Vonis Kafir

Vonis Kafir - Kajian islam Tarakan

Vonis Kafir

Oleh : Ahmad Sarwat, Lc.MA

Bagaimana mekanisme untuk menetapkan bahwa seseorang telah ikut aliran sesat dan telah kafir dari Islam?

Kalau pembahasan macam hal-hal yang membatalkan syahadat atau menggugurkan keislaman, pastinya kita semua orang sudah tahu. 

Tapi kan tidak bisa main langsung jatuhkan vonis kafir begitu saja. Karena ada mekanismenya. 

Sama saja, kita semua juga sudah tahu batasan zina adalah masuknya ujung kemaluan laki-laki ke dalam kemaluan wanita hingga lenyap. 

Istilahnya dalam bab fiqih disebut dengan ghiyabul hasyafah (غياب الحشفة).

Tapi apakah seseorang bisa begitu saja dituduh berzina gara-gara pacaran dan berduaan di tempat sepi? Apakah langsung dirajam?

Tentu saja tidak 

Karena semua itu ada mekanismenya, yaitu lewat pengadilan atau mahkamah syar'iyah. Harus ada 4 saksi atau lewat pengakuan (iqrar) langsung dari yang bersangkutan.

Nah untuk masalah vonis kafir begitu juga. Orang yang terdakwa mau divonis kafir itu kudu dihadirkan di persidangan. Tidak boleh diadili secara in absentia, apalagi pengadilan jalanan, atau pengadilan versi medsos.

Mengapa begitu ribet?

Karena pada dasarnya kita dilarang main vonis kafir. Tapi kalau memang sesat betulan, ya kudu diadili kasus per kasus secara hukum di pengadilan betulan.

Misalnya ada tokoh tertentu yang terindikasi kafir karena telah berpaham xyz. Untuk itu harus dijalankan sidang mahkamah syariah khusus untuk membuktikan apakah dia sudah melewati batas kekafirannya. 

Dalam sidang itu dilontarkan tuduhan kepada terdakwa dengan alat minimal dua alat bukt. Bisa rekaman suara, video atau tulisan serta saksi-saksi. 

Lalu anggaplah misalnya si terdakwa tidak bisa mengelak atas dakwaan, karena semua tuduhan itu sudah terbukti. Bahkan juga banyak saksinya.

Apakah bisa langsung divonis kafir? 

Ya nggak lah. Sabar dulu jangan grasa-grusu.

Langkahnya kemudian pak hakim akan meminta terdakwa untuk mengubah pandangannya. Istilahnya itu istitabah (استتابة) alias diminta bertaubat. 

Sekalian juga diberi ancaman kalau tidak bertaubat dari kesesatannya, nanti bisa divonis kafir. 

Lalu diajaklah dialog dan bicara panjang lebar dengan ulama yang pakar di bidangnya. Karena boleh jadi dia hanya korban disebabkan keawaman dan keluguanya saja. 

Yang kayak gini kan sebenarnya banyak sekali. 

Kalau perlu dimediasi juga oleh tokoh ulama yang mantan pengikut aliran sesat itu juga. Jadi ketemu dengan mantan seniornya. Sehingga tahu persis dimana letak kekeliruan aliran itu. 

Setelah pikirannya terbuka dan sadar atas semua kekeliruannya, tulis lah pernyataan panjang kali lebar. Misalnya dengan menceritakan kembali kesalahannya, lalu mengoreksi diri dan berjanji  tidak akan menyebarkan lagi ajaran sesatnya.

Hasilnya dites oleh pakar yang lain dengan pertanyaan yang bisa menilai apakah dia cuma berpura-pura (taqiyah) atau serius sudah berubah pikiran.

Bisa saja dipertemukan secara diam-diam dengan sosok yang berpura-pura masih seide dengan pemikiran lama. Dipancing-pancing tanpa sadar. 

Dari situ bisa dinilai apakah masih tersisa pemikiran lamanya atau sudah steril 100%. 

Kalau lulus tes itu, Pak Hakim kemudian menerima taubatnya, mencabut tuduhan kafir dan membersihkan namanya.

Selesai . . .

oOo

Bagaimana kalau dia tetap ngeyel dan tetap maunya kafir aja terus?

Ya dikasih waktu lagi. Dimediasi lagi. Disadarkan lagi. Minimal diisolasi dari pengaruh buruk kelompoknya. 

Pilihannya bisa saja dengan jalan diasingkan tanpa boleh dijenguk. Tidak boleh berkomunikasi dengan dunia luar. 

Kecuali hanya dengan tokoh motivator yang bisa mencuci kembali otaknya. 

Rekaman video para tokoh seniornya yang sudah taubat kan bisa tiap hari dijejalkan. Itu namanya brainwashing. 

NOTE

Namun dalam banyak kasus, umumnya korban aliran sesat ini karena motif ekonomi dan lemahnya basik ilmu agama.

Maka pe-er besarnya, pertama adalah bagaimana menyediakan lapangan kerja yang layak bagi para mantan itu. 

Kedua, karena kurang pelajaran ilmu agama yang mumpuni, maka perlu diback-up secara keilmuan dengan serius.

(Habis)

Sumber FB Ustadz : Ahmad Sarwat

Kajian Favorit  · 24 Juni 2021· 

baca juga : Hadits Untuk Mengkafirkan

©Terima kasih telah membaca kajian sunnah dengan judul "Vonis Kafir". Semoga betah di Kajian Islam Tarakan® Silahkan share atau bagikan kajian islam Vonis Kafir dengan menekan tombol dibawah ini:
SHARE WhatsApp

Kajian Islam Terbaru