilakukan secara berjamaah dan dapat dilakukan secara sendiri.
2. Jika shalat Idul fitri dilaksanakan secara berjamaah, maka ketentuannya sebagai berikut:
a. Jumlah jamaah yang shalat minimal 4 orang, satu orang imam dan 3 orang makmum.
b. Kaifiat shalatnya mengikuti ketentuan angka III ( Panduan Kaifiat Shalat Idul Fitri Berjamaah) dalam fatwa ini.
c. Usai shalat Id, khatib melaksanakan khutbah dengan mengikuti ketentuan angka IV dalam fatwa ini.
d. Jika jumlah jamaah kurang dari empat orang atau jika dalam pelaksanaan shalat jamaah di rumah tidak ada yang berkemampuan untuk khutbah, maka shalat idul fitri boleh dilakukan berjamaah tanpa khutbah.
3. Jika shalat Idul fitri dilaksanakan secara sendiri ( munfarid), maka ketentuannya sebagai berikut:
a. Berniat niat shalat idul fitri secara sendiri.
b. Dilaksanakan dengan bacaan pelan ( sirr).
c. Tata cara pelaksanaannya mengacu pada angka III ( Panduan Kaifiat Shalat Idul Fitri Berjamaah) dalam fatwa ini.
d. Tidak ada khutbah.

VI. Panduan Takbir Idul Fitri
1. Setiap muslim dalam kondisi apapun disunnahkan untuk menghidupkan malam idul fitri dengan takbir, tahmid, tahlil menyeru keagungan Allah SWT.
2. Waktu pelaksanaan takbir mulai dari tenggelamnya matahari di akhir ramadhan hingga jelang dilaksanakannya shalat Idul Fitri.
3. Disunnahkan membaca takbir di rumah, di masjid, di pasar, di kendaraan, di jalan, di rumah sakit, di kantor, dan di tempat-tempat umum sebagai syiar keagamaan.
4. Pelaksanaan takbir bisa dilaksanakan sendiri atau bersama-sama, dengan cara jahr (suara keras) atau sirr (pelan).
5. Dalam situasi pandemi yang belum terkendali, takbir bisa dilaksakan di rumah, di masjid oleh pengurus takmir, di jalan oleh petugas atau jamaah secara terbatas, dan juga melalui media televisi, radio, media sosial, dan media digital lainnya.
6. Umat Islam, pemerintah, dan masyarakat perlu menggemakan takbir, tahmid, dan tahlil saat malam idul Fitri sebagai tanda syukur sekaligus doa agar wabah COVID-19 segera diangkat oleh Allah SWT.

VII. Amaliah Sunnah Idul Fitri
Pada hari Idul Fitri disunnahkan beberapa amaliah sebagai berikut:
1. Mandi dan memotong kuku
2. Memakai pakaian terbaik dan wangi-wangian
3. Makan sebelum melaksanakan sholat Idul Fitri
4. Mengumandangkan takbir hingga menjelang shalat.
5. Melewati jalan yang berbeda antara pergi dan pulang
6. Saling mengucapkan selamat (tahniah al-id) antara lain dengan mengucapkan ุชู‚ุจู„ ุงู„ู„ู‡ ู…ู†ุง ูˆ ู…ู†ูƒู…

Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 20 Ramadan 1441 H/13 Mei 2020 M


MAJELIS ULAMA INDONESIA
KOMISI FATWA


PROF. DR. H. HASANUDDIN AF
Ketua

DR. HM. ASRORUN NI’AM SHOLEH, MA
Sekretaris

Mengetahui,
DEWAN PIMPINAN
MAJELIS ULAMA INDONESIA

KH. MUHYIDDIN JUNAEDI, MA
Wakil Ketua Umum

DR. H. ANWAR ABBAS, MM, MAg
Sekretaris Jenderal
Fatwa MUI tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat Idul Fitri Saat Pandemi COVID-19 - Kajian Islam Tarakan
Fatwa MUI tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat Idul Fitri Saat Pandemi COVID-19 - Kajian Islam Tarakan
Fatwa MUI tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat Idul Fitri Saat Pandemi COVID-19 - Kajian Islam Tarakan
Fatwa MUI tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat Idul Fitri Saat Pandemi COVID-19 - Kajian Islam Tarakan
Fatwa MUI tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat Idul Fitri Saat Pandemi COVID-19 - Kajian Islam Tarakan
Fatwa MUI tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat Idul Fitri Saat Pandemi COVID-19 - Kajian Islam Tarakan
Fatwa MUI tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat Idul Fitri Saat Pandemi COVID-19 - Kajian Islam Tarakan
Fatwa MUI tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat Idul Fitri Saat Pandemi COVID-19 - Kajian Islam Tarakan
Fatwa MUI tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat Idul Fitri Saat Pandemi COVID-19 - Kajian Islam Tarakan
Fatwa MUI tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat Idul Fitri Saat Pandemi COVID-19 - Kajian Islam Tarakan
Fatwa MUI tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat Idul Fitri Saat Pandemi COVID-19 - Kajian Islam Tarakan
Fatwa MUI tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat Idul Fitri Saat Pandemi COVID-19 - Kajian Islam Tarakan

Download File [https://mui.or.id/wp-content/uploads/2020/05/Fatwa-MUI-No-28-Tahun-2020-tentang-Panduan-Kaifiat-Takbir-dan-Shalat-Idul-Fitri-saat-Covid-19.pdf]

Sumber Website : https://mui.or.id/produk/fatwa/28023/fatwa-mui-no-28-tahun-2020-tentang-panduan-kaifiat-takbir-dan-shalat-idul-fitri-saat-covid-19/

Anting-Anting Untuk Anak Perempuan

ANTING-ANTING UNTUK ANAK PEREMPUAN

Yai ana izin bertanya, apa hukum memakaikan anting-anting ketelinga anak perempuan ? Begitu juga misalnya istri kita menggunakan anting-anting untuk dipakai dirumah apakah dibolehkan ?

✔️Jawaban

Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq.

Hukum menindik telinga perempuan dengan tujuan berhias dengan memakai anting-anting di telinga hukumnya boleh menurut mayoritas ulama.[1]Berdasarkan keumuman dalil firman Allah ta’ala :

ุฃَูˆَู…َู†ْ ูŠُู†َุดَّุฃُ ูِูŠ ุงู„ْุญِู„ْูŠَุฉِ ูˆَู‡ُูˆَ ูِูŠ ุงู„ْุฎِุตَุงู…ِ ุบَูŠْุฑُ ู…ُุจِูŠْู†ٍ

“Dan apakah patut (dijadikan sebagai anak Allah) seorang (wanita) yang dibesarkan dengan berperhiasan, sedangkan ia tidak dapat memberi alasan yang terang ketika berbantah-bantahan?” (Qs. Az Zukhruf: 18)

Pada ayat di atas menunjukkan bahwa sudah menjadi hal yang wajar kalau anak perempuan itu memakai perhiasan. Oleh karena itu, Allah ta’alamenyebutkan kebiasaan tersebut tanpa melarangnya.

Dalil lainnya adalah  hadits dari ummul mukminin ‘Aisyah radhiallahu’anha dalam mana kala beliau bertutut tentang sebelas wanita yang berkumpul membicarakan suami-suami mereka. Beliau menyebut perkataan Ummu Zar’in:

ุฃَู†َุงุณَ ู…ِู†ْ ุญُู„ِูŠٍّ ุฃُุฐُู†َูŠَّ

“Suamiku memberikanku perhiasan pada telingaku.” (HR. Bukhari)

Sisi pendalilannya, disebutkannya cerita diatas oleh Aisyah menunjukkan bahwa itu adalah perkara yang dibolehkan.

Dalil selanjutnya adalah sebuah riwayat dari Jabir bin ‘Abdillah dalam kisah shalat hari raya : “.. Maka para wanita menyedekahkan perhiasan-perhiasannya, mereka meletakkan anting-anting dan cincinnya pada baju Bilal.” (HR. Al Bukhari)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Cukuplah perbuatan dan persetujuan (para sahabat) akan hal tersebut sebagai dalil diperbolehkannya masalah ini. Kalau hal itu dilarang, tentu dijelaskan dalam Al Qur’an dan As Sunnah”.[2]

⭐Ditindik saat bayi

Namun sebagian ulama dari kalangan madzhab Hanafiyah dan Hanabilah memakruhkan bila pemasangan anting itu saat anak perempuan masih bayi.[3]  Dari kalangan Syafi’iyyah yang menyatakan kemakruhan hal ini diantaranya adalah al imam Ghazali, karena termasuk perkara yang menyakiti.[4]

⭐Kesimpulannya

Hukum memakai anting-anting boleh menurut mayoritas ulama, namun sebaiknya menghindari menindik anak perempuan ketika masih bayi.

๐Ÿ“šWallahu a’lam.©️AST
___
[1] Al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah (11/272).
[2] Tuhfatul Maudud, hal. 178).
[3] Hasyiah Ibn Abidin (5/249), Fath al Qadir (10/331).
[4] Nihayatul Muhtaj (4/296).

Sumber WAG : SUBULANA I

Barokah

Barokah - Kajian Islam Tarakan
BAROKAH
by  Fathoni Muhammad

ุฑุฌู„ ูŠุชุญุงูˆุฑ ู…ุน ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ุจู† ุฃุฏู‡ู… ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡

Seorang laki-laki (selanjutnya di-inisial sebagai R) berdialog dengan Kyai Ibrohim bin Adham (selanjutnya di-inisial sebagai KI) Rahimahullah tentang Barokah.

ู‚ุงู„ ุงู„ุฑุฌู„ : ู„ูŠุณ ู‡ู†ุงูƒ ุดูŠุก ุงุณู…ู‡ ุจุฑูƒุฉ!!

R : Barokah itu tidak ada..!!

ูุฑุฏ ุนู„ูŠู‡ ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ุจู† ุฃุฏู‡ู… : ุฃุฑุฃูŠุช ุงู„ูƒู„ุงุจ ูˆุงู„ุฃุบู†ุงู…؟

KI : Kamu pernah lihat anjing dan kambing..?.

ู‚ุงู„ ุงู„ุฑุฌู„ : ู†ุนู…

R : Iya.

ู‚ุงู„ ุงุจู† ุฃุฏู‡ู… : ุฃูŠู‡ู… ุชู†ุฌุจ ุฃูƒุซุฑ؟

KI : Mana yang tingkat kelahirannya lebih banyak?.

ู‚ุงู„ ุงู„ุฑุฌู„ : ุงู„ูƒู„ุงุจ ุชู†ุฌุจ ุฅู„ู‰ٰ ุงู„ุณุจุนุฉ
ูˆุฃู…ุง ุงู„ุฃุบู†ุงู… ูุชู†ุฌุจ ุฅู„ู‰ٰ ุซู„ุงุซุฉ.

R : Tentunya anjing, karena bisa melahirkan sampai tujuh. Sementara kambing paling banyak hanya tiga.

ู‚ุงู„ ุงุจู† ุฃุฏู‡ู… : ู„ูˆ ู†ุธุฑุช ุญูˆู„ูƒ ุฃูŠู‡ู…ุง ุฃูƒุซุฑ؟

KI : Mana yang kelihatan lebih banyak?.

ู‚ุงู„ ุงู„ุฑุฌู„ : ุฃุฑู‰ ุงู„ุฃุบู†ุงู… ุฃูƒุซุฑ

R : Saya lihat yang banyak adalah kambing.

ู‚ุงู„ ุฅุจู† ุฃุฏู‡ู… : ุฃู„ูŠุณ ู‡ูŠ ุงู„ุชูŠ ุชุฐุจุญ ูˆุชู†ุชู‚ุต ูˆูŠู‚ู„ ุนุฏุฏู‡ุง؟

KI : Bukankah kambing banyak disembelih, sehingga populasinya berkurang ?!.

ู‚ุงู„ ุงู„ุฑุฌู„ : ู†ุนู…

R : Iya.

ู‚ุงู„ ุงุจู† ุฃุฏู‡ู… : ู‡ٰุฐู‡ ู‡ูŠ ุงู„ุจุฑูƒุฉ!!!

KI : Itulah barokah..!

ู‚ุงู„ ุงู„ุฑุฌู„ : ูˆู„ู…ุงุฐุง ูŠูƒูˆู† ุฐู„ูƒ؟!
(ู„ู…ุงุฐุง ุงุณุชุญู‚ุช ุงู„ุฃุบู†ุงู… ุงู„ุจุฑูƒุฉ ุฏูˆู† ุงู„ูƒู„ุงุจ)

R : Kenapa kambing ber-barokah dan anjing tidak?!

ู‚ุงู„ ุงุจู† ุฃุฏู‡ู… : ู„ุฃู† ุงู„ุฃุบู†ุงู… ุชุฑู‚ุฏ ุฃูˆู„ ุงู„ู„ูŠู„ ูˆุชู‚ูˆู… ู‚ุจู„ ุงู„ูุฌุฑ ูุชุฏุฑูƒ ูˆู‚ุช ุงู„ุฑุญู…ุฉ ูุชู†ุฒู„ ุนู„ูŠู‡ุง ุงู„ุจุฑูƒุฉ ، ูˆุฃู…ุง ุงู„ูƒู„ุงุจ ุชู†ุจุญ ุทูˆู„ ุงู„ู„ูŠู„ ูุฅุฐุง ุฏَู†ุง ูˆู‚ุช ุงู„ูุฌุฑ ู‡ุฌุณุช ูˆู†ุงู…ุช ูˆูŠููˆุช ุนู„ูŠู‡ุง ูˆู‚ุช ุงู„ุฑุญู…ุฉ ูุชู†ุฒุน ู…ู†ู‡ุง ุงู„ุจุฑูƒุฉ.

KI : Karena kambing tidur di awal malam dan bangun menjelang shubuh; waktu turunnya rahmat Allah sehingga ia mendapatkan barokah. Sedang anjing menggonggong sepanjang malam; saat jelang shubuh ia mengantuk, lalu tidur sehingga tidak mendapati waktu rahmat dan barokah tercerabut darinya.

* Mari renungi melekan, obrolan, jagongan, cangkru'an dan tongkrongan kita saban malam; apakah ber-barokah?!. Pastinya, jika ambyar maka itulah yang menyebabkan hilangnya keberkahan dalam diri, harta, keluarga kita dan lainnya.

Allah berfirman:

ูˆู‚ุฑุขู† ุงู„ูุฌุฑ ุฅู† ู‚ุฑุขู† ุงู„ูุฌุฑ ูƒุงู† ู…ุดู‡ูˆุฏุง

"Dan bacaan di waktu fajar (yakni salat subuh) sesungguhnya bacaan di waktu fajar/salat subuh itu disaksikan". (QS. Al-Isro': 78)

Barokah - Kajian Islam Tarakan

Sumber FB : Fathoni Muhammad
24 April 2020·

Umat Islam dan Ilmu Kedokteran 2

Umat Islam dan Ilmu Kedokteran 2 - Kajian Islam Tarakan
Umat Islam dan Ilmu Kedokteran #2
By. Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Barangkali karena agak lama ilmu kedokteran ditinggalkan oleh umat Islam, akibatnya kita jadi tidak update dengan perkembangan terbarunya.

Seolah terkesan ilmu agama berada di satu lembah dan ilmu kedokteran di lembah lainnya. Bahkan tidak sedikit dari umat Islam yang malah berposisi memusuhi ilmu kedokteran modern.

Ada ada saja alasannya. Misalnya dianggap ilmu kedokteran modern milik orang kafir, karena selama ini berkembang di Barat dan bukan di negeri muslim.

Seringkali juga dianggap ilmu kedokteran itu ilmu sekuler yang bertentangan dengan Quran dan Sunnah serta hukum-hukum syariah. Mungkin karena kebanyakan dokter di negara Barat itu non muslim.

Lalu banyak tokoh muslim yang mencoba mengais-ngais identitas ilmu kedokteran Islam, namun terjebak dengan masa lalu. Akhirnya malah jadi mengungkit sejarah kedokteran di masa kenabian, untuk diberi stempel bahwa kedokteran Islam itu sebatas hanya yang ada di zaman nabi saja.

Kitab catatan sejarah tentang bagaimana realitas kedokteran di zaman nabi akhirnya malah disalah-pahami sebagai kedokteran Islam itu sendiri.

Tentu cara berpikir seperti ini pada gilirannya agak memojokkan agama Islam. Seolah ilmu kedokteran dalam konsep Islam itu sudah tertutup pintu ijtihadnya. Berhenti hanya pada batas kedokteran yang dipraktekkan oleh Nabi SAW saja. Kalau bukan Nabi yang melakukannya, bukan kedokteran Islam.

Padahal semua ilmu, bahkan termasuk ilmu agama sendiri, tidak berhenti sampai Nabi SAW wafat. Malah ilmu-ilmu keislaman berkembangnya setelah Nabi SAW wafat.

Contoh sederhana ilmu rasm Al-Quran, baru diinisiasi di zaman Utsman, terus berkembang dengan ditambahi titik dan harokat oleh Abul Aswad Ad-Duali.

Ilmu Nahwu Sharaf itu malah ditemukannya ratusan tahun kemudian. Tokohnya malah bukan orang Arab semacam Sibawaih dan lainnya.

Ilmu fiqih, ilmu ushul fiqih, ilmu tafsir dan ilmu kritik hadits, juga sama saja. Semua mengalami proses perkembangan dan tidak pernah berhenti dari mengalami penyempurnaan.

Lalu kok bisa-bisanya orang membatasi ilmu kedokteran Islam hanya sebatas yang dilakukan oleh Nabi SAW saja?

Kitab-kitab berjudul Tibbun Nabawi yang begitu banyak disusun para ulama, akhirnya hanya dijadikan alat untuk membatasi perkembangan ilmu kedokteran Islam.

Tentu ini jadi aneh sekali.

Padahal sesungguhnya kitab-kitab itu bagian dari gugus ilmu sejarah, tarikh dan sirah nabawiyah, yang mengkhususkan catatan kehidupan Nabi SAW terkait masalah penyakit dan pengobatan. Itu buku sejarah, bukan buku kedokteran. Jangan ngarang ilmu kedokteran Islam pakai kitab itu.

Sebagaimana catatan sejarah penulisan wahyu di masa kenabian, saat itu benar sekali bahwa 43 orang shahabat penulis wahyu itu menuliskan ayat-ayat Al-Quran di atas kulit, batu, tulang atau pelepah kurma.

Itu sekedar catatan sejarah, jangan diubah menjadi hukum dan peratura. Jangan ngatur bahwa sampai kiamat tidak boleh menulis mushaf kecuali di atas benda-benda itu.

Lho kok jadi aneh?

Maka ilmu kedokteran Islam itu seharusnya juga tidak boleh dibatasi hanya sebatas yang dilakukan oleh Nabi SAW pada masanya.

Seharusnya ikut perkembangan zaman. Dan identitas keislamannya justru seharusnya ditemukan dari sisi update terbarunya dan keunggulannya dalam mengatasi masalah penyakit terbaru. Bukan bagaimana merujuk ke zaman Nabi.

Tibbun Nabawi itu bagian dari Sirah Nabawiyah, bukan buku yang berisi Ilmu Kedokteran Islam.

Sumber FB : Ahmad Sarwat
1 Mei 2020 ·

Sedetikpun Jangan Pernah Lupa Pada Allah

Sedetikpun Jangan Pernah Lupa Pada Allah - Qoutes - Kajian Islam Tarakan
Jangan Pernah Lupa Pada Allah SWT walau Satu Detik...

Sedetikpun Jangan Pernah Lupa Pada Allah

"Sedetik saja kita tidak engingat Allah, maka sejatinya kita telah lalai, terputus dariNya, dan itu adalah bentuk tercerabutnya tauhid dari hari. Semakin dalam kita mengetahui sifat-sifat keagungan Allah, maka semakin nampak kirang Ibadah yang kita lakukan selama ini."

KH. Agus Salim
Ketua Lembaga Dakwah PBNU

Sumber FB : Lembaga Dakwah PBNU
28 April pukul 23.05 · 

Doa Penjagaan Untuk Rumah

DOA PENJAGAAN UNTUK RUMAH

Ya Allah, penuhilah rumah kami dengan ampunan dan ‘afiyah

Ya Allah, hindarkan musibah dan berbagai penyebab celaka dari rumah kami

Ya Allah, jadikan di rumah kami di sore dan pagi hari

Untuk berdzikir, bersyukur, dan beribadah dengan baik untuk-Mu

Ya Allah, jangan biarkan di rumah kami dan rumah umat Islam

ada keresahan, kecuali Engkau hilangkan;

ada musibah, kecuali Engkau sirnakan;

ada yang sakit, kecuali Engkau sembuhkan;

ada yang terkena cobaan, kecuali Engkau beri afiyah;

ada yang pergi, kecuali Engkau kembalikan;

ada anak, kecuali Engkau beri keshalihan;

ada orang tua, kecuali Engkau beri bimbingan;

ada hutang, kecuali Engkau tunaikan;

ada yang kurang, kecuali Engkau sempurnakan;

Berkat RAHMAT, KEMURAHAN, DAN ANUGERAH-MU

WAHAI DZAT YANG MAHA PEMURAH

Sumber FB : Faris Khoirul Anam
25 Maret pukul 13.10 ·

Umat Islam dan Ilmu Kedokteran

Umat Islam dan Ilmu Kedokteran - Kajian Islam Tarakan
Umat Islam dan Ilmu Kedokteran
by. Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Ilmu kedokteran itu memang tidak secara eksplisit disebutkan di dalam Al-Quran. Namun para ulama menyebutkan bahwa ayat ini menyiratkan ilmu kedoteran :

ูˆَู…َู†ْ ุฃَุญْูŠَุงู‡َุง ูَูƒَุฃَู†َّู…َุง ุฃَุญْูŠَุง ุงู„ู†َّุงุณَ ุฌَู…ِูŠุนًุง

Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (QS. Al-Maidah : 32)

Memelihara kehidupan manusia itu secara teknis adalah memelihara kesehatannya lewat ilmu pengetahuan di bidang medis. Al-Quran memuliakan mereka yang ahli di bidang medis ini dengan sebuah persamaan : menyelamatkan satu nyawa senilai dengan menyelamatkan nyawa seluruh manusia.

Al-Imam Asy-Syafi'i punya kalimat yang terkenal sebagaimana dikutip oleh Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam Nubala ketika menuliskan biografinya :

ู„ุง ุฃุนู„ู… ุนู„ู…ًุง ุจุนุฏ ุงู„ุญู„ุงู„ ูˆุงู„ุญุฑุงู…، ุฃู†ุจู„ ู…ู† ุงู„ุทุจ ุฅู„ุง ุฃู† ุฃู‡ู„ ุงู„ูƒุชุงุจ ู‚ุฏ ุบู„ุจูˆู†ุง ุนู„ูŠู‡

Aku tidak mengenal ilmu yang lebih muliah setelah ilmu halal-haram (ilmu fiqih) dari ilmu kedokteran.

Namun demikian, Beliau sedikit mengisyaratkan bahwa kebanyakan umat Islam kurang memperhatikan perntingnya ilmu itu. Maka beliau sambung dengan kalimat ini :

ุฅู„ุง ุฃู† ุฃู‡ู„ ุงู„ูƒุชุงุจ ู‚ุฏ ุบู„ุจูˆู†ุง ุนู„ูŠู‡
Sayangnya ahli kitab telah mengalahkan kita.

ุถูŠุนูˆุง ุซู„ุซ ุงู„ุนู„ู…، ูˆูˆูƒู„ูˆู‡ ุฅู„ู‰ ุงู„ูŠู‡ูˆุฏ ูˆุงู„ู†ุตุงุฑู‰

Umat Islam telah kehilangan 1/3 ilmu (ilmu kedokrtean) dan menyerahkannya kepada yahudi dan nashara.

Salah satu bukti kurang majunya umat Islam di dunia kedokteran adalah kurangnya kesadaran akan hakikat virus covid-19 dan prosedur penanganannya. Banyak sekali yang menganggap enteng, hingga melalaikan ketentuan untuk menjaga jarak, pemakaian masker, termasuk cuci tangan dan mandi.

Sisanya masih tidak percaya data-data yang faktual angka korban, serta masih saja mempertentangkan ilmu kedokteran dengan dalil-dalil agama.

Karya para ulama di bidang fiqih kedokteran pun masih terbilang langka. Sehingga sumber rujukan bagi umat Islam masih belum memadai. Dalam jajaran bab-bab fiqih karya para ulama klasik pun kita tidak mendapatkan bab yang secara khusus bicara tentang kedokteran.

Dari situlah kemudian saya berpikir bahwa 18 jilid Seri Fiqih Kehidupan (SFK) harus ada memuat tentang tema kedokteran. Dan itu saya tempatkan pada jilid ke-13.

Lebih detailnya bisa dibrowse di link berikut ini : https://www.rumahfiqih.com/buku.php?id=13

Sumber FB : Ahmad Sarwat
1 Mei 2020 ·

Doa Kajian

Buku Kajian