Kemahabesaran Allah Dalam Perspektif Asy'ariyah dan Pendaku Salafiyah

Kemahabesaran Allah Dalam Perspektif Asy'ariyah dan Pendaku Salafiyah - Artikel Kajian Islam Tarakan
KEMAHABESARAN ALLAH DALAM PERSPEKTIF ASY'ARIYAH DAN PENDAKU SALAFIYAH

Oleh: Abdul Wahab Ahmad

Allah Maha Besar, semua kaum muslimin sepakat hal ini. Akan tetapi mereka berselisih bagaimana memaknainya. Para ulama dari kalangan Ahlussunnah Wal Jama'ah (Asy'ariyah dan Maturidiyah) memahaminya dengan cara yang semestinya, sesuai dengan keagungan Allah Ta'ala tanpa mencampurnya dengan sifat-sifat kekurangan seperti adanya batasan ukuran. Tetapi tidak demikian bagi pendaku Salafi. Selengkapnya bisa dilihat dari penjelasan berikut:

1. Perspektif Ahlussunnah Wal Jama'ah:

 Dalam perspektif mereka, sebagaiamana saya berulang kali tuliskan, Allah bukanlah jisim (susunan materi) sehingga membahas Allah jangan seperti membahas materi. Kemahabesaran Allah adalah salah satu sifat Allah yang mutlak dimiliki-Nya tanpa perlu perbandingan rasio dengan makhluk manapun. Allah sudah Maha Besar sejak waktu belum berjalan dan seluruh alam tercipta, tetap Maha Besar saat makhluk-makhluk tercipta dan tetap Maha Besar hingga kapanpun. Kemahabesaran Allah tidak dimaknai sebagai ukuran fisik sebagaimana kita memaknai seluruh hal di jagat raya ini. 

 Bila kita membahas besarnya materi, maka suatu materi dibilang besar ketika ukurannya lebih banyak menghabiskan ruang dibanding materi lain. Dari sinilah muncul rasio perbandingan antara besarnya materi yang satu dengan materi yang lain. Kita bisa membandingkan rasio antara besarnya mikroba dengan besarnya manusia, antara manusia dan planet bumi, antara planet bumi dengan sistem tata surya, antara sistem tata surya dengan galaksi, antara ini dan itu. Demikianlah cara kita membahas kebesaran seluruh materi di dunia ini; dari perspektif ukuran fisik.

 Namun apa mulianya besar dalam arti ukuran fisik? Bukankah semua ukuran itu merupakan batasan? Pertanyaan ini esensial untuk ditanyakan ketika membahas soal "besar". Kita tahu bahwa besar secara fisik tak lebih dari sekedar volume saja tanpa ada kemuliaannya, apalagi hak untuk disembah. Kalau sesuatu berhak diagungkan dan disembah hanya karena ukurannya yang besar, maka tentu mikroba dibenarkan bila menyembah manusia. Manusia juga dibenarkan ketika menyembah matahari dan bintang-bintang sebab hal itu memang jauh lebih besar atau dengan kata lain maha besar rasio ukurannya dari manusia. Tapi sayangnya semua ini salah mutlak menurut al-Qur'an dan Hadis yang memvonis penyembah segala yang ukurannya besar itu sebagai sesat. Sebesar apapun sebuah entitas, ia tetaplah terbatas dan ada ujungnya. 

 Bila kita memaknai kebesaran Tuhan dengan perspektif material ini, maka sama saja kita mengatakan bahwa Allah punya batasan ukuran dari ujung ke ujung. Kalau Allah punya batasan ukuran lalu siapa yang membatasi ukurannya? Bila yang membatasi ukurannya adalah entitas lain berarti Allah punya sekutu, bahkan punya Tuhan yang membentuknya. Bila yang membatasi adalah diri-Nya sendiri maka berarti Allah berevolusi. Bila berevolusi berarti pastilah bukan Tuhan.

 Ibnu Mandhur, seorang pakar bahasa terkemuka dalam kitab Lisanul Arab-nya mengartikan hadd (batasan) sebagai berikut:

 لسان العرب  (3/ 140)

 وَمُنْتَهَى كُلِّ شَيْءٍ: حَدُّه

 "Ujung segala sesuatu adalah had/batasannya". 

 Apakah Allah punya hadd? Ahlusussunnah Wal Jama'ah sepakat mengatakan: Tidak!. 

 Simak penjelasan Imam Ahmad, sebagaimana dinukil oleh Syaikh Abu Fadl at-Tamimi yang menjadi salah satu Imam Hanabilah di masanya, yang berkata:

 والله تعالى لا يلحقه تغير ولا تبدل ولا تلحقه الحدود قبل خلق العرش ولا بعد خلق العرش ، وكان ينكر- الإمام أحمد – على من يقول إن الله في كل مكان بذاته لأن الأمكنة كلها محدودة. (إعتقاد الإمام أحمد بن حنبل: 41)

 "Allah Ta'ala tak mengalami perubahan dan pergantian. Juga TAK MEMPUNYAI BATASAN-BATASAN UKURAN sebelum terciptanya Arasy dan tidak juga setelah terciptanya Arasy. Imam Ahmad juga mengingkari orang yang berkata bahwa Dzat Allah di segala tempat SEBAB SEMUA TEMPAT ADALAH TERBATAS UKURAN".

 Senada dengan itu, Imam at-Thahawi ini yang merupakan rujukan standar Asy'ariyah juga menegaskan:

 وتعالى عن الحدود والغايات ، والأركان والأعضاء والأدوات ، لا تحويه الجهات كسائر المبتدعات

 "Maha suci Allah dari adanya batasan-batasan ukuran dan ujung-ujung, juga dari adanya unsur-unsur dan anggota badan. Dia tak diliputi berbagai arah seperti halnya seluruh hal yang baru".

 Banyak sekali para ulama yang mengatakan seperti di atas yang terlalu panjang apabila di nukil semuanya. Di antara mereka ada Imam ar-Razi, al-Baji, Ibnul Arabi, Ibnul Jauzi, al-Qurthuby, al-Baidhawi, an-Nawawi dan lain-lain yang merupakan rujukan umat.

 Lalu apabila kemahabesaran Allah tidak dipahami dalam perspektif ukuran fisik yang pasti terbatas, lalu bagaimana Ahlussunnah memahaminya?.  Berikut penjelasan Imam al-Ghazali dalam al-Maqshad al-Asna tentang makna sifat al-Kabir:

 المقصد الأسنى (ص: 109)

 الْكَبِير هُوَ ذُو الْكِبْرِيَاء والكبرياء عبارَة عَن كَمَال الذَّات وأعني بِكَمَال الذَّات كَمَال الْوُجُود 

 "Al-Kabir (Maha Besar) maksudnya adalah yang mempunyai keagungan (kibriya'). Keagungan sendiri adalah uangkapan bagi kesempurnaan dzat. Yang saya maksud kesempurnaan Dzat adalah kesempurnaan eksistensi".

 Kesempurnaan Dzat atau eksistensi sebagaimana diterangkan Imam al-Ghazali itu mencakup dua pengertian, yakni:

 a. Al-Kabir dalam arti sudah lama ada. Dalam konteks manusia, mereka disebut kabir ketika wujudnya sudah lama atau dengan kata lain sudah tua. Dalam makna inilah istilah "syaikhun kabir" dalam al-Qur'an 28:23, maksudnya orang yang sudah tua. Adapun ketika membahas Allah, maka makna ini berarti setara dengan sifat Qadim atau al-Awwal, yakni keberadaannya jauh sekali sudah ada sebelum semua keberadaan yang lain sebab keberadaan Allah tidak punya awal mula. Dalam makna ini, Allah jelas adalah Akbar (paling kabir) dari semua hal di jagat ini, dalam arti paling lama keberadaannya.

 b. Al-Kabir dalam arti hebat. Istilah ini dipakai dalam peristilahan berbagai bahasa di dunia. Istilah "orang besar" dalam bahasa indonesia maksudnya adalah orang hebat. Demikian juga dengan istilah "big boss" dalam bahasa Inggris. Besar di sini sama sekali tak ada kaitannya dengan ukuran fisik. Dalam makna ini, Allah juga Akbar (paling kabir) dari semua hal yang ada, dalam artian paling hebat dan paling berkuasa.

Demikianlah makna kemahabesaran Allah dalam perspektif Aswaja. Makna ini jelas sekali dan sama sekali tak punya cacat, baik secara nash, secara bahasa atau secara akal. 

2. Perspektif Pendaku Salafi.

 Berbeda dengan perspektif sebelumnya, kemahabesaran Allah dalam perspektif Pendaku Salafi adalah dalam hal ukuran. Mereka tak mengingkari kemahabesaran Allah dalam perspektif kemuliaan tapi mereka juga menetapkan kemahabesaran secara fisik. Dengan demikian, maka wajar sekali kalau kita dapatkan redaksi-redaksi mereka tentang kemahabesaran Allah sesalu dalam perspektif rasio perbandingan antara ukuran besar barang ini dan barang itu dan Allah jauh lebih besar dari semua barang itu. Dalam pemahaman seperti ini, Allah mempunyai batasan ukuran (hadd). Mungkin banyak yang mengernyitkan dahi ketika membaca ini, tapi inilah faktanya dan mereka pun mengakuinya dengan bangga, merasa logis dan menyangka bahwa inilah fitrah. (Terus terang saya jadi ingat episode Upin-Ipin dan Ultraman Ribut yang biasa dilihat anak saya. Cuma Upin-Ipin gak nyembah Ultraman yang besar dan hebat itu. Entah ini karena Upin-Ipin yang pintar atau bagaimana...).

 Simak penjelasan Ibnu Taymiyah yang menukil Utsman bin Sa'id ad-Darimy dalam kitab andalannya yang menjadi salah satu rujukan utama para pendaku Salafi berikut:

 بيان تلبيس الجهمية في تأسيس بدعهم الكلامية (2/ 607)

 فمن ادعى أنه ليس لله حد فقد رد القرآن وادعى أنه لاشيء لأن الله تعالى وصف حد مكانه في مواضع كثيرة

 "Siapapun yang mengklaim bahwa Allah tak punya batasan ukuran, maka dia telah menolak al-Qur'an dan mengklaim bahwa Allah itu tak ada, sebab Allah sendiri menyifati adanya BATASAN UKURAN TEMPATNYA di banyak tempat".

 Di kitab yang sama, dia berkata:

 بيان تلبيس الجهمية في تأسيس بدعهم الكلامية (3/ 591)

 وقد ثبت عن أئمة السلف أنهم قالوا لله حد وأن ذلك لايعلمه غيره وأنه مباين لخلقه

 "Sudah valid dari para Imam Salaf bahwa mereka berkata bahwa ALLAH PUNYA BATASAN UKURAN dan batasan itu sendiri tak diketahui oleh selan-Nya dan bahwasanya Allah terpisah dari makhluk-Nya".

 Itulah Ibnu Taymiyah yang meyakini bahwa Allah punya hadd yang tak diketahui siapapun kecuali Allah itu sendiri. Soal klaim bahwa itu perkataan para imam salaf dapat kita abaikan seperti halnya klaimnya yang lain yang hanya dipercayai oleh mereka yang minim literasi. Kalaupun mau dicari, salaf yang dimaksud tak lain hanyalah mereka yang terpapar paham mujassimah atau tak mengerti konsekuensi perkataan mereka. Tak ada masalah kalaupun berbeda dengan mereka yang sejatinya MEMANG BUKAN SUMBER AKIDAH sejak awalnya. Biasanya, mereka mentakwil ucapan para imam salaf yang menafikan adanya hadd bagi Allah seperti di atas dengan penjelasan bahwa yang dinafikan sebenarnya adalah hadd yang diketahui makhluk. Adapun hadd yang hanya Allah sendiri yang tahu maka pasti ada sebab kalau tak ada batasan ukurannya berarti tak wujud sama sekali. Inilah takwilan mereka yang sebenarnya sebuah plintiran atas ucapan ulama salaf. Mereka ini membahas eksistensi Tuhan seolah sedang membahas eksistensi benda.

 Mereka juga menyangka apabila menetapkan batasan ukuran yang kecil bagi Allah berarti itu sebuah ketidaklayakan yang mustahil bagi Allah. Tapi kalau batasan ukurannya besar sekali maka itu layak bagi Allah. Lalu kira-kira sebesar apa batasan ukuran Allah itu menurut mereka? Simak penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, tokoh besar Pendaku Salafi kontemporer, berikut ini:

 القول المفيد على كتاب التوحيد (2/ 359)

 وأما حديث أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: " إن الله خلق آدم على صورته " ووجه الله لا يماثل أوجه المخلوقين، فيجاب عنه: بأنه لا يراد به صورة تماثل صورة الرب عز وجل بإجماع المسلمين والعقلاء، لأن الله عز وجل وسع كرسيه السماوات والأرض، والسماوات والأرضون كلها بالنسبة للكرسي -موضع القدمين- كحلقة ألقيت في فلاة من الأرض، وفضل العرش على الكرسي كفضل الفلاة على هذه الحلقة; فما ظنك برب العالمين؟ فلا أحد يحيط به وصفا ولا تخييلا، ومن هذا وصفه لا يمكن أن يكون على صورة آدم ستون ذراعا.

 "Adapun hadits Abu Hurairah bahwa nabi  bersabda: " Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dalam bentuknya" sedangkan wajah Allah tidak menyerupai wajah-wajah makhluk, maka hadits itu dijawab:

 Sesungguhnya yang dimaksud Hadits itu bukan bentuk yang mirip dengan bentuk Tuhan Azza Wa Jalla, sesuai dengan kesepakatan kaum muslimin dan cendekiawan sebab Allah Azza wa Jalla kursinya saja memuat seluruh langit dan bumi sedangkan seluruh langit dan bumi dibandingkan dengan kursi--tempat kedua kaki--seperti sebuah lingkaran kecil yang dilempar ke hamparan tanah yang luas. Sisa luas arasy atas kursi seperti sisa hamparan tanah yang luas itu dari lingkaran tersebut. MAKA APA YANG KAU KIRA DENGAN [UKURAN] TUHAN SEMESTA ALAM? Maka tak ada satu pun yang meliputi sifatnya ataupun mengkhayalkannya. OKNUM YANG SIFATNYA SEPERTI INI TAK MUNGKIN ATAS BENTUK ADAM YANG 60 HASTA."

 Syaikh Utsaimin di atas bicara soal rasio ukuran seluruh langit dan bumi dibandingkan dengan kursi, Arasy dan Tuhan. Baginya tak mungkin Allah hanya berukuran 60 hasta seperti Nabi Adam, meskipun ada hadis yang dhahirnya seolah mengatakan bahwa Nabi Adam diciptakan sesuai bentuk Tuhan. (hadis itu sendiri sebenarnya bukan begitu maksudnya). Jadi, dalam benak pendaku salafi, batasan ukuran Tuhan itu besar sekali. Manusia tak dapat mengjangkaunya secara utuh bukan karena Tuhan itu sendiri tak punya batasan tetapi karena batasannya terlalu besar. Sebentar… sebentar…. Ini sebenarnya membahas Tuhan yang Maha Berbeda dari selain-Nya atau membahas raksasa yang ukurannya super ultra mega besar?

 Yang membuat mereka berpikiran demikian sebenarnya karena inkonsistensi saja, sama seperti kasus lainnya. Ketika ada hadis yang mengatakan bahwa hati seorang hamba ada di antara jari-jari Tuhan, maka makna jari-jari Tuhan itu wajib ditakwil. Tapi ketika ada hadis yang mengatakan bahwa langit dan bumi ada di jari-jari Tuhan, maka mereka haramkan takwil lalu membayangkan kalau ukuran jari-Nya ultra besar. Beginilah inkonsistensi mereka dalam memahami hadis-hadis lainnya dalam bab ini yang sama sekali tanpa panduan ayat atau hadis yang menyuruhnya begitu. Lalu mereka berkata kalau mereka menyifati Allah seperti Allah menyifati dirinya sendiri. Suatu kebohongan besar atas nama Allah. Maha suci Allah dari apa yang mereka sifati. 

 Semoga bermanfaat.

Sumber FB : Abdul Wahab Ahmad
26 April 2018 · 

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter